Minggu, Desember 30, 2007

Siapa Takut Jatuh Cinta

Siapa Takut Jatuh Cinta

Beruntung saya pernah mengambil diploma seni musik di IKIP Negeri Semarang yang sekarang menjadi Universitas Negeri Semarang. Keberuntungan pertama ialah karena topografi kampus saya di kawasan Jl Kelud itu bagus sekali. Ia seperti kawasan puncak, naik turun, tinggi rendah, jauh dekat. Ruang kampus itu seperti sebuah vila-vila saja layaknya.

Penuh rimbun pohon-pohon besar dengan rumput dan bunga-bunga yang rapi terpelihara. Seperti berada di sebuah pegunungan dengan banyak vila…. sungguh sebuah suasana yang bagi usia saya saat itu, amat mudah memicu untuk jatuh cinta.

Karenanya hampir setiap saat saya bisa jatuh cinta: ada yang pada tema sekelas, ada yang beda kelas, ada yang beda jurusan dan ada pula yang beda fakultas, karena saat itu, rasanya kawa-kawan kuliah yang cantik memang ada di mana-mana. Dan syukyurlah, di antara semua teman yang saya taksir itu tidak ada satupun yang menjadi pacar saya.

Macam-macam saja alasannya, tapi terbesar adalah karena saya sendiri penyebabnya. Tegasnya, saya memang cuma asyik jatuh cinta tetapi tidak terlalu bernafsu untuk pacaran karena pasti ditolaknya. Rasa percaya diri ditolak inilah yang membuat saya malah merasa bebas. Bebas jatuh cinta kepada siapa saja dan bebas putus kapan saja saya mau, tanpa perlu pihak yang saya taksir itu membalas atau malah sekadar tahu.

Saya pernah naksir seorang teman yang begitu cantiknya sehingga kalau saya maju terus pasti tidak kebagian. Dan benar, seluruh dari kami, mahiswa paling top pun terpaksa harus gigit jari, karena kecantikan yang keterlaluan seperti itu tidak cocok bagi kelas mahiswa yang payah modalnya. Seperti yang telah saya duga, si cantik itu akhirnya kawin dengan pengusaha kaya. Dari awal saya sudah mengerti kemungkinan ini, maka untuk apa berdarah-darah atas sesuatu yang saya tahu ia bukan jatah saya. Tetapi untuk menjadi pacar bagi imajinasi, saya bebas pacaran sesuka hati dengan teman ini.

Persis seperti Ebiet G Ade bercinta dengan Camellia. Itu sebuah percintaan yang menurut saya dahsyat sekali. Dari pandangan pertama sampai Camellia masuk liang lahat, ternyata belum sekalipun Ebiet pernah menjumpai. Apakah Ebiet menjadi gila karenanya? Tidak. Ia sehat sekali, waras sekali dan malah suskes sekali. Karena energi jatuh cinta itu, jika cerdik cara mengelolanya memang luar biasa.

Di dalam perasana jatuh cinta itu, semuanya menjadi penuh sensasi. Melihat mega-mega berarak, seperti melihat puisi. Melihat jemuran berkelebat seperti melihat burung-burung blekok berterbangan di atas sawah kampung saya. Melihat rinai hujan, seperti melihat air mata peri-peri cantik berjatuhan. Tak ada yang tidak indah ketika saya jatuh cinta.

Sesumbang apapun suara ini, bawaannya melulu ingin beryanyi. Sepayah apapun tampang saya, rasanya ingin selalu berkaca. Jadi jika begini besar efek jatuh cinta dalam mendatangkan keindahan, kenapa saya tidak jatuh cinta saben hari saja? Maka saat itu, saya merdeka untuk jatuh cinta setiap kali tanpa takut patah hati.

Jatuh cinta semacam ini ternyata hemat sekali; tidak harus kehilangan ongkos nonton bareng, makan bareng, dan tidak perlu repot-repot bertengkar segala. Padahal ongkos pertengkaran itu, ongkos mental terutama, besar sekali! Sekali waktu saya pernah pacaran beneran. Astaga… daftar pertengkaran saya ternyata lebih panjang dari daftar kebahagiaan saya. Ini pasti melelahkan.

Padahal dalam keadaan jatuh cinta versi pertama itu, yang ada cuma keinginan bernyanyi dan menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk ditulisi. Bakat menulis saya pun rasanya terpupuk dengan hebat karena seringnya saya jatuh cinta semacam ini. Menulis saat jatuh cinta itu luar biasa menggelegak. Seluruh dunia jadi semuanya berwarna biru saking indahnya. Kenapa kawasan Puncak itu diburu orang Jakarta? Karena warna biru itulah. Biru, temaram, sendu, syahdu, kelu, rindu. Itulah suasana cinta.

