Sabtu, April 28, 2007

Kejengkelan Di Rumahku

Aku amat mencintai rumahku karena di sanalah terkumpul semua kecintaanku. Tetapi bukan rumah sebagai sumber cinta yang hendak aku bicarakan, melainkan bahwa rumah ternyata juga sebagai sumber kejengkelan. Karena ternyata apa yang kita cintai adalah apa yang juga mendatangkan kejengkelkan.

Lalu bagaimana mengelola perasaan jengkel ini jika ia datang dari pihak yang kita cintai? Belajar cinta pada kejengekelan inilah yang kemudian yang menjadi pekerjaan rumah terbaruku di hari-hari ini.

Di rumah selalu saja ada soal-soal yang menurut kita keliru. Barang yang salah letak, nonton televisi yang salah waktu hingga masakan istri yang salah bumbu. Daftar kejengkelan ini bisa bertambah panjang jika kita telah memasukkan pula kesalahan-kesalahan pembantu.

Apalagi bersama kami tinggal seorang pembantu yang seluruh perilakunya mengundang kami untuk segera memecatnya. Pembantu ini begitu sopannya pada kami, begitu takutnya pada kami, tetapi adalah pihak yang begitu membangkangnya pada perintah-perintah kami. Jadi bagaimana mungkin ada seorang yang begitu takut, tetapi begitu penuh pembangkangan.

Jika kami meminta dia jangan membuang barang-barang sembarangan tanpa lapor dulu, ia selalu mengiyakan, tetapi selalu melakukan apa yang kami larang. Selalu ada saja barang-barang kami yang hilang karena agresivitas pembantu kami ini dalam melakukan pembersihan. Rumah memang menjadi bersih, termasuk bersih dari barang-barang yang aku butuhkan.

Kami nyaris putus asa menghadapi pembangkangan yang sopan ini. Suatu kali kami sepakat untuk memberhentikannya ketimbang setiap hari makan hati dan dibuat gila oleh kebandelannya. Tetapi pembantu ini seperti memiliki sihir gaib. Setiap kali ia datang kami memang sudah jengkel luar biasa, bahkan baru melihat kemunculannya. Kedatangannya selalu cuma berarti membongkar kembali tumpukan kejengkelan kami.

Tetapi anehnya, begitu ia pulang kami selalu diserang rasa iba luar biasa. Menatapnya berjalan, sendiri, kemudian lenyap di tikungan jalan, adalah pemandangan yang menganggu kami setiap kali

Pemandangan itu membuat kami sejenak melupakan seluruh kesaahannya dan yang tinggal hanyalah fakta-fakta berikut ini: bahwa hidup orang itu, cuma tergantung pada kami. Padahal dari kami pun, ia cuma mendapat upah sekadarnya, sekadar umum orang lain dalam membayar pembantunya. Dan kami tahu, jumlah itu amat jauh dari mencukupi untuk seluruh kebutuhan hidupnya lengkap dengan keluarganya yang juga cuma tergantung kepadanya. Jadi membayangkan bahwa ia selalu berada dalam sebuah keadaan yang selalu darurat setiap hari, membuat kami melupakan seluruh kejengkelan yang tidak penting ini.

Karena kenapa kepada pihak yang sudah begitu penuh beban, kami malah tega meminta banyak sekali. Kenapa jika upah yang kami berikan rendah saja, kami meminta pelayanan yang tinggi. Ini pasti tidak adil. Akhirnya kami menempuh cara yang agak tidak lazim kepada pembantu yang unik ini. Kami tidak cuma gagal memecatnya, tetapi malah mencoba bergembira dengan seluruh kesalalahnnya.

Jika ia kembali melakukan kesalahan yang sama, aku malah meminta istri untuk menyediakan upah ekstra ketika ia telah rampung bekerja. Tentu saja istri melotot pada awalnya. Tetapi segera kujelaskan alasannya: Mudah saja memberikan kegembiraan kepada pihak yang memang menggembirakan hatimu. Tetapi sanggupkah kamu menggembirakan pihak yang menjengkelkanmu, begitu kataku, yang tak lebih adalah kataku pada diriku sendiri! Mudah untuk berderma ketika hati sedang gembira, tetapi sanggupkah kita memberi ketika hati kita sedang begitu marahnya?

Sulit, amat sulit! Tetapi kami tertantang untuk kuat melakukannya. Maka kami bukan cuma batal memecat pembantu ini, tetapi juga malah sering memberinya tips ekstra ketika hati kami sedang jengkel kepadanya. Ia juga selalu kami tempatkan sebagai pihak penerima oleh-oleh pertama sehabis kami dari luar kota. Ia kami pertahankan di rumah kami karena menjadi guru terbaik kami dalam berteman dengan kejengkelan.

