Rabu, Juni 25, 2008

Ketika Aku di Rumah Sendiri

Saat di rumah sendiri baru aku tahu betapa repotnya ditinggal istri. Betapa tanpa anak-anak dunia seperti berhenti. Cuma hendak mencari gelas minuman saja tiba-tiba begitu susahnya. Setelah investigasi kesana-kemari oo, baru ketemu barang itu ternyata ada di situ. Aku terancam terasing di rumah sendiri, karena setiap sudut tidak lagi aku akrapi. Seluruh rumah ini rasanya sudah menjadi daerah kekuasaan istsri.

Itulah kenapa setiap aku kebingungan mencari sesuatu, selalu ketemu denga mudah jika istri datang membantu. Jangankan barang-barang yang sudah generik seperti anak kunci, pisau dapur, gunting dan kuas cat, bahkan mencari kaos dan celana dalam sendiri saja hampir-hampir aku tidak mandiri. Selalu kebingunan jika harus mencari sendiri. Instink pencarianku terhadap barang-barang di rumah nyaris lumpuh. Ini pasti bukan karena isntink itu tak lagi kumiliki. Semua ini pasti karena kemanjaanku yang keterlaluan di hadapan istri dan anak-anak. Bahkan untuk mendekatkan gelas minuman pun, bahagia rasanya jika mereka yang melakukannya.

Kini, ketika aku di rumah sendiri, kemanjaan itu benar-benar menuai karma. Saat perut mulai kelaparan, aku mulai mencari-cari. Pertama mencari apa yang gampang untuk di makan. Tidak mudah ternyata, karena meskipun nakanan itu ada, tetapi selera ini tetap tak mudah dijinakkan begitu saja. Setidaknya saya butuh mi panas untuk mengatasinya. Meskipun keadaan darurat, tetapi lidah harus tetap dimanja. Itulah kesalahan saya.

Karena untuk mencari letak mi itu berada, ternyata sudah menyita waktu dan tenaga. Setelah mi ketemu, kompor harus dinyalakan. Di mana tombol kompor celaka itu, susah benar menemukannya. Dan ketika ia sudah ketemu malah menyisakan kebingungan ekstra. Ini harus ditekan atau diputar. Atau ditekan dulu baru diputar. Atau ditekan dan dipurar secara bersama-sama. Ketika api benar-benar menyala, hampir saja aku berteriak gembira jika tak segera sadar, bahwa ini baru langkah pertama. ‘’Kerja belum selesai, belum apa-apa,’’ seperti kata Chairil Anwar dalam sajaknya.

Karena selanjutnya saya sudah harus butuh panci. Mencari panci yang cocok ternyata juga sulit sekali. Akhirnya panci apa saja aku tak peduli, walau yang kutemukan itu adalah sebuah panci raksasa yang lebih cocok untuk memasak di dapur umum bagi korban gempa. Padahal yang kuperlukan sekadar untuk menjerang sebungkus mi. Tetapi di zaman darurat jangan penuh syarat. Sekali dayung, kapal harus menuju pelabuhan. Panci segera kuoperasikan. Celakanya prosedur memasak juga tak lagi kusadari. Benda itu kutaruh di perapian dalam keadan kosong karena kupikir air akan segara kuguyurkan. Tetapi di mana letak air itu berada? Sialan, nyelip di sana. Memang akhirnya kutemukan. Tetapi panci yang malang itu telah mengepul kegerahan dengan aroma aluminum gosong. Keringat mulai merembes di tengkukku dan kelaparan ini sudah pelan-pelan berganti kejengkelan. Tetapi intinya, aku memang berhasil mengatasi kelaparan darurat itu tetapi dengan sebuah perjuangan yang tidak peranh kubayangkan. Semuanya ini kusadari semata-mata karena istri tak ada. Ketergantunganku kepadana sudah sampai pada taraf keterlaluan dan belum kuputuskan, ini termasuk berkah atau musibah.

