Banyak soal membuat haru hatiku saat lebaran tiba. Misalnya penjaga masjid di kampungku yang selalu menunda pulang mudiknya karena harus menyelengarakan bermacam-macam kegiatan. Mulai dari memimpin anak-anak takbir keliling kampung di malam hari sampai menyiapkan perlengkapan shalat Idul Fitri di esok hari. Maka ketika kampung telah sepi, ia masih harus mengepel lantai, menggulung karpet dan memunguti koran-koran bekas untuk alas shalat. Wahai koran bekas itu betapa banyaknya. Padahal jika setiap pembawa itu membawa kembali korannya, gunungan kotoran itu tak akan ada.
Tapi beginilah tabiat kita ini, sambil beribadah pun bisa sekaligus berbuat dosa. Jelas sekali, kenapa ada jenis peribadatan yang rendah saja pengaruhnya bagi perbaikan kelakuan. Kita tetap di sini, seperti ini, tak ada yang berubah juga. Kita adalah pribadi yang sama dengan yang kemarin, yang berani menebar kekotoran tanpa berani membersihkan. Itulah kenapa WC umum selalu buruk mutunya. Masih saja ada orang yang berani kencing tapi tak berani mengguyur. Makanya di WC-WC umum itu, hingga di hari ini, masih saja anjuran yang sebetulnya menghina martabat kita: habis kencing harap diguyur!
Jelas anjuran itu pasti akibat dari banyaknya pengencing yang lupa mengguyur bahkan kencingnya sendiri. Itulah kecurigaan saya kenapa Indonesia ini lambat sekali menjadi negara yang sehat. Karena kesehatan itu cuma baru bisa terjadi, jika setiap dari kita sudah sama-sama menjadi pembela kepentingan bersama. Padahal sedang kita lihat, penghancuran kebersamaan itu tengah berlangsung di mana-mana. Soal-soal yang menyangkut tentang keadilan umum kesejahteraan umum, dan ketenteraman bersama sedang ada di titik rendahnya. Sementara yang menyangkut tentang keadilan pribadi, kesejahteraan pribadi dan keadilan pribadi sedang berada di titik tertinggi.
Padahal ini tidak mungkin. Karena jika orang membangun ketinggian sambil merendahkan yang lain, ia sesungguhnya sedang berada dalam bahaya. Jika seseorang membangun keluasan sambil menyempitkan pihak lain, sesungguhnya ia tengah bersiap untuk celaka. Jika keseimbangan alam ini terganggu, ia akan meminta keseimbangan itu kembali. Dan jika ini sudah terjadi, tak akan ada kekuatan yang bisa menghalangi. Siapa saja, akan dilumatnya.
Tetapi baiklah. Di tengah pameran ego-ego pribadi itu, marilah kita pungut sisa-sisa yang masih ada, soal-soal yang mengharukan hati kita, setidaknya hatiku ini. Biar ia menjadi sedikit penentram dan menerbitkan lagi kerindukan kita atas pentingnya kebersamaan. Di antara sederet soal yang bikin haru itu adalah HP tuaku. Ia tampak terengah-engah menerima berondongan SMS yang terlalu deras untuk ukuran usianya. Sebentar-sebenatar HP ini sudah berteriak bahwa ia tak kuat lagi.
Satu-satu ia saya buangi agar bisa menerima SMS lagi. Bukan pekerjaan yang mudah, karena sambil membuang, aku sempatkan untuk membalasnya, dengan sentuhan pribadi. Bukan SMS generik, yang sekali bikin bisa dikirim untuk seluruh umat di jagat raya. Aku tahu pentingnya menyebut nama-nama, menempatakn mereka sebagai pribadi istimewa di hatiku. Aku mengerti hebohnya perasaan pihak yang dihargai.
