Jangan anggap remeh soal remeh yang tidak kita anggap. Itulah alasan kenapa soal-soal yang amat berbahaya berasal dari soal-soal yang tak pernah kita duga.
Saya juga tidak pernah di hari itu yang penuh cerita sukses, hampir saja gugur gara-gara soal ini: lupa pipis. Hari itu ada sebuah pertemuan yang membiat hidup saya semangat: ketemu teman kolega untuk sebuah pekerjaan yang amat saya sukai. Mulai dari perjalanan, sampai pertemuan lennya lancar, pertemuananya.
Seluruh pencapaian hari itu rasanya sempurna. Datang dijemput pulang diantar, dan kerja dihargai. Tapi persoalannnya, sejak pagi saat di jemput sampai siang saat di antara pulang, saya hanya sibuk memikirkan pekerjaan, dan lupa bh setelah semua terlambat. Saat saya mulai kebelet itu, saya sudah berada di sebuah kemacetan yang amat parah di jalan tol menuju bandara.
Tanda-tanda kurang beres mulai terasa sejak mobil merangkak menuju tol. Untuk cuma sekedar menjangkau pintu tol saja sudah demikian pelan, cuma seinci demi gerbang tol, derita ini sudah bulat sempurna. Saya sudah tak perlu lagi menyembunyikan derita saya di hadapan teman yang dengan penuh rasa hormat mengemudi di sebelah saya.
Sejak berangkat sampai pulang, kami berdua bercerita soal yang serba besar-besar. Soal politik, soal asungguh tak enak hati ketika dari sebuah tema yang heroik mendakak saja harus berbelok pada pernyataan: ‘’Maaf ada toliet tidak ya?’’
Teman itu melirik saya sekilas. Cukup cuma sekali dan ia segera menangkap seluruh penderitaan. Karena cerita selanjutnya kami berdua menderita jalan. Dan kedua-duanya sama-sama buntu. ‘’Apa kita keluar tol?’’ ia bertanya. Pertanyaan yang tak ada perlunya karena si penanya sendiri tak tahu jawabannya. Masuk atau keluar tak banyak artinya karena bahkan cuma untuk keluar, kami dihadapkan pada.
Tetapi untuk meneruskan perjalanan dan mencari kemungkinan di depan, sama gelapnya. Kemacetan itu benar-benar membunuh harapan untuk menjangkau toilet Kendaraan merayap setindak demi setindak dan celah kosong untuk berhenti tidak ada. Kalau kami nekat berhenti akan menimbulkan kegemparan karena hanya akan menimbulkan kemarahan pihak yang di belakang.
Saya sudah melirik-lirik di dalam mobil dikosongkan dan Anda pasti tahu untuk apa. Celakanya itu pun tidak ada.Tetapi ketika segalanya sudah tak tertahankan dan hampir saja saya jebol begitu di dalam mobil. Ini kebelet pipis terparah selama nebaknya. Tapi intinya, jangan pernah remehkan soal yang tampaknya remeh. Kedua, ini kabar baiknya: selalu ada pertolongan yang terduga: kantong plastik itu misalnya.
(PrieGS/)
Sabtu, November 05, 2011
Minggu, Mei 01, 2011
Menjemput Anak
Sudah lama menjemput anak pulang sekolah saya masukkan sebagai bagian penting kegiatan begitu waktunya tersedia. Makin lama saya makin menikmati pekerjaan ini karena kelengkapan nilainya. Ada nilai senang-senang belaka, seperti misalnya ketemu temanyang di antaranya memang membuat saya senang memandangnya. Ada yang karena kecantikannya, ada yang karena kecerdasannya, ada yang karena naluri keibuannya yang mengesankan saat menuntun putra-putri mereka.
Ada pula nilai yang agak serius, misalnya soal pendidikan. Sebetulnya berat sekali mengantar dan menjemput anak itu setiap kali karena kerepotan teknisnya terus meninggi dari hari ke hari. Lalu lintas makin tambah padat saja dan tempat parkir makin tak ada. Setelah repot mengantar, lalu repot membiayai karena biaya sekolah juga makin meninggi.
Tapi serepot-repotnya mengantar dan membiayai, pasti jauh lebih repot lagi adalah anak-anak itu sendiri sebagai pihak yang harus menjalani. Tas mereka berat sekali, pelajaran mereka banyak sekali dan jam sekolah mereka panjang sekali. Jam yang panjang, di dalam tahun yang lama, jadi betapa lelahnya. Apa jadinya jika sudah begini berlelah-lelah, bermahal-mahal dan berlama-lama, cuma keliru kurikulumnya.
