UNTUK menghindari risiko sweeping, sebuah restoran fast food di Semarang menambahkan kopiah untuk seragam karyawannya. Kebijakan ini jelas sekali maksudnya, ingin membuat wajah restoran itu berwatak agamis secara tiba-tiba.
Lagi, sebuah kebijakan yang nyaris menyerupai tahayul terjadi di sekitar kita. Kebijakan itu setara dengan kebiasaan ketika musim kerusuhan etnik tiba, yakni mengamankan diri dengan sekadar memacak kata "pribumi". Setara dengan artis-artis panas yang kemudian menjadi tampak sangat salehah ketika bulan Puasa tiba.
Kebijakan itu mestinya menghina kecerdasan kita. Bagaimana mungkin cuma sekadar kopiah telah dipercaya sebagai bukti "pindah agama". Bagaimana mungkin hanya dengan menulis satu kata, seseorang telah merasa berpindah warga negara. Bagaimana bisa ketaatan beragama hanya muncul sekali setahun saja. Tapi mari kita hargai keputusan yang lebih menyerupai kekonyolan itu, sebab kita memang masyarakat yang gampang ditipu bahkan oleh jenis tipuan paling sederhana sekalipun. Kuncinya? Sepanjang tipuan itu memuat unsur-unsur yang kita suka: simbol dan atribut.
Begitu besar minat kita pada atribut hingga mendorong orang berani melakukan kekonyolan secara terbuka. Jika ia telah berdandan sedemikian rupa merasa telah menjadi orang bertakwa. Jika ia telah membawa proposal beratas nama tempat ibadah dan rumah yatim-piatu, ia telah boleh meminta sumbangan ke manapun suka. Untuk menjadi seorang nasionalis, seseorang juga cukup hanya dengan mengganti nama.
Begitulah, zaman telah begini maju, tapi selera kita masih tetap dianggap begini tidak bermutu. Selera inilah yang dianggap sebagai izin bagi munculnya para penipu. Maka untuk menjadi seniman, orang cukup bermodal memanjangkan rambut dan mengacak-acak dandanan.
Kebiasaaan inilah yang membuat seseorang merasa memiliki derajat sebagai imam hanya karena bermodal kelancaran melantunkan ayat-ayat Tuhan. Maka dipanjangkanlah sembahyangnya bukan karena kekhusukan melainkan karena keinginan pamer bacaan. Dihalaunya anak-anak yang gaduh bukan karena mengacau peribadatan melainkan karena mengganggu jalannya "pertunjukkan". Sembahyang bagi dia hanyalah sebuah show katimbang menyembah Tuhan. Maka selalu dia pilih ayat-ayat yang panjang, bukan karena ia suka memanjangkan doa, tapi lebih pada memanjangkan otoritasnya sebagai imam.
Tapi sesungguhnya kemunculan kebiasaan gadungan itu mestinya bisa ditekan jika ambisi kita atas simbol dan atribut tidak demikian kelewatan. Maka relakanlah si Fulan, yang meski jarang muncul di masjid itu, masuk dalam barisan ahli ibadah karena dialah orang pertama yang paling siap memandikan mayat jika tetangganya mati, paling siap memanggul kerandanya dari rumah duka hingga ke liang lahat.
Dan orang ini pun tidak pernah menganggap bahwa perbuatannya mulia. Kalaupun ada orang yang telanjur memuji jasanya ia cukup menjawab singkat, itupun dengan gaya cengengesan: "Habis, dia kan tidak setiap hari mati." (03)
(PrieGS/)
Rabu, Agustus 20, 2008
Minggu, Agustus 10, 2008
Grosir Kedermawanan
INDONESIA boleh dianggap negara miskin dan bangkrut. Tapi soal kedermawanan, negeri ini seperti punya lumbung derma yang tak ada habisnya. Adegan berikut barangkali akan menggambarkan fakta tersebut.
Di sebuah warung soto, seorang dari serombongan pembeli, bergegas menuju kasir untuk mentraktir semuanya. Makanan belum sempat ngendon sempurna di perut, tapi orang ini sudah merasa harus buru-buru menunaikan tugas mulia itu. Tapi dermawan ini malah cuma dianggap nyolong start belaka. Karena seorang yang lain, sambil masih tetap di mejanya, segera berteriak mengancam si kasir. ''Duitnya jangan diterima. Awas!''
Keributan pun terjadi. Saling ngotot, saling tak mau kalah, sampai akhirnya si kasir muncul sebagai penengah. Keduanya kalah. Apa sebab? Karena betapapun cepat dua dermawan itu berpacu ternyata masih kalah cepat dari seorang yang lain lagi, seorang yang diam, tenang tapi efesien. Ia memainkan taktik yang tak terduga. Sebelum adegan makan berlangsung, ia diam-diam telah menyelinap lebih dulu, menyerahkan segepok uang. ''Ini deposit. Untuk bayaran nanti,'' katanya. Gampang ditebak, dialah pemenangnya.
Cerita semacam ini, di Indonesia bukan hal baru. Disambangi tetangga tanpa menyediakan minuman, adalah aib bagi keluarga Jawa. Bersilahturahmi Lebaran tanpa menyuguh makan, adalah pelanggaran etika. Maka satu rumah bisa berarti sekali minum dan makan. Berumah-rumah berarti berkali-kali minum dan makan.
Dengan tingkat kedermawanan sedemikian rupa, adalah aneh jika Indonesia mengalami tingkat kesenjangan sosial yang parah, tingkat kemiskinan yang menyedihkan, dan tingkat korupsi yang mencengangkan. Tapi illustrasi di bawah ini akan menjelaskan, kenapa dua kutub yang sebetulnya tidak nyambung itu bisa bersatu.
Di sebuah pasar di wilayah Jawa Tengah, lima wanita kedapatan sepakat mencuri bersama. Ketika mereka tertangkap dan diinterogasi polisi, apa jawabnya? ''Untuk nyumbang hajat tetangga,'' kata seorang di antaranya.