(Prie GS/)

Senin, April 09, 2007

Ciuman Salah Waktu

JIKA Anda orang tua, risiko ini akan dekat dengan Anda, karena contoh ini saya pungut dari pelaku yang sebenarnya. Pertama ketika secara tanpa dosa, anak Anda mengorek-orek dinding mobil dengan benda tajam, padahal mobil itu baru dan kreditan pula. Jika ini terjadi, hati-hati, penyakit kalap bisa menyerang Anda.

Tak peduli betapa pun polos anak Anda, tak peduli bahwa ia sesungguhnya tidak bermaksud merusak mobil keluarga, melainkan merasa cuma sedang menggambar, melukis dengan hati gembira di sebuah kanvas yang menurutnya adalah ruang yang bebas terbuka. Tak tebersit di dalam benak anak itu merusak sebuah mobil, apalagi mobil baru, apalagi mobil milik bapaknya, apalagi belum lunas pula.

Tapi semua ini tak cukup kuat untuk menahan sikap kalap orang tua yang tengah terluka itu. Karena luka di mobil itu setara dengan luka di hati kita, yang bekerja keras sedemikan rupa untuk bisa membeli barang kesayangan dan belum genap kegembiraan ini berjalan sempurna telah diorek-orek pula. Maka tak peduli anak sendiri, anak kesayangan pula, luka di mobil itu adalah dorongan yang gegap gempita untuk minimal membentak sang anak dengan teriakan termarah yang kita punya.

Maka anak yang sedang bergembira akan segera melotot matanya oleh perasaan kaget luar biasa. Wajahnya pucat dan bibirnya bergetar untuk kemudian surut ke belakang dengan sikap gemetaran. Sebuah rasa takut yang bukan cuma datang tiba-tiba, tetapi ketakutan yang sungguh tak ia sangka-sangka. Ingatlah kenakalan masa kecil Anda, dan ingatlah sebuah rasa takut akibat kemarahan sekitar yang timbul karenanya. Kita begitu takut karena sama sekali tak pernah menduga bahwa yang kita lakukan adalah sebuah kekeliruan. Kita menyangka semua itu tak lebih dari kegembiraan bagi akal kita yang masih cekak dan terbatas.

Saya pernah menyimpan sebuah pengalaman dahsyat di usia prasekolah, yang karena jasa kakak-kakak, saya telah bisa membaca. Sebuah keberuntungan? Bisa jadi. Tetapi bahaya segera menyelinap di baliknya. Seorang remaja kampung, ia telah remaja, seorang berandal muda mestinya, tetapi memilik kenakalan yang cerdas, karenanya amat berbahaya. Ia semula memuji kemampuan saya dan saya senang atas pujiannya. Selanjutnya ia menoreh di tanah berdebu tiga huruf besar-besar dan saya diminta membacanya keras-keras.

Didorong keinginan unjuk kebolehan, saya dengan gembira melakukannya. Saya baca huruf itu dengan teriakan yang memenuhi sekujur desa. Apa yang terjadi, selepas saya berteriak, anak itu lari meninggalkan saya sendiri yang kemudian didatangi banyak orang, di antararnya adalah orang-orang tua. Orang-orang ini mengabarkan kepada saya sebuah berita yang mencekam, bahwa saya bisa masuk penjara karenanya. Kenapa? Karena tiga huruf yang saya teriakkan keras-keras itu adalah nama sebuah partai terlarang, yang di saat itu, cuma karena menyebut namanya saja sudah berarti bencana. Saya masih mengingat betapa seperti lenyap tulang belulang saya. Hari berikutnya badan saya demam oleh pukulan batin yang teramat sangat.

Ya, anak-anak itu, termasuk penggores pintu mobil itu, atau seluruh kenakalan anak-anak kita, bisa jadi tak lebih dari sebuah kegembiraan baginya. Tetapi siapa peduli kegembiraan anak jika korbannya adalah barang-barang yang tengah begitu menyedot seluruh konsentrasi kita. Maka kepada anak yang tengah kita anggap berdosa ini kadang tak cukup hanya diganjar dengan bentakan.

Kadang itu perlu tamparan di pantat, jeweran di telinga atau malah tempelengan di kepala. Begitu kalapnya sehingga ketika sadar kita cuma bisa terpana. Padahal tak mudah meminta maaf kepada anak karena tak sedikit dari kita adalah para orang tua yang jaim dan tak biasa melakuan permintaan maaf secara terbuka. Maka yang bisa kita lalukan hanyalah menangis diam-diam. Memandangi si anak ketika ia telah lelap tertidur dan menciuminya dengan segenap perasaan remuk redam. Saya percaya kualitas tangisan penyesalan seperti ini, karena tak ada dari kita yang tidak mencintai anak-anak kita.