Karenanya sambil mengamati anak-anak dengan tas punggung yang berat itu, saya membayangkan sekolah dengan rasa cemas dan rindu. Rindu, bahwa hingga kini belum tergantikan. Tetapi apa jadinya, jika lembaga sepenitng ini, misalnya, harus menanggung setidaknya dua soal prinsipil. Pertama metodologi, kedua kejujuran.
Soal yang pertama itu saja sampai sekarang belum rampung diperdebatkan. Bagi para awam mudah saja mengujinya, apapun alasannya, sepanjang masih rendah produktivitas sebuah bangsa,i bagi masa depan mereka. Dan ini yang terpenting, adakah anak-anak telah menjadi objek industri dengan pendidikan sebagi kedoknya?
Karena jika cuma soal metodologi, jika cuma soal kurikulum yang keliru, tidak perlu ada yang ditakutkan sepanjang semua itu sekadar risiko dari sebuah pembelajaran. Kekeliruan bagi sebuah upaya, adalah kewajaran. Jauh bedanya, dengan kekeliruan hasil dari sebuah ketidak jujuran.
Celakanya di Indonesia ini, ketidak jujuran itu bisa merambah ke mana-mana bahkan sampai ke pendidikan dan peribadatan. Karenanya, saya sempatkan berdoa: semoga sekolah, tempat anak-anak kita menggadaikan waktunya yang panjang itu, dijaga dari aneka perilaku yang tidak pada tempatnya.
(Prie GS/bnol)
Ada pula nilai yang agak serius, misalnya soal pendidikan. Sebetulnya berat sekali mengantar dan menjemput anak itu setiap kali karena kerepotan teknisnya terus meninggi dari hari ke hari. Lalu lintas makin tambah padat saja dan tempat parkir makin tak ada. Setelah repot mengantar, lalu repot membiayai karena biaya sekolah juga makin meninggi.
Tapi serepot-repotnya mengantar dan membiayai, pasti jauh lebih repot lagi adalah anak-anak itu sendiri sebagai pihak yang harus menjalani. Tas mereka berat sekali, pelajaran mereka banyak sekali dan jam sekolah mereka panjang sekali. Jam yang panjang, di dalam tahun yang lama, jadi betapa lelahnya. Apa jadinya jika sudah begini berlelah-lelah, bermahal-mahal dan berlama-lama, cuma keliru kurikulumnya.
Karenanya sambil mengamati anak-anak dengan tas punggung yang berat itu, saya membayangkan sekolah dengan rasa cemas dan rindu. Rindu, bahwa hingga kini belum tergantikan. Tetapi apa jadinya, jika lembaga sepenitng ini, misalnya, harus menanggung setidaknya dua soal prinsipil. Pertama metodologi, kedua kejujuran.
Soal yang pertama itu saja sampai sekarang belum rampung diperdebatkan. Bagi para awam mudah saja mengujinya, apapun alasannya, sepanjang masih rendah produktivitas sebuah bangsa,i bagi masa depan mereka. Dan ini yang terpenting, adakah anak-anak telah menjadi objek industri dengan pendidikan sebagi kedoknya?
Karena jika cuma soal metodologi, jika cuma soal kurikulum yang keliru, tidak perlu ada yang ditakutkan sepanjang semua itu sekadar risiko dari sebuah pembelajaran. Kekeliruan bagi sebuah upaya, adalah kewajaran. Jauh bedanya, dengan kekeliruan hasil dari sebuah ketidak jujuran.
Celakanya di Indonesia ini, ketidak jujuran itu bisa merambah ke mana-mana bahkan sampai ke pendidikan dan peribadatan. Karenanya, saya sempatkan berdoa: semoga sekolah, tempat anak-anak kita menggadaikan waktunya yang panjang itu, dijaga dari aneka perilaku yang tidak pada tempatnya.
(Prie GS/bnol)
Anak-anak Melukis Tugu Muda
Sebuah panitia lomba gambar memacak tema ''Semarang Kota Atlas'' bagi peserta. Hasilnya, hampir semua peserta menggambar Tugu Muda. Fakta ini memicu beberapa penafsiran, tapi paling menonjol adalah tingginya naluri keseragaman.
Setidaknya sampai saat ini, bakat untuk menjadi seragam masih menjadi ancaman yang mencemaskan. Pendidikan menuju seragam itu bahkan telah kita mulai begitu dini, lewat anak-anak pula. Itulah kenapa kehidupan sosial kita pernah begitu kesepian. Sepi imajinasi, sepi inisiatif dan sepi eksperimen. Berimajinasi menjadi sesuatu yang tak biasa. Berinisiatif menjadi kegiatan yang langka.