Jadi jelas sudah, masyarakat kita memaliki bakat ''sinkretis'' tidak cuma dalam soal-soal ritual dan spiritual, tapi juga persoalan moral. Jangankan cuma menyatukan dua hal yang berbeda, menggabungkan dua moral yang berkebalikan pun kita jagonya. Kasus pencurian oleh kelompok wanita di atas, adalah contoh sederhana, betapa kederwamanan bisa kita biayai dengan segala cara, termasuk dengan kejahatan.
Makin jelaslah, kenapa kedermawanan semacam itu bisa tidak nyambung dengan soal ketenteraman negara dan kemakmuran suatu bangsa. Karena kita bisa sangat baik di sini tapi sangat jahat di situ. Kita bisa menjadi jahat di situ hanya agar bisa berbuat baik di sini. Biarlah saya korupsi besar-besaran dengan memanfatakan jabatan, dengan risiko merusak negara asal di kampung halaman saya bisa mengaspal jalan, bisa membangun masjid dan menyantuni handai taulan. Maka jika seorang tersangka koruptor dikabarkan mati, ia bisa saja ditangisi oleh banyak orang yang merasa berhutang budi. ''Sebetulnya dia sangat dermawan. Perasaannya lembut, dia tidak bisa melihat orang lain kekurangan.''
Cerita tentang koruptor dermawan ini juga sealiran dengan legenda tentang bandit-bandit besar yang di rumah ternyata adalah bapak yang lembut, suami yang romantis dan manusia yang sentimentil bila melihat adegan mengharukan. Seorang suami yang selingkuh dan mentelantarkan anak istri, bisa tetap mengaku remuk-redam jika bayangan wajah anak-anaknya muncul di malam sepi, jika wajah istri yang setia berkelebat dalam lamunannya.
Tapi semua sifat mulia toh cuma sentuhan human interset belaka. Selebihnya bandit itu tetap bandit yang gampang membunuh orang segampang ia meludah. Selebihnya, tukang selingkuh itu tetap memilih menggauli selingkuhannya katimbang kembali ke rumah menyantuni anak istrinya. Bahwa semua orang di dalam hatinya mengaku punya kemuliaan, adalah benar dan boleh-boleh saja. Tapi bahwa kemuliaan itu tak pernah benar-benar dipraktekkan, di situlah letak persoalannya.
Melihat betapa begini banyak sikap dermawan yang secara aneh bisa hidup berdampingan dengan banyaknya kerusakan, mudah kita simpulkan bahwa bakat berderma itu belum sanggup menjadi aset negara, belum sanggup menjadi kontributor kesejahteraan bersama. Maka jangan buru-buru menyimpulkan jika kita gemar mentraktir orang, mengaspal jalan dan berderma untuk kegiatan amal, membuktikan bahwa kita adalah seorang yang mulia. (03)
(PrieGS/)
Di sebuah warung soto, seorang dari serombongan pembeli, bergegas menuju kasir untuk mentraktir semuanya. Makanan belum sempat ngendon sempurna di perut, tapi orang ini sudah merasa harus buru-buru menunaikan tugas mulia itu. Tapi dermawan ini malah cuma dianggap nyolong start belaka. Karena seorang yang lain, sambil masih tetap di mejanya, segera berteriak mengancam si kasir. ''Duitnya jangan diterima. Awas!''
Keributan pun terjadi. Saling ngotot, saling tak mau kalah, sampai akhirnya si kasir muncul sebagai penengah. Keduanya kalah. Apa sebab? Karena betapapun cepat dua dermawan itu berpacu ternyata masih kalah cepat dari seorang yang lain lagi, seorang yang diam, tenang tapi efesien. Ia memainkan taktik yang tak terduga. Sebelum adegan makan berlangsung, ia diam-diam telah menyelinap lebih dulu, menyerahkan segepok uang. ''Ini deposit. Untuk bayaran nanti,'' katanya. Gampang ditebak, dialah pemenangnya.
Cerita semacam ini, di Indonesia bukan hal baru. Disambangi tetangga tanpa menyediakan minuman, adalah aib bagi keluarga Jawa. Bersilahturahmi Lebaran tanpa menyuguh makan, adalah pelanggaran etika. Maka satu rumah bisa berarti sekali minum dan makan. Berumah-rumah berarti berkali-kali minum dan makan.
Dengan tingkat kedermawanan sedemikian rupa, adalah aneh jika Indonesia mengalami tingkat kesenjangan sosial yang parah, tingkat kemiskinan yang menyedihkan, dan tingkat korupsi yang mencengangkan. Tapi illustrasi di bawah ini akan menjelaskan, kenapa dua kutub yang sebetulnya tidak nyambung itu bisa bersatu.
Di sebuah pasar di wilayah Jawa Tengah, lima wanita kedapatan sepakat mencuri bersama. Ketika mereka tertangkap dan diinterogasi polisi, apa jawabnya? ''Untuk nyumbang hajat tetangga,'' kata seorang di antaranya.
Jadi jelas sudah, masyarakat kita memaliki bakat ''sinkretis'' tidak cuma dalam soal-soal ritual dan spiritual, tapi juga persoalan moral. Jangankan cuma menyatukan dua hal yang berbeda, menggabungkan dua moral yang berkebalikan pun kita jagonya. Kasus pencurian oleh kelompok wanita di atas, adalah contoh sederhana, betapa kederwamanan bisa kita biayai dengan segala cara, termasuk dengan kejahatan.
Makin jelaslah, kenapa kedermawanan semacam itu bisa tidak nyambung dengan soal ketenteraman negara dan kemakmuran suatu bangsa. Karena kita bisa sangat baik di sini tapi sangat jahat di situ. Kita bisa menjadi jahat di situ hanya agar bisa berbuat baik di sini. Biarlah saya korupsi besar-besaran dengan memanfatakan jabatan, dengan risiko merusak negara asal di kampung halaman saya bisa mengaspal jalan, bisa membangun masjid dan menyantuni handai taulan. Maka jika seorang tersangka koruptor dikabarkan mati, ia bisa saja ditangisi oleh banyak orang yang merasa berhutang budi. ''Sebetulnya dia sangat dermawan. Perasaannya lembut, dia tidak bisa melihat orang lain kekurangan.''
