Jumat, Februari 29, 2008

Seorang Istri yang Mengeluh

Istriku, kaget juga ketika mendengar keluhanmu. Pertama karena sebagai istri, engkau sangat jarang mengeluh. Kedua, karena yang engkau keluhkan ternyata cuma sekadar kenaikan harga gas. Tapi kata "cuma" itu akhirnya harus aku buang jauh. Karena aku tahu sekarang, betapa serius persoalan yang tengah engkau keluhkan itu. Sungguh, ini bukan cuma soal ancaman bagi belanja harianmu, tapi juga sudah ancaman bagi kehormatan hukum di negaramu.

Aku ceritakan kepadamu kejadian selengkapnya. Saat itu November 2000, saat harga gas masih Rp 2.100 per kilogram. Kata "masih" itu pun mestinya kurang perlu, karena harga itu pun sudah memancing protes. Pemimpin protes itu juga perempuan sepertimu, Lies Agung namanya. Ia menggugat Pertamina lewat prosedur bernama class action. Dan ia menang. Tapi tahukah kamu apa arti kemenangan hukum itu? Tak banyak, kalau malah boleh dibilang tak ada. Harga gas bukannya turun, tapi malah diam-diam naik lagi di hari lain dengan cara yang tak pernah kita duga. Hukum memang telah menang, tapi anehnya tak ada pihak yang mau dikalahkan.

Anehnya lagi, pihak yang mestinya kalah itu masih mengaku menghormati hukum. Adakah pengakuan itu tidak mengganggu akal sehatmu? Bagaimana mungkin engkau percaya pada pihak yang mengaku memiliki rasa hormat tapi menganggap remeh keputusan si terhormat. Ada banyak sebutan untuk pihak yang tidak sepadan antara kata dan perbuatannya. Tapi ambil saja sebutan yang setidaknya masih sopan: bohong! Lalu lihat hasilnya: betapa memelas hukum kita yang bahkan di hadapan seorang pembohong pun tak berdaya.

Pengakuan si kalah yang lain ialah ketika mereka mengaku rugi. Kenaikan itu mereka tempuh konon demi untuk menutup kerugian dan demi meningkatkan mutu pelayanan. Kita bersimpati untuk janji pelayanan itu, kita sampaikan duka cita yang dalam untuk kerugiannya. Tapi lepas dari soal simpati dan duka cita, betapa banyak sekarang ini pihak yang minta dipercayai cuma dengan modal pengakuan dan bukan bukti-bukti. Di hadapan mereka, kita sekadar dianggap segerombolan orang dungu sehingga tetap saja banyak orang tampil percaya diri meski tengah menjadi penipu.

Tapi sudahlah, ayo belajar percaya dan selalu berprasangka baik pada sesama. Mari percaya bahwa kerugian itu memang ada walau kita tak pernah menengok pembukuannya. Persoalannya sekarang adalah bukan soal rugi lagi, tapi soal bagaimana cara kerugian itu tejadi. Bisa jadi karena mereka menjual gas kelewat murah kepada kita. Kalau benar, aduh, betapa terharu hati ini. Padahal bukan watak kita bahagia di atas derita sesama. Maka sudahlah, bubarkan saja pasar gas dan ayo kembali ke bahan bakar apa saja, asal tidak menimbulkan derita pihak lain. Walau keadaan ini bukan semata-mata kesalahan kita. Kita mengenal gas juga karena bujukan pabrik gas dan rayuan pembuat kompor gas. Kita dibuat tergantung dan kecanduan gas untuk kemudian didikte begitu rupa. Jadi boleh saja kita merasa dijebak. Sungguh mirip cara mereka dengan cara bandar narkoba menjerat mangsa.

Lalu bagaimana jika kerugian itu datang dari kesalahan manajemen, pemborosan dan korupsi? Ya, begitulah selalu nasib kita. Orang lain yang salah dan jahat, tapi kita jugalah yang harus menanggung ongkosnya. Padahal tak ada jaminan bahwa kita mengeluarkan duit dengan rela. Padahal memakan duit dari orang yang tak rela dan teraniaya hanya akan menjadi bencana bagi perut mereka. (03)

(PrieGS/)

Rabu, Februari 27, 2008

Seekor Kucing di Rumahku

Ada kucing di rumahku. Ia tak secara khusus dipelihara, tapi selalu saja betah berlama-lama. Kucing ini agaknya sebatang kara, terbukti rumahkulah satu-satunya tempat yang dia suka.

Sebagai layaknya pihak yang cuma nebeng, kucing ini sebetulnya relatif tahu diri. Ia cuma berkisar tidur di genting tumah, di kolong dapur dan di tempat-tempat darurat lainnya. Jika ia suatu kali kedapatan bermalasan di tempat-tempat terhormat, seperti ruang tamu dan sofa misalnya, ia sadar diri. Secepat kilat ia akan berlari jika kepergok, terutama olehku.

Kucing ini tahu, aku adalah pihak yang paling keras kepadanya di rumah ini. Kekerasan ini semula kusengaja, karena aku tidak ingin kucing ini kerasan di rumahku. Aku tahu, untuk memelihara hewan seperti kucing, butuh waktu ekstra. Maka jika waktu dan komitmen itu tak ada, lebih baik jangan coba-coba. Berteman dengan kucing liar, hanya akan membuat panas hati saja.

Padahal, karena kucing ini tidak jelas statusnya, ia terancam menjadi setengah liar pula. Tongkrongannya memang telah mirip kucing rumahan, tapi kelakuannya betul-betul liar sempurna. Jika pintu dapur terbuka sedikit saja, lauk-pauk yang ada akan secepat kilat dijarahnya. Berak dan kencing bisa sembarangan. Dan yang paling menjengkelkan, jika malam tiba. Ia bisa mengundang kucing tetangga untuk datang, berebut pasangan dan bertengkar dengan kegaduhan yang mengerikan.

Pendek kata itulah peran si kucing di rumah kami hingga hari ini. Dibanding sukanya, rasanya jauh lebih banyak dukanya. Tambahan kejengkelan lain ialah ketika ia bisa meninggalkan bulu-bulunya itu di mana saja. Ia bisa memakai kursi busa untuk mengasah kuku-kukunya pula. Pokoknya, meski saya bukan pembenci kucing, godaan untuk marah pada hewan ini bisa berlangsung setiap kali.

Meski tidak sampai menyiksa, saya tetap menyalurkan hasrat kemarahan pada kucing ini setiap ada kesempatan. Mulai dari sekadar membentaknya, hingga mengguyurnya air jika terpaksa. Pendek kata, baginya aku adalah musuh, dan ia menangkap permusuhan ini dengan seksama. Maka reaksinya terhadap aku pun khas. Ia akan buru-buru menyingkir jika kelebat bayanganku dilihatnya.

Komunikasi semacam itulah yang ada di antara kami selama ini. Aku tak tahu persis ukuran pastinya. Yang jelas kucing ini aku kenal mulai dari balita hingga kini beranjak tua. Jadi sudah dalam bilangan tahun. Yang aku heran, meskipun bertahun-tahun hewan ini kukasari, ia tetap saja betah di rumah kami.

Sampai pada suatu hari, ketika di suatu sore, aku dan kucing ini menjadi begitu dekatnya oleh sebab yang tak terduga. Semua berawal dari kebiasaanku naik ke genting rumah jika udara gerah. Memandang langit, menikmati keluasan dari sebuah ketinggian, adalah hobiku sejak lama. Si kucing ini, entah kenapa juga sedang berada di genting yang sama.

Ia berbaring, dengan mata lurus ke barat, ke arah hari yang mulai senja. Tak seperti biasa, ia sama sekali tak terusik oleh kedatanganku. Akulah yang ganti kaget oleh ulahnya yang tak biasa. Sedang apakah hewan ini? Sedang sedihkah dia? Baru aku sadar sepenuhnya, betapa ia selama ini memang sebatang kara. Tidak sepertiku, yang istri ada, anak-anak pun ada, dan dalam batas-batas yang tertentu, kami hidup bahagia.

Lalu kucing ini? Matanya yang lurus itu, jangan-jangan ia sedang membayangkan ibu bapaknya yang sudah tiada. Sanak saudaranya yang juga entah kemana. Sudah sendiri, nebeng pada sebuah keluarga pun tak peduli pula. Ia bahkan cenderung selalu dikasari. Soal makan, ia juga dibiarkan memecahkannya sendiri. Karena keluarga ini pasti punya dalih, mereka tak tak pernah punya ikrar memelihara, karenanya tak perlu pula merasa bertanggung jawab atas nasibnya.