Di dalam kehidupan sehari-hari, akibat dari itu semua sungguh terasa. Sebagai penonton film, kita pernah sangat rendah diri jika harus nonton film Indonesia. ''Aktingnya wagu, ceritanya mudah diduga,'' begitu komentar yang biasa. Komentar ini telah dibikin umum, karena kelemahan film kita bukan cuma akting dan cerita. Tapi bagaimana mungkin menuntut yang lain sedang soal cerita saja belum rampung. Tapi bagaimana soal cerita hendak dibereskan sedang pelajaran berimajinasi tak pernah diberikan.
Maka jika harus bercerita kita hanya bisa menghafal konvensi yang sudah ada tapi gagal bereksplorasi. Jika musim ''Ratapan Anak Iri'' tiba, seluruh cerita di Indonesia akan penuh ratapan dan air mata. Jika cerita hantu tengah digemari, hantu-hantu akan langsung bergentayangan di seluruh negeri. Seniman lalu tak beda dengan petani tadah hujan yang bekerja atas dasar perintah musim. Di luar musim yang ada, ia tak berani lagi bekerja karena tak biasa menyemai musim yang lain.
Maka jika harus berakting, akting itu harus serba ngotot dan tegang. Kita belum merasa menangis jika belum berteriak dan memelototkan mata segede bola, belum merasa kejam jika belum berbuat sadistis. Lalu pernahlah kita memiliki tradisi cerita sedih yang fantastis. Sudah menjadi anak tiri, cacat pula. Sudah cacat, sial pula. Ia masih harus dijahili teman sebaya, tertabrak bus, kejatuhan tangga, dituduh maling, diuber-uber.... Pendek kata, kita belum merasa bahwa si anak itu menderita jika belum kita siapkan penderitaan yang spektakuler, jika langit belum runtuh menimpa kepalanya.
Apapun profesi yang kita pilih selalu muncul rangsangan untuk menjadi peniru. Jika seorang musisi menemukan campur sari, penemuan itu langsung menjadi milik bersama, dinikmati sebagai pesta. Kredo profesi kita karenanya ialah: biarlah orang lain menemukan, tapi kitalah pemakainya. Biarlah orang lain yang bekerja, tapi kita jua penikmatnya. Jadi wajar jika para penemu, pioner dan kaum peneliti menjadi mahkluk paranoid. Belum pula ia hendak menggubah lagu, telah keburu terbayang wajah pembajak kasetnya. Belum pula ia hendak menemukan sesuatu, telah keburu tegang oleh hebatnya pelanggaran hak cipta. Jadilah mereka orang yang tidak cuma menjadi peragu, tapi juga penakut dan akhirnya malah tak siap berbuat apa-apa.
Dalam cuaca yang menakutkan semacam itu, rasa aman adalah kebutuhan utama. Dan rasa aman itu diperolrh justru setelah seseorang menjadi pembajak, penjiplak, pengikut dan tampil seragam.
Maka anak-anak yang diminta melukis Kota Semarang pun harus membayangkan Tugu Muda, membayangkan Monas jika harus melukis Jakarta. Tentu bayangan itu tidak keliru. Tapi bahwa mereka melakukan bayangan yang sama adalah sebuah persoalan. Tentu anak-anak itu juga bukan pihak yang keliru karena bisa apa mereka tanpa para pembisik, pendesain dan penggemar keseragaman yaitu: kita! (03)
(PrieGS/)
Setidaknya sampai saat ini, bakat untuk menjadi seragam masih menjadi ancaman yang mencemaskan. Pendidikan menuju seragam itu bahkan telah kita mulai begitu dini, lewat anak-anak pula. Itulah kenapa kehidupan sosial kita pernah begitu kesepian. Sepi imajinasi, sepi inisiatif dan sepi eksperimen. Berimajinasi menjadi sesuatu yang tak biasa. Berinisiatif menjadi kegiatan yang langka.
Di dalam kehidupan sehari-hari, akibat dari itu semua sungguh terasa. Sebagai penonton film, kita pernah sangat rendah diri jika harus nonton film Indonesia. ''Aktingnya wagu, ceritanya mudah diduga,'' begitu komentar yang biasa. Komentar ini telah dibikin umum, karena kelemahan film kita bukan cuma akting dan cerita. Tapi bagaimana mungkin menuntut yang lain sedang soal cerita saja belum rampung. Tapi bagaimana soal cerita hendak dibereskan sedang pelajaran berimajinasi tak pernah diberikan.