Cerita tentang koruptor dermawan ini juga sealiran dengan legenda tentang bandit-bandit besar yang di rumah ternyata adalah bapak yang lembut, suami yang romantis dan manusia yang sentimentil bila melihat adegan mengharukan. Seorang suami yang selingkuh dan mentelantarkan anak istri, bisa tetap mengaku remuk-redam jika bayangan wajah anak-anaknya muncul di malam sepi, jika wajah istri yang setia berkelebat dalam lamunannya.
Tapi semua sifat mulia toh cuma sentuhan human interset belaka. Selebihnya bandit itu tetap bandit yang gampang membunuh orang segampang ia meludah. Selebihnya, tukang selingkuh itu tetap memilih menggauli selingkuhannya katimbang kembali ke rumah menyantuni anak istrinya. Bahwa semua orang di dalam hatinya mengaku punya kemuliaan, adalah benar dan boleh-boleh saja. Tapi bahwa kemuliaan itu tak pernah benar-benar dipraktekkan, di situlah letak persoalannya.
Melihat betapa begini banyak sikap dermawan yang secara aneh bisa hidup berdampingan dengan banyaknya kerusakan, mudah kita simpulkan bahwa bakat berderma itu belum sanggup menjadi aset negara, belum sanggup menjadi kontributor kesejahteraan bersama. Maka jangan buru-buru menyimpulkan jika kita gemar mentraktir orang, mengaspal jalan dan berderma untuk kegiatan amal, membuktikan bahwa kita adalah seorang yang mulia. (03)
(PrieGS/)
Sabtu, Agustus 09, 2008
Harga Sebuah Kebohongan
Beginilah cara pendidikan kita menghargai kejujuran. Keponakan saya, kelas 3 SD, belum lama ini, menjadi bahan tertawaan keluarga karena gayanya menjawab soal tes di sekolahnya. Soal itu kurang lebih berbunyi berbunyi: Jika temanmu lupa membawa pensil ke sekolah, apa yang kamu lakukan? a. selalu meminjami, b. jarang, c. Tidak pernah.
Dari tiga jawaban itu, nilai tertinggi dipegang oleh nomor a, kedua b dan nilai terendah adalah jawaban c. Maksud soal ini jelas, bahwa nilai tertinggi diberikan pada anak yang berhati mulia, anak yang selalu menolong teman yang tengah susah. Persoalannya, pembuat soal ini tidak pernah menghitung, bahwa jenis kemuliaan semacam itu belum menjadi lahan urusan anak-anak seumur keponakan saya. Kedermawanan semacam itu adalah sebuah bangunan pikiran yang disusun para orang tua.
Kedermawanan semacam itu, menurut saya, malah cuma layak diperagakan oleh para sufi dan orang-orang suci. Jadi hebat benar sekolah kita ini yang menuntut anak kelas 3 SD sudah harus berperilaku seperti orang suci, sementara yang tua-tua, malah yang sudah jadi pejabat pun masih pada sibuk korupsi.
Apa yang kemudian dilakukan keponakan saya? Alih-alih mematuhi perintah soal tes, anak ini tetap kukuh di jalurnya sendiri. Ia dengan segenap kebulatan hati memilih jawaban c dengan risiko cuma mendapat nilai terendah. Bukan cuma nilai rendah yang ia dapatkan. Di sekolah ia juga menjadi bahan gurauan guru-gurunya, di rumah masih diberi bonus ledekan keluarganya.
Anak ini tampak marah dan tidak bisa mengerti kenapa orang-orang tua itu tertawa atas jawabannya. Padahal ia telah berkata jujur. Selama ia bersekolah, belum pernah menjumpai seorang teman pun yang lupa membawa pensil. Kalau pun mungkin ada, teman itu tidak perah meminjam kepadanya. Atau barangkali pembuat soal itu lupa mencermati perkembangan, betapa persoalan anak ketinggalan pensil, penggaris, penghapus dan semacamnya itu, adalah soal-soal yang tidak lagi aktual bagi anak-anak.
Karena sepanjang saya tahu, rata-rata anak sekolah di kota, jauh lebih banyak mengalami boros peralatan katimbang miskin peralatan. Anak-anak itu sering terlalu punya banyak buku, banyak pensil, dan banyak mainan dibanding dengan kebutuhan yahg sebenarnya. Jadi soal ketertingalan pensil adalah hal-hal yang butuh dipertimbangkan lagi, adakah ia perlu dibuat pertanyaan tes karena nyaris tidak pernah menjadi persoalan serius bagi anak modern.
Kasus keponakan saya itu adalah bukti. Bahwa selama tiga tahun ia bersekolah di SD itu, belum pernah sekalipun ia lupa membawa pensil atau ada anak lain yang lupa kemudian meminjam kepadanya. Hal inilah yang membuat ia tak risau memilih jawaban nomor c meskipun dengan risiko nilainya jeblok. Menjawab sesuai dengan kenyataan yang dia alami, jauh lebih mengoda hatinya. Kejujuran bagi anak-anak adalah watak utamanya.
Tapi jika kejujuran semacam itu tidak pernah dihargai di sekolah, maka pendidikan kita jugalah yang entah sengaja atau tidak, telah mengajari anak untuk berbohong dan bersikap hipokrit. Anak dipaksa untuk menjawab dengan jawaban yang menggambarkan kemuliaan hati, meskipun si anak ini sejatinya tidak pernah melakukan perbuatan itu. Kalau pun ia memilih jawaban nomor a, adalah semata-mata karena jawaban itulah yang memiliki skor tertinggi. Jadi jawaban itu jelas bukan bukti bukti perbuatan si anak, apalagi watak anak.
Artinya, ada jenis pertanyaan yang menggiring anak untuk lebih suka berbohong demi meraih nilai tertinggi katimbang berbuat jujur karena ancaman kemerosotan nilai. Jadi, sejak di sekolah bahkan kejujuran dihargai begitu rendah. Barangkali karena inilah, kebohongan menjadi begitu subur di Indonesia. Lebih baik menyenangkan orang dengan cara menipu katimbang berkata jujur tapi tak enak hati. Maka tipuan sungguh soal yang dipentingkan di negeri ini.