Kucing yang sedang menerawang ke arah matahari terbenam itu, memang tidak tampak sedang menyalahkan kami sekelurga. Ia lebih seperti meratapi kemalangannya sendiri. Sejenak kemudian aneka loudspeaker dari beberapa masjid serempak menyuarakan azan bersama. Kucing ini masih terpaku, menatap hari yang berangkat senja. Dan di ketinggian genting ini, kami berdua merasa sangat sepi. Aku dan kucing itu, pasti akan ketemu magrib juga. Sama-sama akan menemukan hari senja dan kembali ke mati bersama-sama.

Dalam hidup yang cuma sekali dan itupun cuma singkat saja, kenapa di antara kami masih tega untuk saling mengasari. Kenapa aku yang manusia ini tidak juga tanggap, betapa hewan ini, sudah ditakdirkan sebagai kucing, tidak bahagia pula. Kenapa manusia yang sudah diberi banyak kemuliaan ini, tidak bisa berbaik hati ada kucing yang papa ini, yang pada akhirnya juga akan menjadi teman seperjalanan, menuju senja yang di sana.

(PrieGS/)

Senin, Februari 25, 2008

Kucing yang Bertamu

Di rumahku pada jam-jam tertentu, selalu kedatangan seekor kucing sebagai tamu. Mula-mulai ia cuma tidur-tiduran di bangku depan, lama-lama masuk ke dalam dan akhirnya menjelajah ke sekujur ruangan. Terakhir, sebagai bukti bahwa ia sudah akrap dengan keluargaku, ia telah diizinkan tidur di atas bantal besar kesayangan anak lelakiku.

Sementara si kucing tidur dengan nyenyak di bantal besarnya, anakku cukup mengambil tempat di sebelahnya, tidur dengan alas seadanya. Keduanya tidur bersama tetapi tidak benar-benar tidur. Sebentar-sebentar si kucing ini melenguh dan merubah posisi tubuhnya. Sebentar-sebentar anakku terjaga untuk mengamati seluruh gerakan kucingnya.

Tak bisa berlama-lama kucing itu dengan tidurnya, karena akan datang istri dan anak perempuanku untuk merubungnya. Berebut mengelus bulu-bulunya. Jika mereka hendak tertawa kucing ini digodanya sedemikian rupa. Jika kedua belah pihak telah merasa cukup bemain, sang kucing akan pamit pergi dengan caranya sendiri yang keluargaku telah menghafalinya.

Jika pintu kami tertutup, ia akan mengetuk-etukkan kakinya sampai pintu itu terbuka. Jika ia hendak pergi, anak dan istriku akan mengantarnya di depan pintu. Jika jam-jam kucing itu hendak datang bertamu, keluargaku tegang menunggu. Jika tamu itu benar-benar datang, semuanya berteriak girang. Sudah tentu, kecuali aku.

Dari seluruh keriuhan itu biasanya aku memang cuma mengamati dari kejauhan. Sikap inilah yang dianggap mengurangi kegembiraan keluargaku. Dianggapnya aku sama sekali tidak ikut bergembira bersama mereka. Anggapan itu pasti keliru. Ketika aku melihat anak lelakiku merelakan bantal besarnya untuk tidur si kucing, sementara ia sendiri cukup beralas apa saja, dari jauh mataku sesungguhnya telah berkaca-kaca. Tetapi pasti aku tidak mau kehilangan muka. Menangis di hadapan anak dan istri? Huh, gengsi! Maka biarlah aku terharu dengan caraku sendiri.

Ini bukan sekadar keharuan bapak atas anak, melainkan keharuan atas hasutan imajinasiku sendiri. Begitulah sejatinya seluruh hati anak-anak di dunia, seluruh hati manusia, ia selalu memiliki ruang-ruang yang besar untuk cinta, untuk menyayangi sesamanya. Dan ruang-ruang itu jika dibuka lebar-lebar, seluruh dunia ini akan berisi cinta.

Cinta yang besar itu cukup disulut dengan soal-soal sederhana. Kucing ini sama sesali kucing liar, ia bukan jenis anggora yang ningrat dan manja. Hewan ini datang tanpa diminta dan pergi tanpa dipaksa. Sesungguhnya, ia tetaplah kucing tanpa kelas. Tapi tak peduli siapapun dia, kedatangannya di rumah kami seperti menyalakan lampu raksasa.

Setiap meong pertama di kemunculannya akan langsung disambut suka cita. Anak-anakku akan berlarian dan istriku dengan sok anggun mengikutinya. Tapi sebetulnya tidak. Perasaan istriku itu pasti setara saja dangan anak-anaknya yang gegap-gempita. Cuma karena kedudukannya sebagai ibu, ia merasa perlu menganggun-anggunkan diri. Untuk menggembirakan seluruh keluarga, cukup dengan hanya meongan seekor kucing, betapa murahnya. Dan ketika kucing ini tiba gilirannya pergi, seluluruh keluargaku serentak terharu bersama.

Jangan disangka bobot keharuan lebih rendah katimbang kegembiraan. Keduanya setara dan sama menakjubkannya. Keharuan adalah kegembiran yang tengah bermetamorfosa. Maka ketika dalam sehari kami setidaknya memilik sekali kegembiraan dan sekali keharuan, sesungguhnya kami telah gembira berkali-kali. Belum lagl, kegembiraan atas kucing ini bisa kami perpanjang. Jika malam menjelang, kepada anak-anak, kami dongengkan betapa esok pagi ia akan ketemu kucingnya lagi.

Dan tidur berbekal kerinduan atas kegembiraan esok hari, pasti tidur yang menyenangkan. Dan pagi hari ketika mereka hendak ke sekolah, bersiap menempuh hari-hari yang berat, kami ingatkan, bahwa sepulang sekolah nanti, kucingnya telah menanti. Jika kegembiraan menjadi bekalnya, keberatan hidup itu pasti akan meringan dengan sendirinya. Cuma dengan seekor kucing liar yang tak jelas asal-usulnya, keluarga kami gembira setiap hari. Ini bukti satu lagi, bahwa kegembiraan itu sejatinya murah sekali!

(Prie GS/Cn08)

Rabu, Februari 20, 2008

Aku Ingin Mencintaimu Secara Bersahaja

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang biasa-biasa saja. Ini bukan karena aku tidak mencintamu, tetapi lebih karena aku takut pada bahaya cinta. Semua ini pertama; untuk kepentinganku sendiri, kedua untuk kepentinganmu dan ketiga untuk kepentingan kita bersama. Untuk kepentinganku, karena jika cintaku ini kandas, akulah pihak yang paling sakit.

Karena tak ada jaminan bahwa yang kucintai selalu mencintaiku. Untuk kepentinganmu; karena kesakitanku yang sangat, pasti akan membebani hidupmu. Padahal makin besar cintaku kepadamu, makin besar risiko kesakitanku. Padahal makin besar kesakitanku akan makin besar risiko kesakitanmu akibat kesakitanku. Untuk kepentingan kita, karena sakitku, mau tidak mau pasti akan menjadi sakitmu. Jadi makin besar kecintaanku akan makin besar risiko kesakitan kita bersama.

Lalu siapakah kamu itu? Kamu bisa siapa saja, karena cinta bisa jatuh kepada siapa saja. Bisa jatuh ke orang-orang terdekatku, bapakku, ibuku dan saudara-saudaraku. Maka cintaku yang keterlaluan kepada bapakku akan membuat bisa menantang siapa saja yang membencinya, meskipun misalnya bapakku adalah seorang penjarah uang negara. Kamu itu bisa pula berupa anak-anakku. Jika keterlaluan cintaku kepadanya, akan menggodaku berbuat apa saja demi kebahagiaannya.

Jika anakku adalah si bodoh misalnya, aku bisa ngotot merayu sekolahnya agar tetap diterima meskipun dengan cara membayar dari bawah meja. Jika anakku adalah pengangguran, maka akau akan berkolusi dengan siapa saja asal anak itu mendapat posisi, sambil tak peduli betapa ia miskin kompetensi. Padahal jika anak yang sudah aku bela mati-matian, dengan segala cara pula itu, kemudian cuma akan sibuk dengan dirinya sendiri dan lupa pada orang tuanya, yang lebih mencintai pasangannya sambil mengabaikan orangtua, lebih banyak tinggal di rumah mertua sampai lupa orangtuanya sendiri? aku pasti akan mengutuknya sebagai anak durhaka. Aku pasti akan makin marah saja jika ternyata, sudah kukutuk pun, eee kutukanku tak mempan juga!
Apa jadinya jika kamu itu adalah idolaku? Inilah yang kutakutkan karena aku bisa menganggapmu sebagai orang suci cuma karena sering melihatmu memberi nasihat di televisi. Maka aku akan berhenti menontonmu ketika kemunculanmu sudah keterlaluan. Aku takut engkau menjadi terlalu terkenal dan aku makin memujamu cuma karena popularitasmu. Betapa mudah membayangkanmu sebagai si sempurna, cuma karena televisi tak pernah menyutingmu ketika bangun tidur, sedang malas dan uring-uringan.