Maka jika harus bercerita kita hanya bisa menghafal konvensi yang sudah ada tapi gagal bereksplorasi. Jika musim ''Ratapan Anak Iri'' tiba, seluruh cerita di Indonesia akan penuh ratapan dan air mata. Jika cerita hantu tengah digemari, hantu-hantu akan langsung bergentayangan di seluruh negeri. Seniman lalu tak beda dengan petani tadah hujan yang bekerja atas dasar perintah musim. Di luar musim yang ada, ia tak berani lagi bekerja karena tak biasa menyemai musim yang lain.
Maka jika harus berakting, akting itu harus serba ngotot dan tegang. Kita belum merasa menangis jika belum berteriak dan memelototkan mata segede bola, belum merasa kejam jika belum berbuat sadistis. Lalu pernahlah kita memiliki tradisi cerita sedih yang fantastis. Sudah menjadi anak tiri, cacat pula. Sudah cacat, sial pula. Ia masih harus dijahili teman sebaya, tertabrak bus, kejatuhan tangga, dituduh maling, diuber-uber.... Pendek kata, kita belum merasa bahwa si anak itu menderita jika belum kita siapkan penderitaan yang spektakuler, jika langit belum runtuh menimpa kepalanya.
Apapun profesi yang kita pilih selalu muncul rangsangan untuk menjadi peniru. Jika seorang musisi menemukan campur sari, penemuan itu langsung menjadi milik bersama, dinikmati sebagai pesta. Kredo profesi kita karenanya ialah: biarlah orang lain menemukan, tapi kitalah pemakainya. Biarlah orang lain yang bekerja, tapi kita jua penikmatnya. Jadi wajar jika para penemu, pioner dan kaum peneliti menjadi mahkluk paranoid. Belum pula ia hendak menggubah lagu, telah keburu terbayang wajah pembajak kasetnya. Belum pula ia hendak menemukan sesuatu, telah keburu tegang oleh hebatnya pelanggaran hak cipta. Jadilah mereka orang yang tidak cuma menjadi peragu, tapi juga penakut dan akhirnya malah tak siap berbuat apa-apa.
Dalam cuaca yang menakutkan semacam itu, rasa aman adalah kebutuhan utama. Dan rasa aman itu diperolrh justru setelah seseorang menjadi pembajak, penjiplak, pengikut dan tampil seragam.
Maka anak-anak yang diminta melukis Kota Semarang pun harus membayangkan Tugu Muda, membayangkan Monas jika harus melukis Jakarta. Tentu bayangan itu tidak keliru. Tapi bahwa mereka melakukan bayangan yang sama adalah sebuah persoalan. Tentu anak-anak itu juga bukan pihak yang keliru karena bisa apa mereka tanpa para pembisik, pendesain dan penggemar keseragaman yaitu: kita! (03)
(PrieGS/)
Jumat, September 10, 2010
SMS Lebaran
Salah satu kegiatan Lebaran yang mustahil diabaikan adalah membalas dan mengirim SMS Lebaran. Luar biasa peran SMS ini dalam menyiapkan paket lebaran yang praktis, efisien dan murah.
Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan. Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan kita bisa menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang pergi ke lain benua. ‘’Saya sedang di Roma,’’ balas seorang teman cuma dalam hitungan menit.
Tapi begitulah galibnya sebuah berkah, ia sekaligus juga menggandeng musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah demikian menyita kegiatan kita. Karena praktis, gampanglah kita melakukannya. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita habis untuk melakukannya.
Maka tak aneh, jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter menemui kerabat dan saudara, tapi setelah ketemu, kerjaan kita cuma memencet-mencet keypad handphone belaka. Suami mencet, anak-anak mencet, istri mencet, maka lupalah kita pada saudara jauh yang tengah berada di depan mata. Tapi ooo, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone itu, ia mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.
Karena begitu murah SMS ini maka begitu gampang kita mengirim dan membalasnya. Karena gampang jadi sering, karena sering jadi selalu. Karena selalu jadi mahal. Karena mahal boroslah hidup kita hanya karena tipuan sang murah itu. Malah begitu murahnya SMS ini, sehingga ia bisa menghasut penonton seantero negara untuk mengirim dukungan pada pemenang lomba. Maka SMS yang murah ini sanggup mendatangkan keuntungan yang besoaaaaar sekali jumlahnya. Hebatnya, kita yang keluar biaya, para pemenang lomba itu pula yang mendapat hadiahnya. Jadi karena jebakan kesan hemat, hidup kita malah menjadi boros. Karena jebakan murah, hidup kita menjadi mahal.