(PrieGS/)
Dari tiga jawaban itu, nilai tertinggi dipegang oleh nomor a, kedua b dan nilai terendah adalah jawaban c. Maksud soal ini jelas, bahwa nilai tertinggi diberikan pada anak yang berhati mulia, anak yang selalu menolong teman yang tengah susah. Persoalannya, pembuat soal ini tidak pernah menghitung, bahwa jenis kemuliaan semacam itu belum menjadi lahan urusan anak-anak seumur keponakan saya. Kedermawanan semacam itu adalah sebuah bangunan pikiran yang disusun para orang tua.
Kedermawanan semacam itu, menurut saya, malah cuma layak diperagakan oleh para sufi dan orang-orang suci. Jadi hebat benar sekolah kita ini yang menuntut anak kelas 3 SD sudah harus berperilaku seperti orang suci, sementara yang tua-tua, malah yang sudah jadi pejabat pun masih pada sibuk korupsi.
Apa yang kemudian dilakukan keponakan saya? Alih-alih mematuhi perintah soal tes, anak ini tetap kukuh di jalurnya sendiri. Ia dengan segenap kebulatan hati memilih jawaban c dengan risiko cuma mendapat nilai terendah. Bukan cuma nilai rendah yang ia dapatkan. Di sekolah ia juga menjadi bahan gurauan guru-gurunya, di rumah masih diberi bonus ledekan keluarganya.
Anak ini tampak marah dan tidak bisa mengerti kenapa orang-orang tua itu tertawa atas jawabannya. Padahal ia telah berkata jujur. Selama ia bersekolah, belum pernah menjumpai seorang teman pun yang lupa membawa pensil. Kalau pun mungkin ada, teman itu tidak perah meminjam kepadanya. Atau barangkali pembuat soal itu lupa mencermati perkembangan, betapa persoalan anak ketinggalan pensil, penggaris, penghapus dan semacamnya itu, adalah soal-soal yang tidak lagi aktual bagi anak-anak.
Karena sepanjang saya tahu, rata-rata anak sekolah di kota, jauh lebih banyak mengalami boros peralatan katimbang miskin peralatan. Anak-anak itu sering terlalu punya banyak buku, banyak pensil, dan banyak mainan dibanding dengan kebutuhan yahg sebenarnya. Jadi soal ketertingalan pensil adalah hal-hal yang butuh dipertimbangkan lagi, adakah ia perlu dibuat pertanyaan tes karena nyaris tidak pernah menjadi persoalan serius bagi anak modern.
Kasus keponakan saya itu adalah bukti. Bahwa selama tiga tahun ia bersekolah di SD itu, belum pernah sekalipun ia lupa membawa pensil atau ada anak lain yang lupa kemudian meminjam kepadanya. Hal inilah yang membuat ia tak risau memilih jawaban nomor c meskipun dengan risiko nilainya jeblok. Menjawab sesuai dengan kenyataan yang dia alami, jauh lebih mengoda hatinya. Kejujuran bagi anak-anak adalah watak utamanya.
Tapi jika kejujuran semacam itu tidak pernah dihargai di sekolah, maka pendidikan kita jugalah yang entah sengaja atau tidak, telah mengajari anak untuk berbohong dan bersikap hipokrit. Anak dipaksa untuk menjawab dengan jawaban yang menggambarkan kemuliaan hati, meskipun si anak ini sejatinya tidak pernah melakukan perbuatan itu. Kalau pun ia memilih jawaban nomor a, adalah semata-mata karena jawaban itulah yang memiliki skor tertinggi. Jadi jawaban itu jelas bukan bukti bukti perbuatan si anak, apalagi watak anak.
Artinya, ada jenis pertanyaan yang menggiring anak untuk lebih suka berbohong demi meraih nilai tertinggi katimbang berbuat jujur karena ancaman kemerosotan nilai. Jadi, sejak di sekolah bahkan kejujuran dihargai begitu rendah. Barangkali karena inilah, kebohongan menjadi begitu subur di Indonesia. Lebih baik menyenangkan orang dengan cara menipu katimbang berkata jujur tapi tak enak hati. Maka tipuan sungguh soal yang dipentingkan di negeri ini.
(PrieGS/)
Jumat, Agustus 08, 2008
Kepergian Pertama
Hari itu, aku melepas kepergian anakku dengan segenap rasa haru. Ada tas terselempang di bahu kecilnya, ada dua stick drum terselip di sela-selanya. Aku lepas dia hingga lenyap di tikungan jalan. Sementara ia tak nampak lagi aku masih terpaku di halaman.
Sebetulnya ritual ini ini amat berlebihan. Karena yang kusebut pergi itu bukan pergi jauh, bukan sekolah ke luar kota apalagi untuk pergi ke luar negeri. Yang kusebut pergi itu sesungguhnya hanya ngeloyor ke gang sebelah untuk kursus drum. Benar-benar cuma gang sebelah karena tempat kursus itu hanya berjarak beberapa rumah. Tetapi dasar kami ini keluaga kurang kerjaan, seberapapun jauh kepergian anak kami, itulah kepergian pertamanya hingga ia naik kelas empat SD.
Walau memang, karena kekhawatiran kami yang berlebihan, tak pernah anak-anak itu kami lepas sendirian bahkan untuk sekadar bepergian sederhana. Banyak faktornya. Bisa karena bahkan di gang-gang kampung pun sekarang ini telah menjadi medan berbahaya tempat kebut-kebutan. Semua anak sekarang ini seperti diajari untuk menjadi pembalap, sebelum masanya tiba. Maka jalan raya adalah horor yang menakutkan.
Belum pula jika kami memikirkan penculikan anak misalnya. Inilah jaman ketika semua anak seperti boleh diculik. Tidak perlu menunggu menjadi milyader untuk khawatir terhadap penculikan karena ada jenis peculik yang tidak perlu uang tebusan. Penculik ini cuma butuh mendapatkan sembarang anak, membuangnya jauh ke luar kota kalau perlu keluar pulau dan menjadikannya sebagai pengemis di jalan-jalan. Membayangkan kejahatan itu menimpa anak-anak kita adalah imajinasi yang tak ingin aku fantasikan.