Televisi cuma suka mengambil adegan ketika engkau sedang sebagai si sempurna, si baik, si sabar dan si sejuk. Televisi sungguh tidak pernah jujur kepadaku, apakah kebaikan yang sedang ditampilkan itu kebaikan asli atau sekadar kebaikan industri. Sudah lama aku takut, jika televisi itu sebenarnya tidak sedang memopulerkanmu, tetapi sedang menghisapmu. Menampilkan wajahmu siang malam, pagi dan petang. Kemana remote control itu berpindah selalu cuma harus ketemu wajahmu. Aduh, begitu ingin berteriak mencegahmu tapi aku mencegah diriku sendiri. Aku khawatir jika kau anggap aku sebagai si cemburu pada popularitasmu.

Maka yang bisa aku lakukan hanyalah mencegah diriku sekuatku, sebisaku, agar aku tidak menjadi pemujamu cuma oleh hasutan televisi dan media massa. Tidak mudah, karena televisi telah menyita begitu banyak energi bangsaku cuma untuk menghabiskan waktu. Ia telah menjadi pengasuh bagi anak-anak, karib bagi ibu-ibu dan teman begadang bapak-bapak. Maka apa saja yang dimunculkan televisi, tiba-tiba menjadi nilai terpenting saat itu. Jelas, aku menolak untuk tertipu. Maka izinkan aku mencintamu secara bersahaja agar kita berdua tidak sama-sama tertipu dan menjadi korban hasutan media massa.

(Prie GS/)

Selasa, Februari 19, 2008

Jurus Menghibur Diri

Tak terbayangkan betapa berat beban hidup ini jika manusia tak dilengkapi dengan kemampuan menghibur diri. Lihatlah jumlah penderitaan itu, sejauh-jauh mata memandang, rasanya manusia cuma akan melihat derita dan persoalan. Lihatlah daftar persoalan itu, sambung-menyambung tanpa henti mulai lahir sampai mati. Tetapi jika hidup cuma berisi penderitaan, manusia pasti tak kuat bertahan. Begitu lahir, ia pasti akan langsung mati. Setengah dari hidup itu, pastilah berisi sang kebalikan. Maka antara derita dan kegembiraan, pasti sama banyaknya. Inilahlah yang membuat bahkan filsuf seperti Sartre kebingungan. Fakta bahwa manusia bisa bertahan hidup tanpa bunuh diri itu saja baginya sudah amat mengherankan.

Ya, banyak orang tergoda untuk mati karena daftar derita yang tak ada rampung-rampungnya. Tapi fakta bahwa jauh lebih banyak orang berani hidup katimbang berani mati juga bukti yang nyata bahwa di dalam hidup, seseorang boleh bergembira kapan saja dia mau, karena kegembiraan itu jumlahnya tak terhingga dan tinggal memungut begitu saja. Salah satu pintu kegembiraan itu adalah kemampuan menghibur diri seperti yang telah saya sebutkan. Dan jujur saja, hingga saat ini, jurus menghibur ini menolong saya dari bermacam-macam persoalan. Saya tidak malu disebut sebagai suka menghibur diri atas banyak kegagalan. Jika setelah gagal saya tak boleh menghibur diri, tak akan pernah bisa saya melahirkan kolom ini.

Misalnya saja ketika saya memiliki sepetak tanah, kecil saja, yang saya beli dengan menabung serupiah demi serupiah, tetapi ternyata suratnya tak juga rampung selama bertahun-tahun. Geram belaka bawaan saya setiap mengingatnya. Setiap melihat tanah ini bukannya seperti melihat harta karun, melainkan malah seperti melihat sumber kegeraman. Lalu apa yang saya lakukan? Tanah itu pelan-pelang saya buang dari pikiran. Tanah itu tetap di tempatnya, tetapi lokasi di pikiran saya telah berubah. Katimbang menatap tanah itu, saya lebih suka menatap gunung-gunung di sekitar yang terlihat dari rumah saya. Saya suka naik ke atas rumah dan menengadah melihat langit. Waa.. dunia ini luas sekali.

Begitu luasnya sehingga menempatkan pikiran hanya untuk berpikir tentang tanah secuil itu sungguh merupakan ketololan. Saya mengembangkan dada seluas yang saya bisa. Saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa tanah itu terlalu kecil untuk dipikirkan. Kalau perlu saya akan membeli pantai, membeli gunung dan lautan sebagai gantinya. Saya tidak tahu apakah keinginan saya ini masuk akal. Tetapi baru memikirkan keinginan ini saja hati saya sudah gembira luar biasa. Hati itu tiba-tiba terbimbing untuk menuju keumungkinan-kemungkinan yang luas tanpa batas. Hati dan pikiran itu akhirnya tidak cuma tergadai untuk soal-soal yang terlalu remeh jika badingannya adalah seluruh hidup kita.

Maka setiap memandangi tanah itu, saya tidak lagi terpaku pada surat-suratnya yang hingga tulisan ini saya buat belum rampung juga, melainkan malah seperti melihat seorang yang menegur saya untuk mau terbang lebih tinggi, untuk lari lebih kencang, untuk membeli apa saja karena dunia menyediakan apa saja jika saya menginginkan. Ya, banyak sekali soal-soal sederhana yang kita biarkan menyita hampir seluruh pikran padahal ia murah sekali jika bandingannya adalah seluruh dari kehidupan.

Minggu, Februari 17, 2008

Saya Mimpi Menjadi Casper

Untuk mengukur sejauh mana tingkat kematangan Anda sebagai manusia, cukup diukur dari kualitas mimpi-mimpi dalam tidur Anda. Untuk itulah kenapa belum lama ini saya menyesali sebuah mimpi yang menurut saya sangat dangkal dan tidak bermutu, yakni mimpi menjadi Casper, si hantu baik, salah satu tokoh kartun Disney.

Di mimpi itu entah bagaimana awal mulanya saya dikutuk menjadi hantu Casper. Sedih, karena tubuh saya menjadi mengkeret dan kehilangan konvensi gerak seperti lazimnya manusia. Tapi kepedihan ini pelan-pelan menemukan obatnya ketika serombongan anak-anak sekolah yang saya datangi tunggang langgang ketakutan. Bahkan sebuah truk yang sedang parkir pun kaget ketika saya bentak. Saat sedang membentak truk inilah saya terbangun karena istri keburu membangunkan saya.

Sungguh butuh terdiam lama untuk menjawab pertanyaan istri, tentang mimpi apa gerangan yang membuat saya sampai mengigau begitu hebat. Untuk berterus terang bahwa mimpi itu sekadar menjadi hantu Casper, pasti akan merusak ketegangan yang telah kami bina. Melihat kecemasan istri pun sungguh merupakan kebahagiaan juga. Saya jelas tidak ingin merusak kebahagiaan ini dalam waktu singkat.

Biarlah istri menduga, bahwa saya sedang bermimpi begitu seriusnya, mimpi mendapat wangsit semacam kejatuhan rembulan atau berselancar gagah di atas gelombang samudera. Itulah mimpi khas kaum aulia, orang-orang suci dan manusia yang dekat dengan bisikan-bisikan Tuhan. Membiarkan istri salah paham dan mengira suaminya adalah manusia yang dikasihi Tuhan juga kebahagaan tersendiri. Maka saya sengaja menyimpan rahasia ini hingga esok hari.

Karena benar juga, ketika saya terpaksa berterus terang, istri saya merasa sangat tertipu. Ia tak cuma geli tapi juga menyesal bahwa mimpi suaminya yang ikut menegangkan hatinya itu tak lebih dari sekadar mimpi hasil rembesan dunia keseharian yang mengendap dalam pikiran. Apa boleh buat, karena mimpi ini, terbukalah kualitas saya sebagai manusia, yang ternyata masih suka membawa persoalan-persoalan hidup yang remeh temeh, bahkan ke dalam tidur.

Betapa melelahkan hidup semacam ini. Karena hanya membenci seseorang tadi siang, di malam hari, orang itu bisa datang dalam mimpi untuk kita pukuli sampai klenger. Kita lalu puas untuk kemudian terbangun sambil kecewa lagi. Hanya karena ditekan oleh kesulitan hidup, kita bisa mengusung kesulitan itu untuk dipecahkan di malam hari lewat mimpi, untuk kemudian terbangun dan menderita lagi.

Bukan sekali dua kali saya dibikin lelah oleh mimpi-mimpi halusinatif semacam itu. Jadi jelas sudah, betapa saya adalah kualitas manusia yang masih mudah terguncang oleh hal-hal sepele, manusia yang belum cukup tenang untuk melupakan persoalannya hingga ke kamar tidur, betapapun remeh persoalan itu. Jadi, bahkan saat tidur pun, saat terbaik untuk mengendorkan semua ketegangan, untuk mengistirahatkan dari tekanan hidup yang penat, malah menjadi kepenatan tersendiri.