Usai berkeringat hasil makan mi sambil kepanasan, aku kegerahan dan mandi adalah soal yang aku bayangkan kemudian. Tetapi aduh, air di bak mandi itu tinggal sedikit sekali dan kotor pula keadaannya. Aku tahu, itulah air yang sengaja dibiarkan oleh istri dengan maksud hendak dikuras nanti. Aku menatap genangan air itu sambil termangu. Betapa lama aku sudah tidak lagi mengerjakan pekerjaan ini; menguras bak mandi. Tersering memang istriku dan aku tingal mandi dalam keadaan air melimpah dengan kebeningan yang menyulut gairah. Telah begitu lama aku hanya terbiasa mandi tetapi tak lagi suka menguras baik mandi. Sebuah kebiasaan yang kemudian menjadi semacam konvesni: pekerjaan itu telah menjadi tugas istri. Entah kebaikan apa yang melintas di benakku saat itu, aku ingin menghadiahi istri dengan kado kecil itu: biarlah ia pulang sambil melihat pekerjaannya telah aku beresi. Bak mandi itu aku kuras sambil bernyanyi, akan kusediakan air yang bersih dan melimpah untuknya, tepat ketika ia pulang dalam keadaan lelah dan gerah. Pulang lelah, sambil masih membayangkan menguras kolah, pasti sebuah musibah. Belum pernah aku menunggu istri pulang dengan perasaan setegang ini. Dan ketika ia datang, lampu kamar mandi kunyalakan, air yang penuh dan bersih itu kuperlihatkan. Istriku berteriak dengan kegembiraan yang nyata. Sementara perasaanku saat itu, seperti Donlad Trumph yang mengadiahi istri mudanya cincin berhias permata.

Prie GS

Di Sebuah Alun-Alun

Pada suatu perjalanan berceramah ke luar kota, saya memerlukan berhenti di alun-alun sebuah kota. Berhenti, untuk mencari tukang bakso dan berencana makan sepuasnya. Bukan bakso sembarang bakso, dan bukan makan sembarang makan, tetap makan yang telah menyerupai balas dendam. Karena di alun-alun itu, saya pernah tak punya uang dan kelaparan. Di saat itulah kedai bakso yang tegak lurus di depan saya menjadi pemandangan yang amat menyiksa.

Masih jelas tergambar uap kuah panas setiap tukang bakso ini mengangkat tutup panci panjangnya. Aromanya tak akan saya lupa sampai beruban rambut saya. Ini bakso juga bertahu dan berketupat jika pembeli menghendaki. Dari jarak pandang saya, jelas tertangkap pula tumpukan tulang sapi muda di kotak kacanya itu. Cuma dengan memandangnya saya sudah meyakini kelezatannya. Maka itulah pemandangan yang saya catat sebagai salah satu musibah terbesar dalam hidup saya. Tetapi ketika berpuluh tahun kemudian saya melewati alun-alun ini kembali, berubah sudah pandangan saya atas musibah. Bahwa ia, tak lebih dari kebahagiaan yang tertunda. Belum pernah saya makan bakso seenak edisi balas dendam ini.

Sungguh, saya mengajak Anda semua untuk memercayai rumus ini, bahwa seluruh kepahitan-kepahitan hidup, hanyalah intro bagi sebuah kegembiraan. Maka orang yang tidak pernah menderita, sebetulnya telah kehilangan separoh kebahagiaannya. Saya tidak mengada-ada, sekarang ini saya merasa bersyukur pernah menjadi miskin. Dari kanak-kanak hingga remaja, saya tidak pernah merasakan enaknya tinggal di rumah sendiri. Orang tua ngontrak melulu dan itu pun dari jenis yang amat sederhana. Perasaan kecil hati sebagai orang kontrakan sepanjang hayat benar-benar mengancam harga diri saya. Apalagi rumah itu bukan benar-benar kontrakan, melainkan sekadar nempel di rumah orang lain. Siapapun orang lain itu, baik hati atau jahat, kami harus berbaik-baik kepadanya. Ketertekanan semacam itu, saya pikir hanya sedikit lebih baik dibanding hidup dalam penjara.