Tetapi memang, walau semua risiko itu mungkin, walau gang-gang kampung pun telah menjadi medan berbahaya, walau penculikan anak bisa terjadi pada siapa saja, sumber ketakutan terbesar itu pastilah imajinasiku sendiri. Nyatanya anak-anak tetangga itu begitu gembiranya. Ada yang masih belum cukup panjang kakinya, tetapi sudah boleh bermotor ke mana-mana termasuk keliling kota tanpa helm, tanpa SIM, dengan dengan kecepatan gila, eh… pulang toh masih selamat juga.
Ada anak begitu kecilnya, tetapi jika sudah bersepeda seperti pembalap saja layaknya. Ia bisa menikung di tikungan tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan. Mudah membayangkan apa yang terjadi jika ada motor lewat dari lain jurusan pada saat yang bersamaan. Padahal apa susahnya mencari motor nekat semacam itu. Motor kreditan merajalela dan tak perlu menunggu anak menjadi remaja untuk menerjunkan mereka ke jalan raya yang ganas.
Tapi eh, pada saat anak itu menikung, hasilnya kok ya baik-baik saja. Nyatannya tabrakan yang aku takutkan itu juga cuma terjadi sesekali padahal kecerobohannya berlangsung setiap kali. Ini benar-benar kemurahan Tuhan. Mungkin karena paham Tuhan Maha Pemurah itulah, banyak sekali orang menjadi ceroboh dengan percaya diri. Aku kadang-kadang iri juga melihat orang-orang yang ceroboh tetapi selamat berkali-kali. Enak betul.
Untung saja, baik si pemberani seperti mereka, maupun si penakut sepertiku memiliki rezekinya sendiri-sendiri. Karena sikapku yang penakut itu, misalnya, bisa membuat anakku yang cuma kursus ke gang sebelah itu, aku bayangkan sebagai pergi ke luar negeri.
Akibatnya keberangkatnnya harus kulepas dengan cara sedemikian rupa, selama dalam perjalanan kubayangkan sedemikian rupa, selama pergi kunanti sedemikian rupa, sehingga begitu pulang ia juga kusambut sedemikian rupa, setara dengan menyambut anak pulang dari medan perang saja layaknya.
Jadi, untuk memeluk anak dengan histeris, tidak perlu menunggu anak kita benar-benar harus pulang dari berperang. Cukup ketika ia pergi ke kampung sebelah!
Sebetulnya ritual ini ini amat berlebihan. Karena yang kusebut pergi itu bukan pergi jauh, bukan sekolah ke luar kota apalagi untuk pergi ke luar negeri. Yang kusebut pergi itu sesungguhnya hanya ngeloyor ke gang sebelah untuk kursus drum. Benar-benar cuma gang sebelah karena tempat kursus itu hanya berjarak beberapa rumah. Tetapi dasar kami ini keluaga kurang kerjaan, seberapapun jauh kepergian anak kami, itulah kepergian pertamanya hingga ia naik kelas empat SD.
Walau memang, karena kekhawatiran kami yang berlebihan, tak pernah anak-anak itu kami lepas sendirian bahkan untuk sekadar bepergian sederhana. Banyak faktornya. Bisa karena bahkan di gang-gang kampung pun sekarang ini telah menjadi medan berbahaya tempat kebut-kebutan. Semua anak sekarang ini seperti diajari untuk menjadi pembalap, sebelum masanya tiba. Maka jalan raya adalah horor yang menakutkan.
Belum pula jika kami memikirkan penculikan anak misalnya. Inilah jaman ketika semua anak seperti boleh diculik. Tidak perlu menunggu menjadi milyader untuk khawatir terhadap penculikan karena ada jenis peculik yang tidak perlu uang tebusan. Penculik ini cuma butuh mendapatkan sembarang anak, membuangnya jauh ke luar kota kalau perlu keluar pulau dan menjadikannya sebagai pengemis di jalan-jalan. Membayangkan kejahatan itu menimpa anak-anak kita adalah imajinasi yang tak ingin aku fantasikan.
Tetapi memang, walau semua risiko itu mungkin, walau gang-gang kampung pun telah menjadi medan berbahaya, walau penculikan anak bisa terjadi pada siapa saja, sumber ketakutan terbesar itu pastilah imajinasiku sendiri. Nyatanya anak-anak tetangga itu begitu gembiranya. Ada yang masih belum cukup panjang kakinya, tetapi sudah boleh bermotor ke mana-mana termasuk keliling kota tanpa helm, tanpa SIM, dengan dengan kecepatan gila, eh… pulang toh masih selamat juga.
Ada anak begitu kecilnya, tetapi jika sudah bersepeda seperti pembalap saja layaknya. Ia bisa menikung di tikungan tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan. Mudah membayangkan apa yang terjadi jika ada motor lewat dari lain jurusan pada saat yang bersamaan. Padahal apa susahnya mencari motor nekat semacam itu. Motor kreditan merajalela dan tak perlu menunggu anak menjadi remaja untuk menerjunkan mereka ke jalan raya yang ganas.
Tapi eh, pada saat anak itu menikung, hasilnya kok ya baik-baik saja. Nyatannya tabrakan yang aku takutkan itu juga cuma terjadi sesekali padahal kecerobohannya berlangsung setiap kali. Ini benar-benar kemurahan Tuhan. Mungkin karena paham Tuhan Maha Pemurah itulah, banyak sekali orang menjadi ceroboh dengan percaya diri. Aku kadang-kadang iri juga melihat orang-orang yang ceroboh tetapi selamat berkali-kali. Enak betul.
Untung saja, baik si pemberani seperti mereka, maupun si penakut sepertiku memiliki rezekinya sendiri-sendiri. Karena sikapku yang penakut itu, misalnya, bisa membuat anakku yang cuma kursus ke gang sebelah itu, aku bayangkan sebagai pergi ke luar negeri.
Akibatnya keberangkatnnya harus kulepas dengan cara sedemikian rupa, selama dalam perjalanan kubayangkan sedemikian rupa, selama pergi kunanti sedemikian rupa, sehingga begitu pulang ia juga kusambut sedemikian rupa, setara dengan menyambut anak pulang dari medan perang saja layaknya.