Tetapi tidakkah ciuman semacam itu menjadi sesuatu yang nyaris percuma, karena sementara kita mencium, anak itu sudah begitu terlelapnya. Ketika hati kita tengah porak-poranda, anak itu sama sekali tak menangkapnya, karena penyesalan itu, ciuman itu, datang di waktu yang keliru, ketika anak sama sekali tak pernah mengetahuinya.(Prie GS/)

Keponakan dari Desa

Suatu kali keponakan saya datang dari desa dengan motor dan tas penuh meninggi di punggungnya, isinya adalah hasil kebun kakak saya: buah petai! Buah yang baunya jauh lebih menggemparkan dibanding rasanya. Jumlahnya membuat saya terpana dan karena banyaknya saya berencana membagi-bagikan juga ke tetangga.

Ada banyak alasan, pertama menyenangkan tetangga adalah pekerjaan yang menggembirakan.
Kedua, makan petai enaknya harus bersama-sama. Ini baru adil. Karena jika engkau makan, aku cuma kena baunya, ini kejahatan, karena bau petai ini memang jahat sekali. Saya bukan penggemar petai, tetapi juga tidak anti sama sekali. Tapi intinya ialah bahkan bau pesing pun kalau itu hasil produksi bersama pasti jauh dari pertengkaran.

Tetapi bukan soal petai itu yang akan saya ceritakan, melainkan kedatangan keponakan yang salah waktu itu, meskipun ia datang hendak membagi kegembiraan. Tetapi itulah waku yang saya sedang diburu-buru pekerjaan. Komputer baru saja menyala dan sebuah tulisan buru-buru harus dirampungkan. Pada saat seperti ini, tak ada soal yang lebih penting selain melihat agar tulisan itu lekas jadi. Maka kedatangan keponakan saya dari jauh itu tak lebih dari gangguan.

Hampir saja saya menyelesaikan persoalan ini dengan cara praktis, menyapa secukupnya, meminta maaf karena saya sibuk, meminta dia ambil makan dan minum sendiri dan begitu pulang saya cukup memberinya uang saku seperlunya. Hampir saja! Tetapi kemudian saya begitu marah kepada diri sendiri. Komputer itu segera saya matikan. Ini pasti bukan karena saya terlalu sibuk. Ini pasti karena di mata saya, pekerjaan adalah satu-satunya soal yang terpenting di dunia. Pekerjaan benar-benar telah bersiap menjadi berhala.

Saya tanya kepada diri saya sendiri dengan perasan marah, apakah dunia akan kiamat kalau pekerjaan ini sejenak saya hentikan? Tidak! Keponakan itu datang dari jarak hampir seratus kilo, dengan beban berat di pungungnya. Dari daerah pegunungan yang pasti membuat ia harus melawan dingin dengan geraham gemeretak dan bibir kebiruan. Dan ia tidak akan singgah lama, karena setelahnya ia harus pergi meneruskan urusannya sebagai anak muda.

Saya tidak tahu, berapa kali momen persaudaraan seperti itu akan terulang. Tetap saya tahu, selama bumi berputar, cuma sekali saja saya akan melihat keponakan ini bermotor, menembus hawa dingin, dengan beban menggunung di punggung, demi mengantar oleh-oleh petai dari desa kepada om-nya.

Cuma sekali! Dan yang sekali itu pun cuma akan disambut dengan sekadar sapaan seperlunya dan kebaikan basa-basi. Untung saya segera habis-habisan mendamprat diri sendiri! Komputer itu saya pelototi dengan marah untuk saya bunuh dengan tega dan dengan segera saya temui keponakan yang ketika kecil saya gendong-gendong itu.

Saya pandangi dia hingga tas itu merosot dari pungungnya. Saya tongkrongi ketika dia melepas jaket-jaketnya. Saya duduk di depannya. Saya tak peduli ketika ia cuma diam saja. Ia telah tumbuh besar. Dia membesar, saya menyibuk. Perkembangan ini telah membuat kami terancam saling asing. Tapi meskipun kami saling terdiam, saya mengirim pesan yang jelas untuknya.

Ia tahu, saya tengah menyambutnya, menghargai kedatangannya dan menerimanya. Pesan ini pelan-pelan membuatnya nyaman. Maka setiap pertanyaan tentang kabar di desa, tentang kuliahnya di kota, tentang aktivitasnya, ia jawab dengan hati yang hidup dan gembira. Saya segera mendengar seorang anak-anak yang haus bercerita. Benar, ada segudang cerita yang ia ingin orang lain mendengarnya, terutama pasti orang-orang terdekatnya.

Cerita itu akan menjadi barang beku, jika saya, om-nya, orang tuanya, orang-orang terdekatnya, cuma sibuk dengan dirinya sendiri. Kesibukan yang keterlaluan kepada diri sendiri, telah membuat banyak orang-orang yang mestinya kita sayang menjadi korban. Mereka kesepian, gagal tumbuh dan beku.

Pertemuan kami tak lebih dari setengah jam. Saya mengantarnya hingga ia lenyap dengan sepeda motornya di pengkolan jalan. Ia pasti pulang dengan hati gembira dan pesan yang jelas di jiwanya: bahwa om-nya ini, masih menyayanginya! (Prie GS/Cn08)