Sementara merah, darah, gerah…itulah warna perang, warna derita, dan itulah warna Jakarta. Maka bisa Anda bayangkan betapa menyenangkan jika jalan menuju ke biru itu bisa saya askes setiap waktu, kapan saja saya mau. Betapa hati akan melulu dipenuhi kegembiraan cinta. Dan hati yang penuh cinta akan melihat apa saja, tiba-tiba dengan perasaan cinta. Berkarya apa saja jadi penuh semangat cinta. Tetapi persoalannya, bagaimana kalau saya kemudian sudah berkeluarga? Apakah cinta seperti ini masih aman untuk diperagakan? Biarlah akan saya ceritakan pada kolom berikutnya!

(Prie GS/Cn08)

Dari pintu ke pintu, dari hati ke hati

Inilah tantangan bagi aneka institusi agama yang ada, betapa mereka harus membuat dakwah yang lebih indah dan menggugah, agar umat tidak lari ke dalam keyakinan-keyakinan baru, yang cuma akan ditolak oleh masyarakat dan negara. Penolakan itu bahkan ada kalanya, harus berujung kekerasan pula. Jika kemunculan demi kemunculan aliran baru terus bermunculan, jika penolakan demi penolakan terus dilakukan, berarti akan pula diikuti oleh risiko kekerasan demi kekerasan. Jika cuma sekali waktu, hampir setiap negara, mengalaminya. Tetapi jika ia bisa muncul setiap waktu, pasti ada kesakitan sosial di negara itu.

Marilah kita kutip pendapat Dr Azumardi Azra, tentang kenapa aliran-aliran baru ini selalu saja berhasil memikat hati pengikutnya. Jawabnya, menurut Azumardi adalah karena cara dakwahnya. Mereka melakukannya dari pintu ke pintu, dan lebih dari itu dari hati ke hati. Mengetuk langsung ke hati itulah yang hendak ditekankan dalam persoalan ini. Dan begitulah memang watak hati, jika ia tersentuh kelembutan, apa saja bisa dimasukkan, termasuk kekeliruan.

Bahkan kekeliruan pun, jika disebarkan dengan cara yang menyentuh dan indah, ia menghuni hati dengan kuat sekali. Itulah kenapa apapun dan siapapun yang telah menghuni hati dengan cara yang indah, ia terpatri kuat sekali. Jika penghuni hati itu bernama ketersetatan, hati itu akan tersesat hingga jauh sekali. Jika penghuni itu bernama kebenaran, maka keteguhannya tak akan terguncangkan. Mengingat watak itulah jutsru muncul persoalan ini: tak semua kesalahan disampaikan dengan cara yang salah, tak semua kebenaran disampaikan dnegan cara yang indah.

Adakah sekarang ini kebenaran tidak cuma disampaikan dengan cara yang tidak indah tapi juga dengan cara yang salah? Penting sekali mempertanyakan soal ini, dan penting sekali institusi agama menyadari persoalan artistik ini. Jiak para agamawan awam dalam persoalan artistic dalam berbagai segi, maka artistik itu bisa jatuh ke tangan yang keliru. Maka kekeliruan pun akan menjadi tampak aryistik, indah, dan mengguggah. Kekeliruan yang indah itu lalu akan menjadi seolah-olah lebih benar dari kebenaran, lebih indah dari keindahan itu sendiri.

Di Indonesia, sungguh tak terkira jumlah hati yang sedang dahaga, yang butuh disantuni oleh kelembutan, oleh keindahan. Tapi yang lembut dan indah itu, harus pula adalah sekaligus si benar. Karena jika kelembutan dan keindahan dipinjam oleh si keliru, ia akan menjadi berbahaya sekali। Kita semua akan merasa indah tanpa tahu bahwa sedang tertipu!

(PrieGS)

Ada Langit Di Rumahku

Karena rumahku kecil maka hanya ada satu cara jika harus menambah ruang: meninggikannya. Tetapi karena meninggikan rumah tidak murah, maka ia bisa terhenti ketika pembangunan baru jalan setengah. Setengah pembangunan inilah yang akan aku ceritakan karena ia cuma meninggalkan hamparan lantai beton tanpa bangunan. Maka jadilah beton sebagai salah satu atap rumahku. Dan di atas beton ini adalah ruang terbuka dengan langit sendiri sebagai atapnya.

Semula aku mengira rumahku adalah jenis rumah terbengkalai korban salah perencanaan. Bukan... bukan salah rencana, melainkan rumah ini memang adalah produk tanpa rencana. Semula ada juga bermacam-macam kejengkelan, perasana marah dan menyesalan. Bukan datang dari diriku sendiri, melainkan dari orang-orang yang datang. Mereka bisa saudara dekat, bisa saudara jauh, bisa sekadar tetangga dan teman.