Jadi, jika dalam kesendirian pun, dalam keadaan paling pribadi pun, saya masih begitu gampang diguncang persoalan, betapa makin buruk kualitas saya di tengah keramaian, di tengah hidup sehari-hari. Apa jadinya jika saya melihat teman naik pangkat dan tambah kaya. Pasti teman ini akan muncul dalam tidur saya untuk saya pukuli dan saya hajar habis-habisan. Jadi, dalam tidur maupun jaga, saya ini orang yang terus menerus didera ketegangan!

Sungguh lelah punya kualitas mental semacam ini. Maka jika maagh saya kambuh, jika urat leher saya menegang diam-diam dan kepala pusing secara berkala, jangan-jangan semua ini bukan karena penyakit medis, tapi hasil endapan-endapan hidup yang tegang belaka.

Maka, jika Anda juga menderita penyakit saya, mari kita berobat bersama.

(PrieGS/)

Karena Aku Sering Numpang Mobilmu

Karena sering numpang mobil teman, tulisan ini akhirnya diturunkan. Temanku itu bermacam-macam tapi seperti seragam dalam satu keadaan. Ada yang kelas atas, menengah dan bawah, ada yang bermobil tua dan payah ada pula yang mewah, tapi hampir semuanya tanpa tong sampah. "Terus di mana kotoran ini harus aku buang," tanyaku. "Lewat jendela," jawabmu sekenanya.

Ini bukan soal tradisi buang sampah sembarangan yang memang sudah termashur di Indonesia. Ini lebih menyangkut soal kelakuan kita yang membuat kenapa kerusakan tatanan di hampir semua lini itu terjadi. Penyakit boleh menyebar menjadi bemacam-macam versi, tapi sumbernya ternyata satu saja: diri sendiri.

Prioritas kita terhadap diri sendiri ternyata masih luar biasa. Konsep membersihkan diri tanpa peduli kebersihan tetangga adalah hal yang biasa. Menjaga kebersihan mobil sendiri sambil membuang limbahnya ke mana saja, karenanya juga hal yang biasa. Akibatnya, yang bersih dan yang kotor, yang lebih dan yang kurang, di negeri ini memang bisa berdampingan dengan sangat kontrasnya.

Sanggup mengotori tanpa sanggup membersihkan adalah hobi kita. Itulah kenapa WC umum selalu jorok keadaannya, bus kota selalu cepat bobroknya dan kendaraan-kendaran iventaris selalu tak terurus kedaannya. Apalagi yang bisa diharap dari masyarakat yang hanya bisa memakai tanpa mau merawat, hanya mau enak tapi enggan menanggung risikonya, hanya bisa mementingkan diri sambil mengabaikan kepentingan sekitarnya.

Masyarakat seperti ini pasti akan merosot mutunya. Jika membentuk kesebelasan sepak bola pasti akan menjadi kesebalasan yang lemah. Yang kuat cuma suporternya. Dan ini juga cuma bukti baru betapa lemahnya kekuatan yang kita punya itu karena ia hanya berupa kekuatan untuk berbuat onar dan membuat kerusakan.

Dalam masyarakat yang egois semacam ini tak akan ada bentuk organisasi yang kuat, tak akan ada perencanan yang utuh dan tak ada orientasi yang terfokus. Jika kita membanagun sebuah kota, maka kota itu akan begitu ruwet dan penuh tabrakan kepentingan. Akan ada trotoar bukan untuk pejalan kaki tapi untuk bedagang dan malah menjadi lahan strategis untuk mendirikan posko partai. Akan ada jembatan penyebarangn bukan untuk menyeberang tapi untuk pangkalan pengemisdan penodong.

Jika kita adalah pengendara motor, maka ngebut di kegelapan tanpa lampu adalah kewajaran. Bikin kaget orang malah kalau perlu tabrakan lalu mati bersama bukanlah kejahatan. Maka juga bisa dimengerti, jika banyak pemilik mobil dan motor di Indonesia yang mengganti knalpot aslinya dengan knalpot baru yang lebih pekak, lebih bikin hiruk pikuk sekitarnya.

Jadi, membahagiakan diri sendiri sambil bikin budek kuping tetangga memang tujuan kita. Jika kita sopir angkutan maka membuat penumpang ketakutan adalah kebanggaan. "Bayangkan, dari kota A ke B saya haya menempuhnya dalam dua jam. Tancap terus. Penumpang di bagian depan malah sampai harus mengangkat kakinya hahaha…," kata kita gembira.

Jika kita anggota partai, maka dipakailah partai itu sebagai tak ubahnya perusahaan. "Prospeknya cerah," batin kita. Dengan mengatas namakan tegaknya kebenaran dan keadilan kita pun meneriakaan slogan. Sementara yag sebenarnya terjadi, kita ini tak lebih sedang mencari makan.

(PrieGS/)

Inul Pulang Kampung

Inul pulang kampung. Ia akan kembali pentas dari pangung ke panggung sambil introspeksi, sambil meminta maaf karena sekarang ini ia telah dianggap berdosa membenamkan musik dangdut yang telah naik derajatnya itu kembali ke comberan.

Maka sekarang jelas sudah: peta musik dangdut ternyata terbagi dua bagian: yang satu adalah pedangdut aliran putih, dan sisanya aliran hitam. Sebagaimana pendekar dalam cerita silat, tugas pendekar aliran putih ini adalah menumpas kezaliman dan menegakkan kebenaran.

Para pendekar yang telah begitu bersusah-payah membangun kemuliaan di bumi ini masgul karena segenap usahanya itu luluh lantak secara tiba-tiba akibat ulah golongan hitam. Maka para pedangdut sesat itu harus angkat koper dari tempat-tempat yang mulia seperti televisi dan panggung-panggung yang cuma cocok untuk trah kaum putih. Karena untuk sepanggung bersama pun para pedangdut putih itu merasa sedang berhadapan dengan pasien lepra.

Selain ada golongan putih, dunia musik juga memiliki golongan bapak dan ibu asuh. Dari rahim merekalah musik dangdut itu dilahirkan dengan mutu seorang anak jadah. Hanya karena berkat kesabaran merekalah, berkat kemuliaan dan mutu mereka sebagai orang tua asuh itulah, musik dangdut naik jenjang, menjadi anak baik-baik dan luhur martabatnya.

Sebagaimana galibnya orang tua, golongan ini kemudian merasa berhak menganggap anak sebagai hak milik. Sebagai hak milik, wajar jika orang tua ini berhak mengatur-atur, mencegah jika anaknya bergaul dengan teman yang berstatus rendah, marah jika si anak diajak ke arah yang salah. Dari awal, anak bernama dangdut ini sudah dirawat begitu rupa, sudah hampir menjadi anak yang menjunjung nama baik keluarga jika tidak tiba-tiba muncul para pedangdut berandalan yang menghancurkan semuanya.

Padahal jasa para orang tua ini sudah hampir sempurna. Mereka bahkan sudah layak dipatungkan dan dijadikan nama-nama jalan karena jasa-jasanya. Menyebut dangdut tanpa menyebut mereka adalah sebuah kelancangan. Membuat pembaruan tanpa restu mereka adalah langkah durhaka. Jangankan bermimpi menggeser kedudukan mereka, bahkan para generasi berikutnya itu, harus tahu diri. Jangan sukses tanpa menganggap mereka sebagai senior, panutan, guru, dan minimal sesepuh.

Maka bahkan soal cara bergoyang pun harus dikonsultasikan. Jangan bergoyang tanpa mendapat restu. Ingat, dangdut sudah menjadi hak milik pribadi, dan jangan ada pihak lain mencoba bermain api. Jangan mengotori goyang yang sudah ditetapkan karena moral dan keluhuran itu sudah pula digariskan. Maka pihak di luar garis ini, jelas kedudukannya: perusak moral bangsa, artis kampungan dan penyanyi tanpa kasta. Jadi memang ada bangsa yang begitu rapuh moralnya hingga terhadap goyang pinggul saja langsung porak-poranda.

Begitulah wajah musik dangdut di Indonesia. Musik yang semula dikira milik kaum pinggiran, musik rakyat kampungan ini ternyata diam-diam telah menjadi anak pingitan. Ia telah menjadi hak milik sebuah kekuasaan. Dan seperti lazimnya kekuasan, ia langsung berkuasa menentukan baik-buruk, boleh-tidak boleh, halal-haram, taat-sesat, tanpa berkonsultasi dengan rakyat kebanyakan. Padahal sementara para penguasa itu demikian tegang, rakyat kebanyakan ini biasa tenang-tenang saja.

Tapi sudahlah. Inul sudah terlanjur pulang kampung dan kita lupa mengantarnya. Orang boleh tidak menyukai goyangannya, tapi siapa saja yang sedang menjadi korban kekuasaan, berhak atas santunan, setidaknya teman perjalanan.