Jadi, untuk memeluk anak dengan histeris, tidak perlu menunggu anak kita benar-benar harus pulang dari berperang. Cukup ketika ia pergi ke kampung sebelah!
Pemantik Kegembiraan
Salah satu kelemahan saya adalah kurang menyukai bepergian. Tetapi inilah hukum keseimbangan itu. Ia bekerja tidak berdasarkan apakah kita suka atau tidak suka. Ia bekerja memang demi sebuah keseimbangan itu sendiri, tak peduli apakah saya suka atau benci. Maka meskipun saya kurang menyukai bepergian tetapi saya terpaksa sering bepergian karena sebuah keadaan. Dan manfaat bepergian itu, lepas dari saya suka atau benci kepadanya, baru terasa ketika pulang. Banyak ijazah hidup, memang cuma bisa dibentuk oleh pergi. Di dalam pulang, manusia memperoleh arti-artinya yang baru, bobot hidupnya yang baru.
Kangen anak-anak, menemukan puncaknya ketika saya pulang dari bepergian. Menyadari pentingnya rumah pun, baru setelah kita ada di kejauhan. Menghargai milik sendiri, makin terasa ketika menjelang pergi, itulah kenapa pergi selalu ingin kembali karena akan ketemu milik sendiri. Itulah kenapa setelah pulang kita harus pergi lagi demi menyadari milik kita yang ada di sini. Karena yang di sini, menjadi tambah berharga justru ketika kita di sana. Jadi, suka atau benci, saya harus pulang dan pergi.
Tetapi peristiwa berikut inilah yang hendak saya tekankan. Betapapun saya menyadari manfaat bepergian, tetapi karena dasarnya kurang suka bepergian, selalu ada rasa terpaksa di dalamnya. Dan Anda tahu keadaan orang terpaksa. Semuanya menjadi berat terasa. Baru menata kopor saja, penderitaan itu sudah dimulai. Di rumah, semua barang yang saya butuhkan tersedia: pemotong kuku, pencukur kumis, ballpoint, buku… barang-barang itu tampaknya remeh, tetapi ketergantungan saya kepadanya amat nyata. Kehilangan pemotong kuku di saat saya membutuhkannya, seperti dipecat dari pekerjaan saja rasanya.
Sekali lagi, di rumah, cukup hanya dengan berteriak, sudah ada anak yang mengantar, sudah ada istri yang menyediakan. Tetapi ketika hendak pergi, seluruh barang itu harus saya urus sendiri. Pada saat itulah saya merasa sedang meremas seluruh barang di jagat raya cuma untuk dilesakkan dalam sekotak kecil bejana. Berat rasanya.
Habis menata kopor, harus ke bandara. Antre, menunggu, bengong. Seluruh kegiatan kita rasanya tak berarti lagi karena intinya cuma mengisi waktu tunggu itupun tidak ada jaminan tepat waktu. Karena pesawat bisa menunda penerbangannya kapan saja dia mau. Jika pesawat tepat waktu pun tidak menjamin kita gembira karena jika benda ini telah terbang, di situlah soal utamanya. Kita tidak mengerti lagi, siapa yang paling berkuasa di atas sana. Pasti bukan pilot, bukan mesin, dan bukan awak kabin.
Jadi saat kita terapung-apung di ketinggian, segalanya sedang menjadi nisbi. Kenisbian itu kadang menggembirakan, kadang menakutkan kadang melelahkan. Gembira ketika kita sedang kuat. Menakutkan ketika kita sedang lemah, dan melelahkan ketika kita sedang bosan. Saya ingin mengambil yang ketiga ini saja, kebosanan itu. Itulah saat ketika seluruh tubuh dan mental sedang berada di titik terendahnya, Pada saat itulah leher saya mulaii tegang, kepala saya mulai serasa dipaku pelan-pelan. Jika paku itu melesak makin dalam, rasanya bisa Anda bayangkan. Dan itulah yang saya alami di sebuah ruang tunggu bandara suatu kali. Sakit sekali rasanya.
Tetapi dalam kesakitan itu, saya masih menyempatkan waktu untuk melirik seorang bapak yang duduk di sebelah, saya masih menyempatkan menatapnya, mengangguk, terenyum, menyapa, hasil dar kebiasaan saya saja. Akibatnya ia melempar obrolan. Padahal kebutuhan terbesar saya saat itu sebetulnya cuma ingin diam dan merasakan paku di kepala itu. Tetapi saya sekuat mungkin mendengarnya bicara, mencoba tersenyum, mencoba tertawa jika perlu, sambil meringis tentu.
Reaksi yang tak biasa ini mebuat bapak itu curiga. Ia mengerti saya sedang sakit tampaknya. Demi melihat si sakit ini masih mencoba melayaninya bicara, ikut gembira ketika ia bercerira tentang cucu pertamanya, apa yang dia lakukan kemudian? Tanpa basa-basi, ia langsung mengeluarkan balsam (hahaa… benar-benar balsam!). Memijit seluruh tengkuk, kepala dan tangan saya. Kami berdua langsung buka praktek pijat di tempat keliru itu tanpa rasa malu. Segar sekali badan saya. Apapun keadaan Anda, gembirakan orang lain, maka akan datang kegembiraan yang lebih besar untuk Anda.
(Prie GS/CN05)
Kangen anak-anak, menemukan puncaknya ketika saya pulang dari bepergian. Menyadari pentingnya rumah pun, baru setelah kita ada di kejauhan. Menghargai milik sendiri, makin terasa ketika menjelang pergi, itulah kenapa pergi selalu ingin kembali karena akan ketemu milik sendiri. Itulah kenapa setelah pulang kita harus pergi lagi demi menyadari milik kita yang ada di sini. Karena yang di sini, menjadi tambah berharga justru ketika kita di sana. Jadi, suka atau benci, saya harus pulang dan pergi.