Begitu efektif SMS ini sebagai ganti silaturahmi. Begitu efektifnya sehingga berlaku rumus satu ucapan untuk semua. Satume, satu ucapan rame-rame. Maka ucapan yang sampai ke saya adalah juga ucapan yang sampai ke Anda. Anda dan saya sama saja. Yang saya pun menjadi kita. Dan di dalam kita, unsur saya menjadi tak penting lagi. Maka ketika kita menerima ucapan generik semacam ini, ada perasaan bahwa kita cuma sebagai kita, bukan saya. Kita hanya menjadi elemen dari yang banyak. Tidak ada yang khusus dari kita.
Maka setiap kali kita mendengar dering SMS di handphone kita, kita tidak tegang lagi. Ah paling begitu-begitu juga. Kita tersanjung atas kiriman SMS dari para sahabat, kerabat dan saudara itu. Kita mencintai mereka dan mereka pun pasti mencintai kita. Tapi sebagaimana layaknya orang yang mencintai, ia menolak untuk dimadu. Jika ucapan yang saya terima adalah juga ucapan dikirim ke banyak manusia, apa boleh buat, saya terpaksa merasakan dilema perasaan itu: bahagia karena dicintai sekaligus sedih karena dimadu.
Maka ketika di antara berondonggan SMS itu masih terselip ada nama kita di dalamnya, ada SMS yang ditulis khusus untuk kita, ia akan segera menjadi SMS yang berbeda. Ia dekat, khusus, dekat dan penuh cinta. Ia sungguh SMS yang menggoda kita untuk segera membalas dengan kekhususan pula. Maka jika engkau mencintai saudaramu, kenapa engkau tak menggenapi cintamu dengan mengetik namanya dalam teleponmu. Karena hanya dengan menambahkan nama yang tak seberapa itu, engkau akan mendapatkan cinta saudaramu dengan kualitas yang tak pernah engkau duga sebelumnya.
(PrieGS/)
Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan. Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan kita bisa menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang pergi ke lain benua. ‘’Saya sedang di Roma,’’ balas seorang teman cuma dalam hitungan menit.
Tapi begitulah galibnya sebuah berkah, ia sekaligus juga menggandeng musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah demikian menyita kegiatan kita. Karena praktis, gampanglah kita melakukannya. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita habis untuk melakukannya.
Maka tak aneh, jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter menemui kerabat dan saudara, tapi setelah ketemu, kerjaan kita cuma memencet-mencet keypad handphone belaka. Suami mencet, anak-anak mencet, istri mencet, maka lupalah kita pada saudara jauh yang tengah berada di depan mata. Tapi ooo, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone itu, ia mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.
Karena begitu murah SMS ini maka begitu gampang kita mengirim dan membalasnya. Karena gampang jadi sering, karena sering jadi selalu. Karena selalu jadi mahal. Karena mahal boroslah hidup kita hanya karena tipuan sang murah itu. Malah begitu murahnya SMS ini, sehingga ia bisa menghasut penonton seantero negara untuk mengirim dukungan pada pemenang lomba. Maka SMS yang murah ini sanggup mendatangkan keuntungan yang besoaaaaar sekali jumlahnya. Hebatnya, kita yang keluar biaya, para pemenang lomba itu pula yang mendapat hadiahnya. Jadi karena jebakan kesan hemat, hidup kita malah menjadi boros. Karena jebakan murah, hidup kita menjadi mahal.
Begitu efektif SMS ini sebagai ganti silaturahmi. Begitu efektifnya sehingga berlaku rumus satu ucapan untuk semua. Satume, satu ucapan rame-rame. Maka ucapan yang sampai ke saya adalah juga ucapan yang sampai ke Anda. Anda dan saya sama saja. Yang saya pun menjadi kita. Dan di dalam kita, unsur saya menjadi tak penting lagi. Maka ketika kita menerima ucapan generik semacam ini, ada perasaan bahwa kita cuma sebagai kita, bukan saya. Kita hanya menjadi elemen dari yang banyak. Tidak ada yang khusus dari kita.