Tetapi seluruh kesakitan itu, ternyata hanyalah untuk modal saya dalam menikmati rumah saya yang sekarang. Rumah saya memang kecil saja, kacau pula bentuknya. Tetapi itu adalah rumah saya sendiri. Ada saya di dalamnya. Saya sepenuhnya! Rumah ini mau saya tingkat ke atas, mau saya tingkat ke bawah, terserah saya. Di dalamnya, saya bebas berbuat apa saja. Menciumi istri setiap kali, membantingi anak di tempat tidur kapan saja saya mau. Semua bisa saya lakukan dengan merdeka. Perasaan merdeka itu luar biasa. Dan kemerdekaan baru terasa berharga jika singgah di benak orang yang pernah terjajah hidupnya. Jadi tak ada yang tidak berguna di dalam hidup ini, termasuk keterjajahan.

Karena tinggi tubuh saya tak seberapa dan wajah juga tidak keren pula, di masa remaja dulu, amat sulit laku pacaran. Jatuh cinta amat sering, tetapi kena tolak jauh lebih sering. Pada saat itu, dunia seperti mau runtuh rasanya. Tetapi semua ini ternyata cuma bekal untuk melihat istri dengan perasaan berbeda di hari ini. Ooh, laku juga saya. Ada juga orang yang mencintai saya. Dan setiap memandangi istri meskipun bentuknya makin lama makin melorot di sana-sini, saya tak peduli. Bagi saya, kedudukan istri menjadi tinggi sekali. Maka, inilah saat menatap kepahitan-kepahitan hidup itu dengan cara yang berbeda: bahwa itulah syarat ketika kebahagiaan yang kelak tiba akan menjadi lengkap rasanya. Tak perlu risau apakah kelak yang di sana itu, akan benar-benar sampai kepada kita. Mau sampai atau tidak, bayangan itu menghadirkan harapan. Dan hidup yang masih berpengharapan, adalah hidup yang kuat dan gembira.

(Prie GS/CN05)

Kursi Bambu

Cuma untuk membedakan mana yang penting dan mana yang mendesak, ternyata makin tidak mudah, termasuk dalam soal membeli barang. Karena jika Anda mulai memiliki uang, semua barang menjadi kelihatan penting dan mendesak. Karena semakin maju ilmu pemasaran, para marketer itu juga makin pintar mementing-mentingkan dan mendesak-desakkan dagangan mereka. Akhirnya seluruh barang akan terlihat penting dan mendesak.

Tengoklah almari Anda yang penuh berjejalan itu. Apakah seluruh pakaian itu selalu Anda kenakan? Ternyata tidak. Barang yang tersimpan di dalamnya begitu lama, adalah barang yang kadang amat jarang dimanfaatkan. Inilah ternyata keadaan almari kita itu: ia terlalu sering diisi tetapi amat jarang dikeluarkan. Sampah di mana-mana di rumah kita, tetapi kita sering menganggapnya sebagai barang yang berguna. Ini kalau kita setuju pada definisi sampah berikut ini, yakni: sampah adalah barang yang kita miliki tetapi sama sekali tidak pernah ada gunanya. Jadi membedakan mana yang penting dan mendesak adalah panduan yang begitu tua umurnya, tetapi tidak mudah mendapat kepatuhan begitu saja.

Seperti juga ketika suatu kali aku harus membeli sebuah kursi bambu. Ini jelas bukan barang penting apalagi mendesak. Apalagi di teras rumah aku telah penuh kursi. Begitu penuhnya sehingga seluruh teras itu isinya malah cuma kursi melulu. Semua ini gara-gara aku terlalu lama tidak punya kursi, sehingga siapa saja tetangga yang hendak membuang kursi lamanya, langsung teringat keadaanku. Akibatnya di teras rumah itu, kini penuh kursi pemberian. Jadi kesulitanku sekarang bukan lagi bagaimana menambah tetapi sudah berganti bagaimana mengurangi.