Tapi siapapun mereka, senada saja komentarnya. ‘'Lengkap sekali kekacauan di rumahmu ini'' begitu biasa komentar yang saya dengar. Lumayan jika komentar itu cuma berhenti hingga di sini. Aku sering tegang menunggu komentar selanjutnya, karena makin panjang, cuma makin menyinggung perasaan. Misalnya; ‘'Ini pasti karena engkau membangun rumah sekaligus engkau tempati. Jadi ini arsitektur gerilya!'' kata pihak lain biasanya dengan tawa mereka. Tak jarang mereka mengomentari sambil geli pada imajinasinya sendiri. Semakin mereka gembira, semakin tersinggung hati saya.

Padahal komentar itu bisa diteruskan lagi; ‘'Tidak apa-apa sebetulnya membangun rumah sambil tetap dinempati. Asal... tetap terencana. Tetapi ini pasti rumah hasil rencana pembangunan lima tahunan alias repelita, yang tidak nyambung. Setiap lima tahun berubah rencana tergantung duit yang ada.'' Kata yang lain lagi. Kata-kata iu semakin menyakitkan karena semakin cocok dengan kenyataan. Tegasnya, rumah ini menjadi kacau begini, pasti karena kemiskinanku. Karena cuma bisa jengkel tapi tak berdaya, maka semua akhirnya aku iyakan saja.

Malah kejengkelan kuteruskan saja, seluruh rumahku, akhirnya kunikmati apa adanya lengkap dengan semua kekacauannya, termasuk lantai beton yang beratap angkasa raya itu. Malah kini aku sedang bertaruh dengan diriku senidri, kalaupun uang sudah ada, akankah aku dirikan bangunan di atas lantai beton ini, seperti yang aku bayangkan semula. Rasanya tidak! Aku mencintai hasil pembangunan setengah jalan ini karena sebuah sensasi yang tak terduga.

Pertama setelah kuteliti, di seantero kampung, rasanya cuma rumahku yang memiliki atap langit seperti itu. Selebihnya adalah ruang-ruang yang seluruhnya tertutup. Kalaupun ada rumah yang meninggi, mereka langsung mengatapinya. Sudah berumah kecil, tertutup pula, jadi betapa sumpeknya. Mak setiap kali aku sumpek, aku cukup menuju ke lantai beton beratap langit ini. Hasilnya luar biasa. Dari sebuah kamar yang sumpek, aku langsung ketemu langit yang terhampar begitu luasnya!

Aku segera melihat kaki langit, horison-horison yang jauh serta beberapa gunung yang ada di tanah Jawa di pagi dan sore hari. Jika malam hari, dan aku berebahan di lantai beton itu, bintang-bintang segera berserak di atasku. Indah sekali. Dan kepada bintang-gemintang, aku selalu mencari komposisi yang diajarkan oleh ibuku dulu ketika malam-malam kami bersantai di halaman.

Sebuah bintang yang letaknya sedemikan rupa, sehingga bentuknya menyerupai bajak petani. ‘'Jika ia telah condong ke barat, pertanda malam sedang bersiap pagi,'' begitu kata ibu. Jika bulan puasa tiba, dan kami belum punya weker sebagai penanda, kami cukup keluar rumah, untuk melihat kedudukan bintang ini. Jika letaknya sudah bergeser ke ufuk barat, pertanda jadwal makan sahur sudah tiba. Bintang ‘'bajak petani''itu hingga sekarang masih menjadi bintang idolaku.

Jika aku sedang kesal dengan istriku, dengan kenakalan anak-anak, atau penat dengan pekerjaan, lantai beton itu menjadi obatku. Aku cukup berdiri di atasnya, menatap ruang terbuka, melihat bukit-bukit yang jauh di siang hari, dan melihat bintang-gemintang di malam hari, maka luruhlah kekesalan hatiku. Karena setelahnya, baru aku merasa bahwa kejengkelan pada istriku itu, ternyata adalah kejengkelan pada diriku sendiri, bahwa kemarahan pada anak-anakku tak lebih dari kemarahan pada diriku sendiri. Selanjutnya, anak-anak dan istri, kembali menjadi orang-orang menyenangkan di mataku.

Jadi rumahku dengan lantai beton beratap langit itu adalah harta karun yang tak ternilai harganya। Di atasnya memuat banyak keindahan, efek terapi dan akses tak terbatas menuju langi luas. Rumahku yang sempit menjadi luas karena bangunan salah rencana ini. Di rumahku ada langit, aset yang aku sulit menaksir nilainya!