Maka setiap kali kita mendengar dering SMS di handphone kita, kita tidak tegang lagi. Ah paling begitu-begitu juga. Kita tersanjung atas kiriman SMS dari para sahabat, kerabat dan saudara itu. Kita mencintai mereka dan mereka pun pasti mencintai kita. Tapi sebagaimana layaknya orang yang mencintai, ia menolak untuk dimadu. Jika ucapan yang saya terima adalah juga ucapan dikirim ke banyak manusia, apa boleh buat, saya terpaksa merasakan dilema perasaan itu: bahagia karena dicintai sekaligus sedih karena dimadu.
Maka ketika di antara berondonggan SMS itu masih terselip ada nama kita di dalamnya, ada SMS yang ditulis khusus untuk kita, ia akan segera menjadi SMS yang berbeda. Ia dekat, khusus, dekat dan penuh cinta. Ia sungguh SMS yang menggoda kita untuk segera membalas dengan kekhususan pula. Maka jika engkau mencintai saudaramu, kenapa engkau tak menggenapi cintamu dengan mengetik namanya dalam teleponmu. Karena hanya dengan menambahkan nama yang tak seberapa itu, engkau akan mendapatkan cinta saudaramu dengan kualitas yang tak pernah engkau duga sebelumnya.
(PrieGS/)
Minggu, September 05, 2010
Candu Diri Sendiri
Ternyata lebih gampang membangun gedung yang terbakar katimbang menangkap pembakarnya. Itulah yang dialami Pemerintah Kota Semarang yang telah meresmikan Gedung Setda belum lama ini. Rp 11,7 miliar dihabiskan untuk biaya renovasi. Sekitar 100 perajin dari Jepara didatangkan untuk menggarap ukiran kayunya. Sementara si pembakar entah sembunyi di mana. Pemkot telah menyerahkan urusannya pada polisi, polisi menyerahkan pada kejaksaan dan Kepala Kejaksaan mengaku belum banyak tahu karena ia adalah pejabat baru.
Fakta di atas bisa mengundang berbagai penafsiran. Tapi salah satu yang menarik ialah tentang tafsir yang menunjukkan betapa dalam kemiskinan pun kita lebih bersemangat membangun katimbang mencegah perusak pembangunan. Lebih gampang mengganti lampu-pampu taman yang pecah katimbang menangkap pemecahnya. Lebih baik mengaspal jalan kembali katimbang mencegah penggalian lobang yang bisa terjadi setiap kali.
Jalan pikiran kita dalam memecahkan masalah tampaknya memang lebih suka "berpikir ke depan" katimbang mengusut hal-hal yang ada di belakang. Maka jika publik mempersoalkan pemasangan papan reklame di kawasan terlarang, seorang pejabat bisa berkata: "Sudahlah kenapa harus dibesarkan-besarkan. Mari kita berpikir saja soal masa depan."
Jika penggalian harta karun kemudian memancing keributan, seorang petinggi bisa mengatakan: "Yang bersangkutan sudah dimarahi habis-habisan. Sudah minta maaf. Maka sudahlah." Jika seorang kedapatan korupsi dan publik ramai-ramai meminta keadilan hukum, seorang tokoh penting bisa berkata: "Kenapa pula harus ada hukuman. Toh duitnya sudah dikembalikan."
Kita seperti manusia yang diprogram hanya untuk bergerak maju dan berpikiran maju. Artinya, jika seorang pejabat tengah berkuasa, yang menyita pikirannya bukan program pembangunan secara terpadu, melainkan pembangunan menurut kepentinganku dan mumpung masih dalam periodeku. Soal kerepotan periode di belakangku bukan urusanku. Maka wajar jika hasil pembangunan bisa demikian ruwet.
Ada cukup bukti tentang kebijakan yang terbukti keliru. Ada tempat rekreasi yang dibuat hanya untuk tidak laku. Ada kebun binatang yang dipindah lokasi hanya untuk mati suri. Ada tebing-tebing dikepras yang membuat dataran tak memiliki tekstur tanah lagi. Ada restoran yang didirikan di atas ruang publik. Ada lapangan yang telah membawa kegembiraan dijual untuk lokasi bangunan....
Semua jenis kebijakan itu adalah indikasi betapa bersemangat kita ini dalam memikirkan masa depan: masa depan kita sendiri. Semangat itu bahkan telah melebar begitu jauh sampai ke sopir-sopir angkutan yang bisa berhenti dan ngetem sembarangan tak peduli bikin macet jalan. Sampai ke pedagang kaki lima yang menggasak trotoar dan merugikan para pejalan kaki. Sampai ke para pengusaha yang berhasil mengeruk kredit raksasa untuk dibikin macet secara sengaja. Sampai ke pemilik bank yang membobol banknya sendiri untuk dilarikan ke luar negeri....