(PrieGS/)

Sabtu, Februari 16, 2008

Istriku Mengaku Kuper

Bisa jadi karena jenuh menjaga rumah, merawat anak dan mengurus suami, istri saya terpaksa ngomel. ''Anak-anak dan bapaknya sama saja. Menjadi tukang perintah. Saya adalah babu besar,'' katanya sambil bersungut-sungut. Tapi itulah kehebatan istri, meskipun sambil ngedumel, tangannya terus bekerja. Menyingkirkan gelas kotor, melap kaca, membereskan semua barang yang berseliweran hasil kenakalan anak-anaknya.

Saya sebetulnya senang melihat istri ngomel seperti ini. Pekerjaannya pastilah berat. Dan ngomel adalah obat yang sehat. Toh sambil marah-marah begitu, pekerjaannya malah makin beres. Dengan ngedumel, tiga keuntungan diperoleh sekaligus. Kemarahan batin disalurkan, fisik disehatkan, dan pekerjaan dirampungkan. Tapi istri saya terlalu banyak diam. Ngomelpun hanya kalau terpaksa. Ini menurut saya sebuah kerugian.

Padahal sudah sejak awal, saya adalah orang yang secara dini membayangkan betapa berat pekerjaan seorang istri, khususnya lagi istri saya. Karena sebagai lelaki, saya telah kepalang menganggap, bahwa dunia paling cocok bagi istri adalah rumah dan seisinya. Artinya, itulah petisi yang harus ditandatangani sebelum akad perkawinan tiba.

Sudah tentu anggapan ini bisa keliru dan malah bisa berbahaya bagi lain keluarga. Maka anggapan ini cuma soal pilihan, tak ada kaitannya dengan benar dan salah. Yang menjadi pokok persoalannya bagi kami ialah bagaimana agar istri saya nanti kuat menahan beban berat ini. Karena bentuk pilihan lain, misalnya dengan mengizinkan istri bekerja, sudah tidak saya punya.

Dan kecurigaan yang saya bayangkan itu datang juga. Istri mulai merasa cuma objek yang dikurungi, dianiaya dan diisolasi dari dunia luar. Malah, pernah sekali ia mengancam akan benar-benar menjadi istri kuper, menjadi istri yang kurang gaul. ''Biar engkau malu. Karena hanya dengan cara begini, aku bisa membalas dendamku kepadamu,'' katanya masih dengan muka ditekuk. Omelan kali ini ia sampaikan sambil memijitku.

Sekali lagi, omelan ini menyenangkan saya. Karena itu sehat untuk istri, menggembirakan untuk saya. Gembira dalam arti, betapa senang melihat istri bersungut-sungut, betapa saya menikmati kesalahpahamannya. Salah paham dalam arti: ia menyangka bahwa menjadi kuper itu musibah. Padahal bagi saya, ada jenis kuper yang asyik. Karena faktanya, ada manusia menjadi rusak karena pergaulannya, dan ada yang selamat karena kekuperannya. Menjadi modern dan menjadi kampungan, ternyata tak ada hubungannya dengan mutu kelakuan manusia.

Istri saya juga menyangka, betapa akan semakin kuat keadaan ekonomi keluarga jika ia boleh membantu saya bekerja. Sungguh ini jelas sebuah kesalahpahaman yang lain lagi. Kenapa ia meminta izin kerja padahal ia sudah sangat bekerja? Dibanding gaji kantor yang rata-rata rendah untuk pegawai pemula, bayaran istri sungguh sudah sangat tinggi. Bayaran itu berupa anak-anak yang selalu bisa berdekatan dengan ibunya, selalu mendapat guyuran perhatian kapan saja yang dia minta. Bisa rewel dan bermanja-manja kapan saja. Ayo, tanyakan kepada anak-anak yang kesepian, yang bapak-ibunya sibuk bekerja, yang ketika sangat ingin bercerita, orang tunya tak ada. Tanyakan, betapa berat derita mereka. Lalu, berapa gaji yang harus dipatok pada seorang karyawan yang bisa menghasilkan kerja segemilang ini?

Lalu soal rezeki itu, wah dia salah paham lagi. Ia menyangka, bahwa hanya karena saya yang bekerja di luaran, penghasilan itu semata-mata penghasilan saya. Ini keliru. Karena sejak semula saya telah ragu, apakah jika saya mendapatkan uang, uang ini bener-benar rezeki saya atau rezeki istri saya yang dititipkan ke saya. Jangan-jangan bagian saya kecil saja dan bagian dialah yang selama ini menopang kebutuhan keluarga. Jangan-jangan sebetulnya saya ini cuma kuli dan dia juragannya. Maka melihat seorang juragan sedang mengomeli kulinya ini, sambil membayangkan keadaan yang sebaliknya, sungguh membuat saya suka tertawa dalam hati.

(PrieGS/)

Hidup Enak, Mati Enak

TAK semua orang yang hidup enak bisa mati dengan enak. Terbukti banyak ''orang enak'' yang bisa mati secara tidak enak. Tapi Umar Kayam, adalah sedikit dari manusia yang saya duga sanggup memperoleh dua keenakan itu sekaligus.

Menatap kehidupan Umar Kayam, adalah menatap kehidupan seorang ''priyagung'', priyayi agung. Priyayi adalah gambaran sebuah kemewahan dan agung adalah gambaran kemewahan lain lagi. Umar Kayam seperti sanggup mengenyam dua kemewahan itu sekaligus.

Tapi jangan salah, ia memperoleh kemewahan itu justru ketika ia menganggap yang priyayi dan yang agung itu sekadar dunia main-main dan tak lebih dari humor belaka. Kata agung itu bagi Kayam cuma setara dengan sebutan Ageng untuk nama tokoh dalam kolomnya, yang akhirnya menjadi stereotip dirinya sendiri. Cuma setara dengan sebutan Garuda Yeksa, yakni panggilan untuk Jeep tua yang menjadi kendaraan pribadinya.

Artinya, yang priyayi, yang agung dan ageng itu bagi Kayam hanya sebuah dunia main-main, dunia klangenan dalam meledek diri sendiri. Tapi apa boleh buat, akhirnya Kayam malah membesar dengan dunia klangenan-nya itu. Kekuatan kolomnya juga terletak pada gaya yang disebut Sapardi Joko Damono sebagai glenyengen itu, selengekan, tidak sok profesor dan sok guru besar itu.

Dengan kepribadiannya itu, akhirnya Kayam malah mencatat keagungannya sendiri. Agung dalam pengertian yang nyaris sebenarnya. Karena jika Kayam ingin menulis novel, ia langsung diungsikan oleh sponsor nyepi ke luar negeri. Jika Kayam berkata ''tidak'' kepada universitas yang hendak mengangkat doktor honoris causa, batal pula rencana ini. Jika Kayam hendak nonton pertunjukkan kesenian, ada panitia yang menyediakan kursi ''kebesaran''. Ketika Kayam pamit pensiun, ia disambut pesta. Ketika ia sembuh dari sakit, semua ikut bersyukur dan bergembira.

Fenomena Kayam sebagai budayawan, benar-benar pernah menggentarkan kami, anak-anak muda yang memiliki interest ke arah ini. Secara prbadi, sebagai wartawan pemula, saat itu saya malah sempat menyusun daftar idola yang harus saya buru. Salah satunya adalah Umar Kayam ini. Sepanjang perburuan itu, pengidolaan saya atas Kayam makin menjadi-jadi bukan karena nama besarnya semata, tapi juga karena saya menyaksikan langsung, betapa banyak pihak terhormat menaruh rasa hormat yang nyata pada orang ini.

Sambil menunggu diterima oleh Pak Ageng, si penunggang Garuda Yeksa itu untuk giliran wawancara, saya juga melihat P, seorang intelektual, tokoh, ilmuwan yang juga sedang menunggu Kayam dengan gaya anak tengah menunggu bapak. Saya melihat S, tokoh sepuh, yang juga tengah mendatangi Kayam dengan gaya bawahan yang hendak ''sowan''. Jalan pikiran saya sederhana, jika begitu banyak orang terhormat menaruh hormat pada Kayam, lalu kehormatan jenis apa yang dimiliki tokoh ini?

Terhadap Kayam, seorang budayawan beken lain bisa ngedumel dengan nada kabur; antara kagum dan iri, antara takut dan segan: ''Alam begitu memanjakan orang ini,'' katanya.