Dari perhitungan ini, membeli sebuah kursi lagi, bukan cuma tindakan yang tidak penting dan tidak mendesak, tetapi juga sebuah kekonyolan. Tetapi hidup memang berisi tidak cuma soal yang penting dan yang mendesak, tetapi juga berisi rasa iba dan tak enak hati. Melihat seorang tua, dengan empat kursi bambu panjang di pikulan adalah pemandangan yang tak mengenakkan. Beban itu pasti berat sekali. Dan cuma empat kursi itu saja yang sanggup dipikul pedagang tua ini. Maka kalau jumlah kursinya masih empat senantiasa, pasti belum ada satupun dagangan itu yang laku.

Melihat beban orang tua ini, aku segera teringat uang Rp 6 milyar yang cuma dibungkus tas plastik untuk bonus seorang oknum jaksa. Teringat pula aku pada tumpukan uang ratusn ribu, pecahan uang terbesar di negara ini, yang cuma ditumpuk di dalam ember kamar mandi seorang koruptor, ketika KPK menggeledah rumahnya. Ada uang berlimpah-limpah di sebelah sana, tetapi ada kerumitan hidup tak terperi di sebelah sini. Maka kursi bambu ini, kubeli tak lebih karena perasaan tak enak hati melihat pendulum sosial yang berat sebelah ini.

Tetapi inilah risikonya, setelah kursi ini terbeli, aku segera bingung sendiri. Di mana gerangan ia harus diletakkan? Tetapi aku kaget sendiri ketika kursi sepanjang ini ternyata ringan sekali. Karena bobotnya itu, aku jadi tergerak untuk membawanya ke lantai atas, lantai kosong tanpa atap yang selama ini sulit diisi perabotan karena tangga menujunya sempit sekali. Tetapi dengan kursi seringan ini, meskipun panjang, dengan sedikit manuver, ia pasti akan sampai ke atas sana. Dan benar akhirnya sampai juga barang ini di sana. Sejak itu lantai atas tempat aku terbiasa menggelar tikar, tiduran sambil membaca itu, telah punya kursi panjangnya.

Di kursi itulah aku memiliki gaya rebahan yang baru. Membaca sambil rebahan, merasakan semilir angin, mengantar matahari terbenam jika sore melihat bintang-bintang jika malam. Tiduran di kursi bambu ini membuat aku sering tertidur tanpa terasa. Tidur dengan kualitas yang amat jarang aku rasakan sebelumnya. Dan setiap kelelahan, aku cukup naik ke lantai tanpa atap ini untuk rebah d kursi ini dan tidur dengan cepatnya untuk bangun dengan gembira. Setiap bangun aku memandang kursi bambu jelek itu. Pikiranku ialah: kursi ini kubeli dengan niat baik. Pantas saja jika ia ganti membawa kebaikan untukku!

(Prie GS/cn09)

Senin, Juni 23, 2008

Kucing Bertengkar

Dari anak-anak hingga punya anak, entah kenapa suara kucing bertengkar itu selalu dekat dengan hidupku. Mungkin karena kedudukanku sebagai orang kampung karena pertengkaran semacam itu memang cuma mungkin dilakukan oleh kucing-kucing kampung.

Aku tidak tahu penyebab pertengkaran mereka, tetapi begitu sudah mulai bertengkar, seluruh watak kucing itu seperti lenyap dan yang tersisa cuma horornya.

Yang pertama-tama meneror adalah suaranya. Ia campuran antara mengeong, menyalak dan beteriak. Mengeong karena memang begitulah kucing. Menyalak karena jika cuma mengeong, sungguh tidak cukup mewakili hati yang sedang diamuk kemarahan. Beteriak, karena dalam berengkar, bahkan hewan butuh menjadi kalap dan lupa daratan.

Jangankan cuma dipisahkan dengan hardikan, dengan seember air sekalipun, kucing-kucing itu bisa tidak peduli jika sudah mabuk pertengkaran. Untuk benar-benar memisahkan keduanya kadang semua cara harus dijalankan.

Inilah persoalannya, kucing bertengkar itu selalu menyulut kemarahan pendengarnya. Maka orang-orang yang marah itu bisa keluar rumah dengan sebaskom air di tangan dan dengan rahang gemeratak untuk segera menebar hujan buatan. Kadang-kadang cara ini membantu.