Semua dari kita ternyata adalah pemikir masa depan yang hebat: masa depan kita sendiri. Maka terjadilah tabrakan kepentingan yang begitu hebat dengan akibat yang jelas: kebangkrutan Indonesia. Sementara dalam situasi bangkrut begini pembelaan atas diri sendiri itu terus saja berlanjut. Solar kembali langka karena punya potensi diselundupkan ke luar negeri dan dijual ilegal ke pihak industri. Makin tampak segar sayur-mayur Indonesia justru makin menakutkan karena dugaan banyaknya olesan pestisida.
Kita benar-benar manusia yang begitu mandiri karena di luar diri sendiri dianggap tak ada kepentingan lain lagi. Itulah kenapa di masa sulit, kita masih sempat membakar bendera tetangga dan merobohkan pagar kedutaaanya segala.
Tindakan ini sangat bisa dimengerti karena prioritas kita memang serba kepada diri sendiri. Maka demi menyalurkan kemarahan ini kita bisa menganggap remeh risiko bahwa orang lain juga bisa ganti membakar bendera, ganti bisa menganiaya dan mengangkat senjata. Perkara akibat dari ini semua akan timbul kerusakan hebat, apalah yang aneh dari kerusakan toh sudah sejak lama kita biasa melakukannya.
Maka ketersingungan diri sendiri ini harus dipertajam sedemikian rupa. Bahwa hukuman cambuk atas TKI itu memang tidak manusiawi. Maklum, kita adalah bangsa yang punya banyak cadangan kemanusiaan. Terbukti untuk menangkap seorang buron saja bisa butuh waktu demikan lama karena rasa tak tega. Mengadili kasus korupsi memang harus hati-hati karena tak enak hati. Apapun bentuk kesalahan seseorang harus segera mendapat pengampunan jika permintaan maaf sudah dilontarkan. Sebesar apapun sebuah masalah harus segera dikecilkan lewat anjuran "jangan dibesar-besarkan".
Sungguh mengagumkan cara kita mengabaikan masa silam. Itulah kenapa dunia hukum kita terkenal sangat lambat karena hukum memang selalu mengurus masa silam. Pengggerak hukum semacam itu logis jika kehilangan interes karena pikirannya memang selalu tersita ke masa depan: masa depannya sendiri. Akibatnya ada pemutus keadilan malah bisa ganti diadili, diusut kekayaannya, terancam dipecat atau minimal dimutasi karena diduga melakukan perbuatan tercela.
Tapi kalau mau tegas, pengadil yang mengadili petugas keadilan itu juga harus diadili karena memberi fatwa pengadilan yang tidak adil. Pengertian "melakukan perbuatan tercela" itu adalah kesalahan yang sangat tidak jelas bentuknya. Dan ketidakjelasan ini bisa saja disengaja sepanjang yang menjadi alasan memang demi nama baik korps sendiri, demi toleransi kolega sendiri. Jadi, kata "sendiri" itu begitu hebat perannya hingga bisa membuat orang lain tidak ada dan kepentingannya boleh dirusak begitu saja. (03)
(PrieGS/)
Fakta di atas bisa mengundang berbagai penafsiran. Tapi salah satu yang menarik ialah tentang tafsir yang menunjukkan betapa dalam kemiskinan pun kita lebih bersemangat membangun katimbang mencegah perusak pembangunan. Lebih gampang mengganti lampu-pampu taman yang pecah katimbang menangkap pemecahnya. Lebih baik mengaspal jalan kembali katimbang mencegah penggalian lobang yang bisa terjadi setiap kali.
Jalan pikiran kita dalam memecahkan masalah tampaknya memang lebih suka "berpikir ke depan" katimbang mengusut hal-hal yang ada di belakang. Maka jika publik mempersoalkan pemasangan papan reklame di kawasan terlarang, seorang pejabat bisa berkata: "Sudahlah kenapa harus dibesarkan-besarkan. Mari kita berpikir saja soal masa depan."
Jika penggalian harta karun kemudian memancing keributan, seorang petinggi bisa mengatakan: "Yang bersangkutan sudah dimarahi habis-habisan. Sudah minta maaf. Maka sudahlah." Jika seorang kedapatan korupsi dan publik ramai-ramai meminta keadilan hukum, seorang tokoh penting bisa berkata: "Kenapa pula harus ada hukuman. Toh duitnya sudah dikembalikan."