Tapi bagi sekadar fans Kayam seperti saya, tokoh ini mengisyaratkan satu hal penting saja: betapa Kayam sanggup menjadi ''priyayi'' tanpa orang ribut apakah ia benar-benar berdarah biru. Sanggup menjadi agung dan ageng tanpa orang berdebat soal kriteria kualitatifnya. Sanggup bertahta di atas singgasana yang singgasana itu cuma berupa cerpen, novel, kolom, humor dan kepribadian dia seluruhnya. Kayam sanggup memiliki kerajaan cuma dengan basis humor dan kepribadian, bukan basis duit atau kekuasaan. Ini sungguh-sungguh sulit untuk tidak disebut mengesankan. (03)

(PrieGS/)

Doa Yang Salah Jurusan

Ini kisah seorang bapak muda dengan anak prematur yang tengah menjemput ajal. Bayi itu, hanya sekepal tangan besarnya dan cuma bisa tergolek kaku di inkubator dengan tubuh seluruhnya membiru. Bibirnya sama sekali menolak bereaksi dan tubuhnya dipenuhi empat selang di empat penjuru. ''Harap tabah,'' kata dokter kepada bapak muda ini. Ia bapak yang cerdas, apa arti kalimat dokter ini telah ia pahami.

Bapak muda ini seorang santri. Maka rerfleks santrinya cepat bekerja. Menghadapi ancaman maut seperti ini, ia menggali tradisi yang jamak di desanya, yakni dukungan sebuah jamaah doa. Sementara ia sendiri menunggui anak di rumah skait, ia meminta orang rumah untuk mengumpulkan tetangga dan memohon dukungan doa hidup bagi si anak.Tak sulit menjalankan tradisi ini, karena kampungnya memang kampung santri. Tak cuma kampungnya, keluarganya sendiri adalah para pendoa ulung karena mereka keurunan seseou desa yang juga kiai. Tapi hari itu, kampung sedang kosong. Seluruh kiai dan pendoa terbaik di kampung itu sedang berziarah ke makam para wali, termasuk sebagian besar keluarganya sendiri. Yang ada hanyalah para pekerja dan jika masih tersisa seorang pendoa itu pun cuma pendoa papan bawah dengan lidah cadel pula.

Di hari-hari biasa, orang ini hanya layak menjadi jamaah dan penggembira. Ia jenis manusia kebanyakan dan diangap warga kelas dua. Tapi orang inilah satu-satunya yang di hari itu layak menjadi imam dan memimipin doa karena lain tak ada. Dari rumah sakit, bapak muda ini hanya bisa tepana. Keadaan anaknya yang sudah amat payah.

Keadaan semacam itu jelas butuh doa kelas satu. Dengan doa itupun hasilnya hanya Tuhan yang tahu. Padahal yang tersedia cuma doa lapis bawah. Maka si bapak muda ini pasrah. Ia membiarkan majelis doa seadanya itu berjalan semampunya.

Tapi dasar imam papan bawah. Sudah mutu bacaannya payah, ia membaca doa yang salah pula. Yang dibacakan oleh majelis kacau ini adalah doa percepatan kematian. Dari rumah sakit, bapak muda yang mendengar kabar tentang jenis doa apa yang dipanjatkan untuk anaknya itu cuma tambah gundah belaka.Para pendoa itu, jangankan mengerti salah dan benarnya jenis doa yang mereka baca, karena untuk memahami apa arti doa yang mereka ucapkan pun sudah di luar kesanggupan. Jadi doa itu derajatnya cuma serupa mantera yang mereka ucapkan tak lebih karena semata-semata cuma hafalan. Hafalan pun, doa itu adalah satu-satunya hafalan yang mereka bisa.

Jadi lengkap sudah. Di mata bapak yang sedang berduka ini, nasib anaknya sudah ditentukan. Ketabahan harus dia siapkan. Doa yang yang salah jurusan itu hanya isyarat, bahwa Tuhan belum mempercayakan titipan anak itu kepadanya. Ia meyerah.

Tapi belum genap kepasrahan itu berjalan kekagetan sudah menyergapnya. Esok hari, bibir anaknya itu bergerak-gerak. Anak yang semula cuma seperti sekepal patung itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dari vonis tiga bulan harus mengeram di inkubator, cuma dalam waktu sebelas hari anak itu bisa diboyong pulang. Kini anak yang menghebohkan itu telah tumbuh menjadi bayi yang montok, sehat dan cerdas.Bapak muda ini, setiap kali memandangi anaknya dengan ketakjuban, selalu juga diikuti oleh takjub lanjutan, yakni takjub pada para pendoa kelas dua itu. Para pendoa papan bawah yang cuma hafal doanya tapi tanpa paham maknanya itu.

Cuma bisa bisa hafal itupun cuma satu-satunya hafalan. Tapi jika doa murahan semacam itu pun dikabulkan, berarti ada jenis sifat Tuhan yang harus ditambahkan, yakni Maha Suka-suka. Mau mengabulkan doa atau tidak suka-suka Tuhan saja, bukan karena mutu pendoanya.Maka, bagi pendoa yang terlalu fasih, teralu lancar lidahnya, terlalu merdu suaranya, jika saking merdunya malah takjub pada kemerduannya sendiri, penting mewaspadai hukum Tuhan yang satu ini! (Cn08)

(PrieGS/)

Rabu, Februari 13, 2008

Harga Sebuah Kedekatan

Dekat karena sering bertemu dalam diskusi dan seminar, itulah perkenalan saya dengan Pak Mardiyanto Gubernur Jawa Tengah yang sekarang adalah Mendagri itu. Di Radio Suara Sakti Semarang, saya malah pernah memiliki acara ngobrol dengan beliau sebulan sekali. Setting ini saya ceritakan cuma untuk menegaskan, betapa berteman dengan pejabat tinggi bisa menambah anggaran tak terduga.

Pengalaman ini buktinya. Terjadi di tengah event olah raga massal di sebuah stadion dengan Gubernur sebagai tamu kehormatan dan saya bertindak sebagai moderator dalam acara dialog di sela-selanya. Jadi wajar jika saya harus berdekatan dengan Gubernur, ngobrol duduk bersama di kursi kehormatan. Sok akrap begitulah. Gaya ini dalam beberapa hal saya sengaja biar dikira saya memang orang penting.

Di lihat sepintas, obrolan kami ini pasti tampak begitu seriusnya. Seperti tengah memperbincangkan nasib negara saja. Padahal yang kami bicarakan itu tak lebih dari soal yang remeh-temeh saja, hal-hal yang bisa jadi seorang Gubernur jarang membicarakannya sebagai manusia. Barangkali karena asyik, kami jadi tampak serius. Di lihat dari kejauhan, saya pasti terlihat begitu penting dan sedang bicara soal proyek rahasia dan urusan-urusan penting kebangsaaan. Jika tidak mana mungkin seorang Gubernur mau menanggapi begitu serius? Inilah kuncinya: meksipun bukan soal penting, jujur saja pembicaraan itu memang menarik hati kami berdua. Soal apa isinya, biarlah menjadi rahasia sejarah.

Tetapi tidak ada gaya yang tidak butuh ongkos. Dalam konteks ‘’keluar ongkos’’ inilah saya harus menyesali adegan itu. Kenapa? Karena acara ini ternyata juga telah diincar pantia sebagai sarana menarik sumbangan untuk amal sosial, dengan Gubernur sebagai target pertamanya. Dari jauh, saya sudah tegang melihat kotak sumbangan yang mulai diedarkan.

Bukan apa-apa, persoalannya tidak ada uang kecil di dompet saya, cuma selembar saja dan itupun cuma satu-satunya. Saya ingat betul, itulah duit yang saya minta paksa dari istri saya yang diberikan dengan catatan pula; ia harus dipotong untuk membeli susu anak kami yang waktu itu masih balita.

Tapi alamak: kedudukan saya telah kepalang begitu penting, duduk bersama Gubernur dan berbincang serius pula. Maka usai Gubernur memasukkan sumbanganya, saya juga tak mau kalah. Dengan segenap keteguhan bak seorang dermawan sungguhan, saya relakan uang semata wayang itu walau hati saya remuk redam. Kesialan saya bertambah lagi ketika sebagai moderator dialog, saya sama sekali tak berhak menuntut honor dari sebuah pentas amal. Sialan!

(Prie-GS.Com)

Anakku Sudah Bisa Kencing Sendiri

Kami sekeluarga belum lama ini menyelenggarakan sebuah syukuran sederhana atas keberhasilan anak bungsu kami yang masih balita karena ia sudah bisa kencing sendiri. Ini adalah prestasi pertamanya sejak ia bayi. Kami semua berteriak gembira menyambut hari yang bersejarah ini. Dan si anak bukan main gembira melihat respon sekitarnya yang begitu luar biasa. Ia merasa telah menjadi anak gede, suatu imajinasi yang tak henti-hentinya ia bayangkan. Ia mulai merasa nikmatinya menjadi gede dan menolak disebut sebagai bocah.

Memang kencing pertama ini belum sempurna. Masih muncrat di sana-sini, baju serta kaos anak ini pun menjadi pesing semua. Ia pun belum cukup sabar untuk menunggu tetes terakhir habis dan sudah buru-buru memasukkan titit kecilnya itu kembali ke celana. Tapi siapa peduli atas ketidaksempurnaan ini. Kami semua menciuminya bertubi-tubi dan kami kabarkan prestasi ini ke tetangga dan sanak saudara.