Kucing itu bisa kaget dan tunggang langgang. Tetapi jika pertengkaran mereka sudah sedemikian murka, siraman air itu tak digubrisnya.

Ada kalanya butuh sedikit tendangan kungfu. Sejenak tendangan itu memang bisa membubarkan. Tetapi jika kemarahan mereka sudah sampai di ubun-ubun, kucing ini hanya akan lari untuk kemudian bertengkar lagi, celakanya dalam jarak yang tak terjangkau oleh tendangan lagi.

Maka jadilah kemarahan berantai. Kucing yang kepalang marah itu meneruskan pertengkarannya, sementara manusia yang kepalang marah ini juga harus melampiaskan kemarahannya. Jalan satu-satunya adalah memungut batu dan melempar kucing itu dengan seluruh kemarahan yang ada.

Dan inilah risiko lemparan orang yang marah itu, ia bisa demikian keras, tetapi bisa demikian luput! Ketika batu kedua hendak dipungut, kucing celaka itu sudah bubar entah ke mana!

Sungguh berbahaya sekali pelempar yang gagal ini. Ia bisa pulang dengan kemarahan menumpuk di kepala dan tak tahu ke mana gerangan ia harus disalurkan. Padahal yang belum aku ceritakan ialah, bahwa kucing ini selalu memilih bertengkar di waktu yang keliru. Yakni ketika malam sedang larut, dan tidur sedang amat lelapnya.

Bisa dibayangkan bahwa orang yang keluar dengan sebaskom ember itu, yang menendang dan memungut batu serta melakukan lemparan yang gagal itu adalah orang yang semula sudah lelap tertidur untuk dipaksa bangun lalu marah dan gagal menyalurkan kemarahnnya.

Betapa malamnya akan menjadi jahanam. Itulah bahaya kucing yang bertengkar di larut malam, dan hampir selalu di larut malam ketika tidur sedang enak-enaknya.

Maka di masa kecilku dulu, malam yang berhiaskan pertengkaarn kucing dianggap bertanda buruk. Keburukan yang nyata pastilah karena ia merusak tidur dengan segala akibatnya. Aku sudah berkali-kali dihajar keadaan ini. Tetapi pertengkaran kucing yang terjadi baru-baru ini, juga ketika malam sudah larut, aku dengarkan dengan cara yang berbeda.

Semula, begitu pecah pekikan pertama mereka, tersulut sejenak instink kemarahanku. Tergerak juga untuk melakukan prsosedur serupa tetanggaku dulu, keluar rumah, menentang ember, menebar hujan buatan atau malah melakukan tendangan kungfu. Tetapi aduh, cara itu terlalu boros energi dan merusak malam.

Maka setiap erangan kucing yang sedang marah itu kubayangkan sebagai tarikan pedal gas sepeda motor di sebuah sirkuit, dengan aku sendiri sebagai pebalapnya. Hasilnya ajaib.

Setiap kucing itu memekik marah, aku serasa menikung dengan kecepatan 120 km perjam menyaingi Valentino Rossi pembalap favoritku. Seterusnya aku berdamai dengan perasaanku dan tertidur sambil balapan. Enak sekali!

(Prie GS/Cn08)

Jumat, Juni 06, 2008

Pedagang Keliling di Sekitarku

Salah satu kesukaanku adalah mengamati para pedagang keliling yang lewat di sekitarku. Alasan utamanya, karena di antara dagangan itu, adalah jenis makanan kesukaanku, misalnya bubur ayam. Tetapi karena kemajuan zaman, sebagian di antaranya sudah tidak lagi mendorong atau memikul, melainkan sudah berganti kendaraan, termasuk penjual bubur ayam kesukaan ini.

Tetapi aku selalu punya masalah dengannya. Laju kendarannya itu menjadi terlalu cepat dibanding keinginanku. Urut-urutannya adalah sebagai berikut: pertama kudengar denting pukulan sendok di mangkoknya. Kedua aku tergerak untuk memanggilnya. Ketiga, ketika aku keluar rumah ia sudah tidak ada. Penjual bubur ini lebih menyerupai pembalap katimbang pedagang keliling. Berkali-kal aku gagal berpacu dengan kecepatannya. Daripada untuk membeli semangkok bubur aku harus bertaruh nyawa, kuputuskan untuk berhenti berlangganan saja.