(PrieGS)

Senin, Desember 03, 2007

Bunga-bunga di Rumahku

MAU tapi tak mampu, itulah keadaanku atas bunga-bunga di rumahku. Kusangka, jika sudah kusiram, setiap tanaman akan tumbuh sempurna dengan sendirinya. Dugaanku ternyata keliru. Ada jenis tanaman yang sampai lelah aku menyirami, bentuknya senantiasa seperti pihak yang merana. Karena jengkel, aku mendatangi pakar bunga di kampungku. Hasilnya, ia tergelak melihat kebodohanku. Begitu banyak bunga salah letak menurutnya. Ada jenis bunga yang rakus panas, tetapi letaknya di keteduhan. Ada jenis yang suka teduh, tetapi malah selalu kepanasan. Olala, sama-sama hijau daunnya tetapi kenapa berbeda wataknya.

Dari sini saja pikiranku segera menerawang ke mana-mana. Ooo bunga-bunga ini ternyata mirip partai-partai di negaraku. Sama warnanya bisa pecah menjadi dua, tiga dan seterusnya. Sama niat baiknya, tetapi macam-macam cara mewujudkannya. Lumayan jika cuma beda cara. Tetapi ada niat baik yang begitu banyaknya sementara kebaikannya sendiri tidak muncul-muncul juga. Bunga-bunga di rumahku itu sungguh mengisyaratkan tentang bermacam-macam keadaan yang ada di sekitarku.

Maka atas saran sang teman yang ahli itu aku memindahkan bunga-bunga ini sesuai kebutuhannya. Yang suka panas ketemu panas, yang suka teduh ketemu teduh. Aku menyangka perubahan akan terjadi segera. Bunga-bunga yang merana itu kusangka akan menyubur seketika. Tapi lagi-lagi aku salah sangka. Rasanya mereka tetap saja seperti sedia kala. Hampir saja aku menyangka yang salah adalah bunga-bunga itu sendiri karena terlalu keras kepala. Seluruhnya sudah kuberikan, tetapi mereka sendirilah yang enggan pada pertumbuhan.

Setiap kali, batangan tonggak yang nyaris mati itu rasanya tetap merana belaka meskipun panas matahari sudah leluasa mengguyurnya. Setiap saat, daun-daun yang kurang gizi itu kuning saja warnanya. Ia tak segera menghijau segar seperti yang aku duga. Hampir saja aku patah hati dan pohon yang kusangka mati itu kukorek-korek saja sesuka hati. Astaga, ketika kulitnya mengelupas baru aku kaget dibuatnya. Pokok bunga itu ternyata terlihat hijau sekali. Ini pasti pohon sehat cuma belum bersemi. Melihat perubahan ini aku girang sekali. Setiap pagi, aku semakin bergairah menyambangi bunga-bunga yang nyaris sekarat ini dan tegang menunggu perubahan apalagi yang akan terjadi.

Oo semuanya ternyata sedang berubah cuma aku saja yang kurang teliti. Dahan-dahan yang meranggas itu diam-diam menghijau dengan pasti. Daun-daun yang menguning itu diam-diam menyergarkan diri. Makin hari perubahan itu kian nyata cuma memang tidak dengan segera. Ternyata tidak ada perubahan yang seketika. Ketidaksabaran terhadap perubahan inilah watak dasar manusia yang sering melahirkan bermacam-macam perkara. Di dalam dunia politik ia bisa melahirkan revolusi yang mahal biaya, di dalam birokrasi ia bisa menggoda untuk korupsi yang bisa membangkrutkan negara, di dalam urusan mencari kekayaan ia bisa membuat orang tidak sabar bekerja dalam kewajaran. Ada yang begitu nekatnya sehingga masa tuanya malah berakhir di penjara. Ada perubahan yang jika ukurannya adalah ketidaksabaran terasa amat lambat.

Tetapi anehnya, ketika bonggol meranggas itu mulai bersemi, rasanya daun-daun berikutnya menyusul cepat sekali. Ketika tulisan ini dibuat, si bonggol itu malah telah memunculkan putik bunga, sebuah percepatan yang sama sekali tak terbayangkan. Perubahan rasanya juga seperti perbuatan; kesulitannya ada di langkah pergtama. Ketika yang pertama telah dijatuhkan, kedua dan ketiga akan mengikuti dengan sendirinya. Prajurit Keraton Yogyakarta dalam berbaris misalnya, memakai aba-aba yang artinya kaki kiri maju, kaki kanan mengikuti. Jadi yang penting adalah kaki kiri maju lebih dulu agar kaki kanan bisa mengikuti. Tanpa si kiri maju tak ada kanan yang akan mengikuti.

Terakhir dan ini terpenting bagiku, bunga-bunga ini mengajariku meyakini satu hal: jika segala sesuatu diletakkan sesuai tempatnya, tak peduli betatapun lambat, ia akan berubah juga!

(Prie GS/)