Tetapi peristiwa berikut inilah yang hendak saya tekankan. Betapapun saya menyadari manfaat bepergian, tetapi karena dasarnya kurang suka bepergian, selalu ada rasa terpaksa di dalamnya. Dan Anda tahu keadaan orang terpaksa. Semuanya menjadi berat terasa. Baru menata kopor saja, penderitaan itu sudah dimulai. Di rumah, semua barang yang saya butuhkan tersedia: pemotong kuku, pencukur kumis, ballpoint, buku… barang-barang itu tampaknya remeh, tetapi ketergantungan saya kepadanya amat nyata. Kehilangan pemotong kuku di saat saya membutuhkannya, seperti dipecat dari pekerjaan saja rasanya.
Sekali lagi, di rumah, cukup hanya dengan berteriak, sudah ada anak yang mengantar, sudah ada istri yang menyediakan. Tetapi ketika hendak pergi, seluruh barang itu harus saya urus sendiri. Pada saat itulah saya merasa sedang meremas seluruh barang di jagat raya cuma untuk dilesakkan dalam sekotak kecil bejana. Berat rasanya.
Habis menata kopor, harus ke bandara. Antre, menunggu, bengong. Seluruh kegiatan kita rasanya tak berarti lagi karena intinya cuma mengisi waktu tunggu itupun tidak ada jaminan tepat waktu. Karena pesawat bisa menunda penerbangannya kapan saja dia mau. Jika pesawat tepat waktu pun tidak menjamin kita gembira karena jika benda ini telah terbang, di situlah soal utamanya. Kita tidak mengerti lagi, siapa yang paling berkuasa di atas sana. Pasti bukan pilot, bukan mesin, dan bukan awak kabin.
Jadi saat kita terapung-apung di ketinggian, segalanya sedang menjadi nisbi. Kenisbian itu kadang menggembirakan, kadang menakutkan kadang melelahkan. Gembira ketika kita sedang kuat. Menakutkan ketika kita sedang lemah, dan melelahkan ketika kita sedang bosan. Saya ingin mengambil yang ketiga ini saja, kebosanan itu. Itulah saat ketika seluruh tubuh dan mental sedang berada di titik terendahnya, Pada saat itulah leher saya mulaii tegang, kepala saya mulai serasa dipaku pelan-pelan. Jika paku itu melesak makin dalam, rasanya bisa Anda bayangkan. Dan itulah yang saya alami di sebuah ruang tunggu bandara suatu kali. Sakit sekali rasanya.
Tetapi dalam kesakitan itu, saya masih menyempatkan waktu untuk melirik seorang bapak yang duduk di sebelah, saya masih menyempatkan menatapnya, mengangguk, terenyum, menyapa, hasil dar kebiasaan saya saja. Akibatnya ia melempar obrolan. Padahal kebutuhan terbesar saya saat itu sebetulnya cuma ingin diam dan merasakan paku di kepala itu. Tetapi saya sekuat mungkin mendengarnya bicara, mencoba tersenyum, mencoba tertawa jika perlu, sambil meringis tentu.
Reaksi yang tak biasa ini mebuat bapak itu curiga. Ia mengerti saya sedang sakit tampaknya. Demi melihat si sakit ini masih mencoba melayaninya bicara, ikut gembira ketika ia bercerira tentang cucu pertamanya, apa yang dia lakukan kemudian? Tanpa basa-basi, ia langsung mengeluarkan balsam (hahaa… benar-benar balsam!). Memijit seluruh tengkuk, kepala dan tangan saya. Kami berdua langsung buka praktek pijat di tempat keliru itu tanpa rasa malu. Segar sekali badan saya. Apapun keadaan Anda, gembirakan orang lain, maka akan datang kegembiraan yang lebih besar untuk Anda.
(Prie GS/CN05)
Narsis itu Perlu
Saya tahu jika wajah saya tidak keren. Namun saya tetap saja membutuhkan cermin untuk berkaca. Kenapa? Karena memang ada naluri narsis pada diri saya. Tak peduli seberapapun jelek wajah saya, saya akan terus berkaca, sekadar untuk kagum pada diri sendiri.
Ketika kekaguman itu ternyata tidak ada, anehnya saya juga tidak kecewa dan tetap saja berkaca. Ini aneh, tetapi nyata. Jadi, sulit untuk menghindar dari perasaan narsis itulah pijakannya. Maka saya berusaha untuk mencari manfaat dan bahaya narsisme ini untuk menekan bahayanya dan mengembangkan manfaatnya.
Saya akan mulai latihan dengan anak-anak saya. Kepada si kecil saya bertanya: ''Di sekolah siapa yang lebih banyak, para pembenci atau penyukamu?'' tanya saya, tentu dengan bahasa yang lebih sederhana.
Ia mengaku lebih banyak disukai. Saya tanya kenapa. Dan ia berpikir keras. Dari otaknya ternyata tidak keluar apa-apa sebagai jawaban. Saya menungggunya. Karena situasinya hampir deadlock, datang kakaknya kelas dua SMP hendak membantu.
"Tak ada orang bisa menilai diri sendiri!'' kata si kakak berkomplot melawan bapaknya.
Tetapi kepada mereka saya beri bukti sederhana. Bahwa pernyataaan itu keliru. Pernyataan anak saya itu pasti bagian dari konvensi berpikir yang telah berjalan menjadi kebudayaan termasuk gaya berpikir saya sendiri. Tetapi kami merasa harus merevisi pendapat ini. Menilai diri sendiri ternyata mudah sekali. Sangat mudah malah, karena ia adalah diri kita sendiri. Kita pasti mengerti kelemahan dan kelebihan diri sendiri.
Saya misalnya, punya kemalasan yang tinggi. Jika saya tampak rajin bekerja, sesungguhnya semua itu cuma terpaksa. Karena kalau tidak bekerja saya dipecat. Jika saya terlihat bekerja keras, sesungguhnya karena tekanan keadaan.
Meksipun sudah beristri, ternyata saya masih juga suka melirik-lirik wanita cantik. Kadang-kadang di luar pengetahuan istri dan kadang malah ketika kami sedang berduaan. Sering saya kepergok menatap seorang perempuan cantik yang sedang melintas sehingga istri marah. Karena terpangkap basah, saya lalu mengeluarkan jurus bertahan sekenanya.