Pedagang bubur ayam ini mengajarkan kepadaku, betapa ada jenis kecepatan yang keliru. Indonesia termasuk negeri seperti itu: ingin cepat mengonsumsi tetapi gagal berproduksi. Risikonya, negeri ini berpotensi mencetak generasi benalu dari waktu ke waktu. Begitu perilaku negaranya, begitu pula perilaku rakyatnya. Ada banyak pengajar kecepatan di negeri ini yang menuju ke arah keliru: cepat kaya, cepat berkuasa, cepat populer untuk akhirnya cuma berakhir di ujung derita.

Kali ini masih pedagang bubur, tetapi dengan gerobak dorong yang kutemui agak jauh di luar kampungku. Aku menghentikannya karena sebuah penawaran yang tak biasa. Dari jauh tampak jelas bahwa ia menjual bubur yang belum pernah ada di dunia yang tertulis mencolok di sisi kanan gerobaknya: ‘’BUBUR KACA’’. Astaga, bubur apa ini? Apakah ini pedagang yang khusus melayani para pemain kuda lumping kesurupan pemakan beling alias pecahan kaca itu? Padahal setahuku, bahkan kesenian kuda lumping itu sudah menjadi barang langka.

Karenanya ku hampiri dia. Aku ingin tahu bubur apa gerangan ini dan siapa pula yang hendak memakannya. Olala, semua ini gara-gara tulisan yang kubaca itu belum rampung adanya. Bunyi lengkapnya adalah: ‘’BUBUR KACA-NG HIJAU’’. Cuma karena bidang gerobak ini tidak mencukupi, tulisan itu harus berbelok di sisi gerobak yang lainnya. Jadilah dari samping, yang terbaca adalah sebuah tulisan yang menawarkan dagangan paling aneh di dunia. Karena sibuk tergelak, aku gagal membeli bubur yang mestinya juga aku sukai ini. Di benakku, bubur kacang hijau itu sudah menjadi rancu dengan remukan kaca yang dioplos di dalamnya. Baru membayangkan saja seluruh tenggorakanku sudah gatal sedemikan rupa.

Pedagang ‘’bubur kaca’’ ini dengan jelas mengajarkan kepadaku sebuah spekulasi yang berbahaya. Bahwa inilah pedagang yang gagal membaca bidang gerobaknya sendiri. Betapa dengan gerobak sekecil itu, ia harus membuat tulisan sebesar itu sehingga ia harus menjalar ke mana-mana, ke bidang yang tidak semestinya sehingga mengacaukan mata pembacanya, dan akhirnya mengacaukan pula sumber rezekinya.

Tetapi jangankan pedagang yang lugu ini, karena memang begitu pula keadaan negeriku. Perencanaan adalah sebuah kemewahan karena apa yang telah direncanakan selalu luput dalam pelaksanaan. Karena apa yang dilaksanakan, malah bukan berasal dari perencanaan. Maka Indonesia yang luas ini, akan teramat luas bagi pikiran yang sempit. Maka lahan yang sempit pun akan menjad padang belantara tanpa keluasan berpikir. Jangankan mengatasi kemiskinannya, membagikan bantuannya saja sudah begini rawan keributan.

Ada lagi pedagang yang satu ini, yang berkeliling kemana-mana tetapi tidak cukup dengan menjual dagangannya, melainkan juga keburukan pesaingnya. Sambl melayani pembeli, mulutnya akan nerocos menjual aib pesaingnya. Bahwa hanya aku yan begini, sementara dia selalu begitu. Jika ada seorang ketahuan berbelanja di seberang, ia segera menganggapnya sebagai permusuhan. Lama-lama pedagang ini tidak sibuk berjualan tetapi sekadar sibuk marah dan uring-ringan dan akhirnya bangkrut sendiri. Pedagang ini dengan telak menagajariku, bahwa pesaing terberat di dalam hidip ini adalah kekeliruan diri sendiri.

(Prie GS/CN05)