Kami tidak peduli apakah para tetangga ini peduli. Kami juga tak mau repot-repot apakah respon mereka itu sekadar basa-basi, tulus atau malah muak. Yang jelas kami menjadi sibuk dengan kegembiraan kami sendiri. Bagi kami yang merawat ini sejak ia masih dalam kandungan, prestasi semacam ini jelas sesuatu yang mengguncangkan. Inilah ancaman beranak-pinak, kami begini gampang menjadi menyebalkan tanpa kami sadari.

Bayangkan, jangankan membuka celanannya sendiri untuk kemudian bisa pipis sendiri, bahkan ketika anak ini mulai bisa menatap benda-benda, mulai bisa menatap lawan bicaranya pun, kami semua berteriak-teriak gembira. Ketika kemudian ia bisa mengapai-gapai dan bersuara, kami berteriak-teriak lagi. Pendek kata, sepanjang menyangkut soal anak, hidup kami menjadi penuh teriakan.

Tapi setelah rampung menuntaskan hajat kegembiraan ini saya mengajak istri untuk bincang-bincang secara serius. ''Mulai saat ini, anak kita sudah akan terbiasa mengelola tititnya sendiri. Memang masih akan butuh bantuan kita, tapi sepenuhnya, barang itu akan menjadi miliknya yang sangat pribadi. Ia akan menjadi anak muda nanti. Dan kita pernah mengalami sendiri, betapa berat menjadi anak muda. Kita sendiri butuh jatuh bangun untuk menyelamatkan masa muda kita. Jurang menganga di mana-mana dan kita suka atau terpaksa pasti pernah berada di tepi-tepinya. Beruntung tidak sampai nyebur, tapi sungguh itu adalah sebuah tahapan yang sangat berbahaya. Terpeleset sedikit kita sudah langsung akan terkubur di dalam aib bersama.''

Istri saya mulai sentimental. Matanya mulai berkaca-kaca. Saya tetap tidak peduli dan semangat kotbah saya malah menjadi-jadi. ''Padahal kau tahu, mengurus titit itu makin lama makin tidak mudah. Bayangkan, jika banyak remaja sekarang ini tidak cuma bebas pacaran tapi juga bebas begituan. Sambil begituan pun mereka mereka bisa memotret aksinya sendiri, merekamnya sendiri untuk akhirnya dipertontokan sebagai bioskop umum nasional,'' kata saya. Kali ini saya terpaksa menghentikan kotbah karena istri saya sudah menangis dengan kerasnya. Sebabnya jelas, ia pasti tengah membayangkan fantasi buruk tentang anak kesayangannya.

Di luar, anak-anak saya tampak bercanda dengan gembira. Si balita, yang lagi-lagi dengan suara keras pamer pada teman-temannya bahwa betapa ia sekarang sudah bisa pipis sendiri. Sementara banyak anak-anak tertawa mendengar pengakuan anak ini, tangis istri saya malah makin menjadi-jadi.

Susah payah saya menenangkannya, ini bukti bahwa beranak-pinak tidak cuma berisi teriakan dan kegembiraan semata, tapi juga puasa terus-menerus. Puasa dalam berbagi bentuk. ''Aku puasa untuk tidak selingkuh, dan kamu kuat puasa untuk setia,'' kata saya.

''Karena jika orang tuanya rajin puasa, anak-anak itu pasti terperangkap dalam resonansinya. Jika ia melanggar pasti cukup sewajarnya. Jika ia terpeleset, pasti cepat bangunnya dan jika ia salah, pastilah mudah ampunannya,'' tambah saya sok berfilsafat.

Maka tantangan saya pada istri ialah: kuatkah kita berdua selalu berpuasa menghadapi zaman yang keras ini. Ia tidak menjawab. Tapi begitulah gayanya jika ia sedang setuju. Mirip ketika saya pertama kali melamarnya. ''Puasa, siapa takut!'' kami berdua akhirnya tertawa.

(PrieGS/)

Anakku Seorang Penjilat

Anak lelaki saya, 4 tahun, memiliki kebiasaan dan bakat yang betul-betul tidak pernah saya harapkan, yakni bakat seorang penjilat. Apa saja hampir dijilatnya, termasuk tahi lalat di jidat mbah kakungnya. Saya panik juga melihat kenyataan ini.

Bukan cuma karena kelakuan ini memalukan, tapi juga karena alasan kebersihan dan kesehatan. Zaman ini makanan saja bikin penyakit, apalagi jidat, walau milik embahnya sekalipun. Banyak ragam snack tapi kami bingung memilihnya karena hampir semua jajanan itu selalu berakibat buruk bagi anak ini. Radang tengorokan, amandel bengkak, batuk pilek, adalah penyakit hafalannnya.

Bukan penyakit berat memang. Tapi untuk panik terhadap nasib anak, memang tak perlu harus sakit berat. Hanya karena panas ekstra di telapak kakinya pun sudah membuat orang tua ini dipangang ketegangan.

Kembali soal kebiasaannya menjilat itu, saya pernah sangat keras menghardiknya. Dan anak ini tampaknya sudah memiliki taktik untuk mempecundangi bapaknya. Pertama, ia pasang mimik memelas terhadap hardikan ini. Dan kedua ia mendekat untuk menyerah dan minta dipeluk hanya untuk menjilat kuping saya. Melihat saya kaget dan gagal untuk tidak tertawa, anak ini gembira bukan main. Sejak saat itu ia dengan leluasa melampiaskan bakat menjilatnya tanpa rasa takut. Setiap saya hardik, ia sudah punya jurus andalan sekarang: malah akan berbalik mengejar untuk menjilat kuping saya.

Maka sudahlah. Saya menyerah. Sambil menyerah saya merenung dengan serius, jangan-jangan, ini semua lantaran karma masa lalu saya. Seingat saya, sikap sinis saya terhadap watak seseorang yang saya anggap sebagai penjilat, memang sering kelewatan. Saya kerap diam-diam menjadikannya sebagai obyek sendau-gurau. Pendek kata, hina betul orang semacam itu di mata saya. Jadi, jangan-jangan penghinaan inilah yang karmanya menular ke anak saya yang dengan azab yang lebih nyata: menjadi penjilat dalam arti sesungguhnya.

Sunggguh ini bukan klenik. Untuk ini saya punya pengalaman yang akan terus saya kenang. Saya sangat menyukai anak-anak, bahkan sejak sebelum menikah. Begitu juga dengan anak balita tetangga yang sering saya gemas-gemas dan saya panggil dengan si iler boros, karena bawaannya ngeces melulu. Dan bertahun kemudian, anak pertama saya, perempuan, memiliki kebiasaan ngeces yang sama. Hahaha...melihat ilernya yang gampang menetes itu, saya selalu teringat si iler boros yang menggemaskan yang sekarang sudah jadi remaja tanggung dengan tampang mengagumkan.

Jadi, begini besar bahaya sendau gurau dan ledekan itu, betapapun ada niat baik di dalamnya. Terhadap si iler boros tadi rasa sayang saya luar biasa. Tapi Tuhan tetap tidak pandang bulu, karena rasa sayang saya berlawanan dengan adab dan sopan santun saya dalam memanggilnya..

Jadi, jika kasih sayang saja tetap membuahkan kutukan, apalagi sikap sinis dan kebencian. Kebencian saya terhadap penjilat itu bisa jadi keliru atau setidaknya terlalu bersemangat. Karena apa pula batasan seseorang boleh disebut penjilat? Tidak jelas. Padahal jika batasan itu cuma sekadar watak suka bikin senang atasan, tidak berani mengritik terbuka, selalu berkata iya, dan ngedumel diam-diam, sudah tentu ini pekerjaan hampir semua pihak yang punya atasan termasuk saya.

Jadi dengan dalih apa saya boleh menuduh orang lain lebih hebat dari saya dan menganggap saya telah bebas dari watak penjilat. Kebiasaan anak saya itu mengajari saya untuk tidak sok terhadap orang lain. Sebabnya jelas, selain berisiko membuahkan karma, toh saya jadi ingat bahwa diri sendiri pun juga bukan orang mulia. Trims atas jilatanmu nak!

(PrieGS/)

Anak-anak Menerima Rapot

Musim anak menerima rapot, mirip Lebaran saja layaknya. Sekolah jadi ramai sekali. Mobil-mobil berderet, dan ada bazar pula sebagai pelengkapnya. Sementara anak-anak langsung sibuk dengan keramaian, orang tualah yang tegang tehadap rapot anak-anaknya.

Para guru menjadi seperti pejabat saja layaknya. Diantre demikian rupa. Para orang tua itu, ada yang cuma bapaknya, ada yang cuma ibunya, ada yang lengkap bapak dan ibunya, seperti pasien yang saling berebut dokter.