''Ya sudah, aku salah. Sebagai permohonan maafku, kamu juga boleh nanti kalau mau ganti melirik bapak-bapak yang ganteng,'' kata saya. Saya tidak tahu, apakah istri benar-benar membalaskan sakit hatinya.
Tegasnya, saya dengan mudah menemukan kelemahan saya. Maka pasti dengan mudah juga saya menemukan kelebihan saya. Cuma barangkali saya tidak terlatih untuk terbuka. Konvensi budaya di sekitar saya tidak mengijinkan mengatakannya secara terbuka.
Tetapi pelanggaran kebudayaan ini pasti bukan dosa kalau terbuki lebih membawa kebaikan di kelak kemudian. Kebaikan untuk siapa? Untuk diri saya sendiri lebih dulu terutama. Karena ketika saya menemukan kelebihann diri secepatnya, minimal saya tidak akan menjadi benalu masyarakat. Maka akan saya katakan saya ini pintar menggambar, pintar bermusik, pintar menulis, pintar ngomong, pintar menyenangkan hati orang dan seterusnya. Perasaan menemukan kelebihan diri sendiri ini sangat membantu saya untuk segera memartabatkan diri sendiri dengan kelebihan yang ada.
Jadi ketika anak saya itu kebingungan menjawab, tegas saja kesimpulan saya, bahwa ia bukan tidak mengerti kelebihnnya tetapi sedang ragu-ragu saja. Maka ketika saya ancam akan memotong separoh anggaran belanja mainannya, kecerdasan itu langsung deras mengalir dari otaknya.
Ia jadi tidak ragu-ragu menyebut seluruh rahasia kenapa ia disukai teman-teman sekolahnya, termasuk wajahnya yang keren. Ya, itu pertama kali dia mengaku secara terbuka punya wajah tampan, padahal wajah itu sudah 9 tahun melekat di sana. Banyak kelebihan-kelebihan diri ini mati karena ia jarang kita sapa!
(Prie GS/CN09)
Ketika kekaguman itu ternyata tidak ada, anehnya saya juga tidak kecewa dan tetap saja berkaca. Ini aneh, tetapi nyata. Jadi, sulit untuk menghindar dari perasaan narsis itulah pijakannya. Maka saya berusaha untuk mencari manfaat dan bahaya narsisme ini untuk menekan bahayanya dan mengembangkan manfaatnya.
Saya akan mulai latihan dengan anak-anak saya. Kepada si kecil saya bertanya: ''Di sekolah siapa yang lebih banyak, para pembenci atau penyukamu?'' tanya saya, tentu dengan bahasa yang lebih sederhana.
Ia mengaku lebih banyak disukai. Saya tanya kenapa. Dan ia berpikir keras. Dari otaknya ternyata tidak keluar apa-apa sebagai jawaban. Saya menungggunya. Karena situasinya hampir deadlock, datang kakaknya kelas dua SMP hendak membantu.
"Tak ada orang bisa menilai diri sendiri!'' kata si kakak berkomplot melawan bapaknya.
Tetapi kepada mereka saya beri bukti sederhana. Bahwa pernyataaan itu keliru. Pernyataan anak saya itu pasti bagian dari konvensi berpikir yang telah berjalan menjadi kebudayaan termasuk gaya berpikir saya sendiri. Tetapi kami merasa harus merevisi pendapat ini. Menilai diri sendiri ternyata mudah sekali. Sangat mudah malah, karena ia adalah diri kita sendiri. Kita pasti mengerti kelemahan dan kelebihan diri sendiri.
Saya misalnya, punya kemalasan yang tinggi. Jika saya tampak rajin bekerja, sesungguhnya semua itu cuma terpaksa. Karena kalau tidak bekerja saya dipecat. Jika saya terlihat bekerja keras, sesungguhnya karena tekanan keadaan.
Meksipun sudah beristri, ternyata saya masih juga suka melirik-lirik wanita cantik. Kadang-kadang di luar pengetahuan istri dan kadang malah ketika kami sedang berduaan. Sering saya kepergok menatap seorang perempuan cantik yang sedang melintas sehingga istri marah. Karena terpangkap basah, saya lalu mengeluarkan jurus bertahan sekenanya.
''Ya sudah, aku salah. Sebagai permohonan maafku, kamu juga boleh nanti kalau mau ganti melirik bapak-bapak yang ganteng,'' kata saya. Saya tidak tahu, apakah istri benar-benar membalaskan sakit hatinya.
Tegasnya, saya dengan mudah menemukan kelemahan saya. Maka pasti dengan mudah juga saya menemukan kelebihan saya. Cuma barangkali saya tidak terlatih untuk terbuka. Konvensi budaya di sekitar saya tidak mengijinkan mengatakannya secara terbuka.
Tetapi pelanggaran kebudayaan ini pasti bukan dosa kalau terbuki lebih membawa kebaikan di kelak kemudian. Kebaikan untuk siapa? Untuk diri saya sendiri lebih dulu terutama. Karena ketika saya menemukan kelebihann diri secepatnya, minimal saya tidak akan menjadi benalu masyarakat. Maka akan saya katakan saya ini pintar menggambar, pintar bermusik, pintar menulis, pintar ngomong, pintar menyenangkan hati orang dan seterusnya. Perasaan menemukan kelebihan diri sendiri ini sangat membantu saya untuk segera memartabatkan diri sendiri dengan kelebihan yang ada.
Jadi ketika anak saya itu kebingungan menjawab, tegas saja kesimpulan saya, bahwa ia bukan tidak mengerti kelebihnnya tetapi sedang ragu-ragu saja. Maka ketika saya ancam akan memotong separoh anggaran belanja mainannya, kecerdasan itu langsung deras mengalir dari otaknya.
Ia jadi tidak ragu-ragu menyebut seluruh rahasia kenapa ia disukai teman-teman sekolahnya, termasuk wajahnya yang keren. Ya, itu pertama kali dia mengaku secara terbuka punya wajah tampan, padahal wajah itu sudah 9 tahun melekat di sana. Banyak kelebihan-kelebihan diri ini mati karena ia jarang kita sapa!
(Prie GS/CN09)
Langgan:
Entri (Atom)