Kita seperti manusia yang diprogram hanya untuk bergerak maju dan berpikiran maju. Artinya, jika seorang pejabat tengah berkuasa, yang menyita pikirannya bukan program pembangunan secara terpadu, melainkan pembangunan menurut kepentinganku dan mumpung masih dalam periodeku. Soal kerepotan periode di belakangku bukan urusanku. Maka wajar jika hasil pembangunan bisa demikian ruwet.
Ada cukup bukti tentang kebijakan yang terbukti keliru. Ada tempat rekreasi yang dibuat hanya untuk tidak laku. Ada kebun binatang yang dipindah lokasi hanya untuk mati suri. Ada tebing-tebing dikepras yang membuat dataran tak memiliki tekstur tanah lagi. Ada restoran yang didirikan di atas ruang publik. Ada lapangan yang telah membawa kegembiraan dijual untuk lokasi bangunan....
Semua jenis kebijakan itu adalah indikasi betapa bersemangat kita ini dalam memikirkan masa depan: masa depan kita sendiri. Semangat itu bahkan telah melebar begitu jauh sampai ke sopir-sopir angkutan yang bisa berhenti dan ngetem sembarangan tak peduli bikin macet jalan. Sampai ke pedagang kaki lima yang menggasak trotoar dan merugikan para pejalan kaki. Sampai ke para pengusaha yang berhasil mengeruk kredit raksasa untuk dibikin macet secara sengaja. Sampai ke pemilik bank yang membobol banknya sendiri untuk dilarikan ke luar negeri....
Semua dari kita ternyata adalah pemikir masa depan yang hebat: masa depan kita sendiri. Maka terjadilah tabrakan kepentingan yang begitu hebat dengan akibat yang jelas: kebangkrutan Indonesia. Sementara dalam situasi bangkrut begini pembelaan atas diri sendiri itu terus saja berlanjut. Solar kembali langka karena punya potensi diselundupkan ke luar negeri dan dijual ilegal ke pihak industri. Makin tampak segar sayur-mayur Indonesia justru makin menakutkan karena dugaan banyaknya olesan pestisida.
Kita benar-benar manusia yang begitu mandiri karena di luar diri sendiri dianggap tak ada kepentingan lain lagi. Itulah kenapa di masa sulit, kita masih sempat membakar bendera tetangga dan merobohkan pagar kedutaaanya segala.
Tindakan ini sangat bisa dimengerti karena prioritas kita memang serba kepada diri sendiri. Maka demi menyalurkan kemarahan ini kita bisa menganggap remeh risiko bahwa orang lain juga bisa ganti membakar bendera, ganti bisa menganiaya dan mengangkat senjata. Perkara akibat dari ini semua akan timbul kerusakan hebat, apalah yang aneh dari kerusakan toh sudah sejak lama kita biasa melakukannya.
Maka ketersingungan diri sendiri ini harus dipertajam sedemikian rupa. Bahwa hukuman cambuk atas TKI itu memang tidak manusiawi. Maklum, kita adalah bangsa yang punya banyak cadangan kemanusiaan. Terbukti untuk menangkap seorang buron saja bisa butuh waktu demikan lama karena rasa tak tega. Mengadili kasus korupsi memang harus hati-hati karena tak enak hati. Apapun bentuk kesalahan seseorang harus segera mendapat pengampunan jika permintaan maaf sudah dilontarkan. Sebesar apapun sebuah masalah harus segera dikecilkan lewat anjuran "jangan dibesar-besarkan".
Sungguh mengagumkan cara kita mengabaikan masa silam. Itulah kenapa dunia hukum kita terkenal sangat lambat karena hukum memang selalu mengurus masa silam. Pengggerak hukum semacam itu logis jika kehilangan interes karena pikirannya memang selalu tersita ke masa depan: masa depannya sendiri. Akibatnya ada pemutus keadilan malah bisa ganti diadili, diusut kekayaannya, terancam dipecat atau minimal dimutasi karena diduga melakukan perbuatan tercela.
Tapi kalau mau tegas, pengadil yang mengadili petugas keadilan itu juga harus diadili karena memberi fatwa pengadilan yang tidak adil. Pengertian "melakukan perbuatan tercela" itu adalah kesalahan yang sangat tidak jelas bentuknya. Dan ketidakjelasan ini bisa saja disengaja sepanjang yang menjadi alasan memang demi nama baik korps sendiri, demi toleransi kolega sendiri. Jadi, kata "sendiri" itu begitu hebat perannya hingga bisa membuat orang lain tidak ada dan kepentingannya boleh dirusak begitu saja. (03)
(PrieGS/)
Langgan:
Entri (Atom)