Dan rapot itu, seperti diagnosa penyakit, yang ditunggu dengan segenap ketegangan. Jika vonis dokter ternyata menggembirakan, jika ranking anak naik, seorang ibu bisa keluar ruangan seperti pasien rampung dioperasi. Tangannya melambai ke mana saja. Tawanya berderai ke segenap jurusan dan ia menjadi ramah luar biasa.

Tapi jika ranking anaknya melorot, nilai-nilainya merosot, orang tua ini bisa menjadi pasien yang hendak menyandera dokternya. Ia mengusut habisan-habisan: ada apa dengan penyakit anak ini, kenapa ia tiba-tiba terserang wabah goblok. Padahal semua jenis alat kepintaran telah disediakan, jam belajar ketat diterapkan, hukuman kemalasan kerap dijatuhkan, tetapi kenapa ranking ini merosot juga.

Pendek kata ini kemerosotan harus dijelaskan sejelas-jelasnya. Jangan-jangan semua ini salah gurunya. Pokoknya, kekecewaan ini harus dihibur sebesar-besarnya. Guru itu harus tetap di tempat, melayani segenap keributan ini dengan kesabaran ekstra. Ketika giliran saya tiba, guru ini pun bersiap melayani kecerewetan berikutnya. Senyum ramahnya masih mengembang. Tapi mustahil disembunyikan, betapa ia telah amat lelah akibat telah menjawab ragam pertanyaan, begitu sibuk melayani berbagai interogasi dan keluhan. Betapa ada saja jenis orang tua yang terlalu banyak bertanya, terlalu banyak tidak puas, meski semua jawaban sudah diberikan.

Karena sesungguhnya, para orang tua yang sedang berduka itu memang tidak sedang bertanya, tapi sedang ngerumpi, curhat sedang menumpahkan perasaan. Jadi tak ada batasan waktu bagi pemuas perasaan. Maka kalau boleh jujur, guru ini pasti sudah depresi dengan topeng keramahan. Maka senyum yang mengembang di depan saya itu lebih mirip senyum manusia yang nyaris putus asa. Ia telah hampir menyerah karena apapun situasinya, ia cuma satu pilihan: keramahan. Jadi sebel sambil ramah tentu tugas yang menyiksa.

Tapi guru ini pasti salah sangka. Karena sejak jauh-jauh hari, saya sudah tidak berniat mengganggu kelelahannya. Saya cuma butuh menerima rapot itu untuk secepatnya pulang, itu saja. Bagi saya ranking anak naik-anak merosot tak membuat berubah hidup saya. Semua masih begini-begini saja. Jika anak ranking pertama, bukan berarti ia terlalu pintar. Jika anak merosot nilainya, bukan berarti ia terlalu goblok. Jadi tak perlu harus serba buru-buru.

Maka ketika keputusan itu pula yang saya ambil, guru ini nyaris terbelalak. Bisa jadi ia bergembira atas sikap saya, tapi bisa juga dihinggapi rasa bersalah karena telah berpikir dengan prasangka. Jangan-jangan saya juga akan bawel seperti yang ia duga.

Dan ketika saya bener-benar berlalu tanpa membuka rapot itu di hadapannya, melakukan klarifikasi, menginterogasi segenap asal usul nilai anak, dan meyakinkan bahwa apapun nilai yang ada di dalamnya tidak membuat gengsi saya di kampung turun, tidak membuat saya menjadi tambah miskin atau tambah kaya, tidak juga membuat anak saya bergembira atau berduka karena ia tengah sibuk dengan bazarnya.... Guru ini tampak lega luar biasa. Lega karena tak harus lagi harus melayani kecerewetan yang pasti sudah membosankan hatinya itu.

Benar, keputusan ini saya ambil, karena ada perasaan tidak tega mengganggu guru yang sudah lelah ini. Yang saya tidak tahu, apakah besar gajinya sudah sepadan dengan besar tanggung jawabnya. Walau niat ini sebetulnya bukan niat utama. Yang utama ialah karena saya tidak tega membayangkan anak saya menjadi pihak yang teraniaya.

Dia masih sekecil itu. Adakah ia akan saya tuntut untuk pintar metematika, agama, bahasa, menggambar, sempoa, komputer, menyanyi, menari dan olah raga sekaligus. Adakah ia adalah anak seorang superhero yang bisa menjadi ahli apa saja di usia sedini itu. Saya khawatir semua ini hanyalah sarana menjadikan anak sebagai alat pemuas bapak-ibunya.

Maka, katimbang sibuk membuka rapot anak demi melihat nilainya, saya lebih suka melihat foto si kecil ini yang bikin tertawa karena matanya yang memelas dan bibirnya yang cenderung ngowoh dan terbuka. Hahaha.... Sungguh fotocopy bapaknya! Saya bersyukur, apapun kualitas tampang anak saya, ia tidak mirip wajah tetangga.

(PrieGS/)

Sabtu, Februari 02, 2008

Kita adalah Orang-orang yang Menunggu

Setiap kali saya merasa aneh setiap melihat tukang tambal ban. Keanehan terjadi ini membuat saya tidak tahan dan terpaksa jadi tulisan. Amatilah, jika sedang tidak ada kerjaan, tukang tambal ban ini pasti memandang kejauhan, kadang kosong dan menerawang. Ada berjubel imajinasi di kepalanya, tapi hampir satu yang pasti, datangnya ban bocor adalah soal yang paling dia bayangkan. Dan fakta bahwa orang ini sudah bertahun-tahun menjalani profesinya, adalah bukti bahwa ban bocor itu setiap hari ada. Dan bahwa ada ban yang selalu dibocorkan oleh keadaan hanya untuk memberi rezeki orang ini saya kira jauh lebih ajaib katimbang Borobudur dan Air Terjun Niagara. Itulah kenapa menunggu adalah kegiatan yang menakjubkan saya karena ia adalah bentuk usaha tertinggi yang bisa dilakukan manusia.

Apa yang bisa kita kerjakan selain menunggu? Benar ada seminar, ada motivasi, ada kursus ketrampilan, kursus kepribadian, manajemen cepat kaya dan sebagainya. Tetap setelah semua itu dilakukan, pekerjaan terakhir tak ada. Menunggu itulah akhirnya. Seluruh dari kita ini tak lebih dari kaum penunggu. Maka di dalam caramu menunggu itulah terletak martabat hidupmu, begitu nasihatku kepada diriku.

Tukang tambal ini, akan saya anggap gugur mutunya jika sambil menunggu ia ternyata menabur-naburkan paku di lokasi terentu. Sambil menunggu dagangannya laku, seorang pedagang memang bisa merekayasanya dengan cara memfitnah pesaingnya atau malah mensabot usahanya. Sambil menunggu kekuasaan datang kepadanya, seorang politikus memang bisa melancarkan kampanye hitam untuk kompetitornya. Tetapi saya pasti tidak sedang bicara tentang orang-orang seperti itu karena kepada mereka telah disematkan status yang jelas; kaum rendah perilaku.

Tapi saya pasti sedang bicara tentang seorang tukang tambal ban yang ketangguhannya setara dengan burung-burung yang pagi terbang petang pulang dengan tembolok kenyang. Yang dilakukan burung ini hanya sebatas terbang dan ia tak peduli apakah bursa saham anjlok cuma gara-gara kredit perumahan. Yang dia lakukan tukang tambal ini tak lebih hanya duduk menunggu tanpa peduli apakah apakah Honda dan Toyota masih akan memproduksi mobil-mobil mereka ke Indoneisa. Yang dilakukan orang ini hanyalah satu: menunggu. Tetapi di dalam saat menunggu inilah terletak dialog paling intensif antara manusia dengan keterbatasannya. Maka menunggu, sesungguhnya adalah kegiatan yang harus dilakukan dengan gembira, karena itulah saat paling menguji mutu kita sebagai manusia.

Ketika usia SMA, saat-saat paling berat dalam hidup saya adalah menunggu kartun saya di muat di media massa. Karena cuma itulah harapan saya satu-satunya dalam memperoleh uang. Tak terbayangkan marahnya hati ini jika sudah dikirimi berkali-kali tetapi tetap tak ada yang dimuat juga. Ingin rasanya saya mengobrak-abrik kantor redaksi media itu. Ingin saya mengajak orang sekampung untuk mengeroyok redakturnya hingga hancur-lebur. Bahagia rasanya membayangkan redaktur yang kejam itu babak belur dikeroyok massa.

Walau ternyata tidak. Kebahagaian yang sesungguhnya ternyata saya dapati ketika saya berlaku sebaliknya yakni dengan cara terus menggambar, terus mengirim dan terus menunggu. Pada saat kartun iu muncul untuk kali pertama, rasanya seluruh dunia seperti hendak meledak oleh kegembiraan saya. Waktu itu, bahkan terpilih menjadi presiden Amerika pun tidak akan sanggup melawan kegembiraan saya.

(PrieGS/)