Jika cuma berpikir tentang mode, tentang ketuaan dan tentang gaya, rasanya HP ini sudah layak aku campakkan, karena bahkan anak saya pun enggan menerimanya. ''Itu HP abad Flindstone,'' katanya. Tetapi setiap hendak benda ini, entah kenapa saya selalu teringat logika poligami. Banyak orang menyakiti istri pertama yang begitu besar jasanya cuma karena ia telah peot dan tua. Maka selama ia masih bisa bersuara dan masih terlihat hurufnya, biarlah ia menjadi teman hidup saya.
(Prie GS/)
Kamis, September 25, 2008
Senin, September 22, 2008
Berapa Bayaran Seorang Masinis?
KERETA api Indonesia tak henti-hentinya menghajar dirinya dengan aneka kecelakaan. Tapi kecelakaan yang beraneka macam itu sebagian besar disebabkan oleh satu macam soal saja: pelanggaran sinyal.
Untuk mencegah tingkat kecelakaan seperti ini tak cukup hanya dengan menyeret si masinis menjadi tersangka. Tak cukup cuma dengan gerakan pengunduran diri para direksi. Ada penyebab lain yang jauh lebih serius yang sampai saat ini masih lupa diapresiasi.
Jika diamati berbagai kecelakaan itu tidak disebabkan oleh keteledoran para direksi, oleh persoalan manajemen atau oleh keterbelakangan teknologi. Setidaknya sepur di Indonesia telah dilengkapi dengan standar pengaman yang dipakai oleh semua kereta api di dunia. Setiap lokomotof telah dilengkapi dengan deadman pedal, di setiap jalur telah disediakan sistem pensinyalan. Memang, di beberapa negara, pedal itu tak lagi berbentuk pedal melainkan berbentuk lingkaran (kedua) di dalam lingkar kemudi. Tapi hampir tak pernah terdengar bahwa perbedaan pedal dan lingkaran itu begitu gawat hingga harus menyebabkan kereta gampang bertabrakan. Kecelakaan itu lebih sering terjadi karena masinis lalai atau penjaga lintasan ngantuk.
Masalahnya kenapa para masinis itu begitu gampang lalai dan para penjaga begitu mudah ngantuk. Mari berangkat dari pertanyaan mendasar: berapa mereka dibayar?
Kepada para pelayan hotel, para room boy, para satpam dan pelayan restoran kita cuma menuntut keramahan. Jika kita tengah repot parkir, satpam harus sigap mencarikan lokasi, harus siap melayani dengan kepatuhan seorang ajudan. Jika ia gagal memainkan peran ini, bahwa yang ia peragakan tak lebih dari ekspresi seorang tukang pukul, akan kita layangkan surat makian pada perusahaan sebagai lembaga amatiran.
Kepada para pelayan restoran kita cukup menjentikan jari untuk membuat mereka berlarian. Mereka harus tersenyum dengan muka terang, harus menyuguhkan tampang malaikat yang damai dan tenteram. Sedikit saja mereka bermuka masam dan berbuat kesalahan, cukup untuk membuat kita murka dan menganggap restoran ini sebagai warung murahan.
Kepada para resepsionis dan operator telepon, kita hanya tahu bahwa mereka harus selalu siaga dalam posisi, harus bersuara semerdu peri. Jika kita sedang bertelpon, mereka harus menyambut kita sebagai juragan. Jika mereka gagal berlaku sopan, tempat kerja mereka akan kita anggap sebagai kantor pekerja jalanan.
Masih ada banyak lagi jenis profesi yang besar penghargaanya tidak sepadan dengan kebesaran fungsinya. Sehebat-hebat kereta api Indonesia membenahi manajemennya, memajukan teknologinya, nasib mereka toh tergantung masinisnya juga. Para pengusaha travel dan biro-biro perjalanan boleh memodernisir sistemnya, mempermewah fasiltas armadanya, tapi nasib mereka tergantung sopir juga.
Padahal kita tak pernah bertanya kelalaian oleh sebab apa yang biasa melanda para masisnis dan sopir-sopir itu? Bisa jadi mereka tidak mengantuk tapi sedang gundah lantaran berpikir soal angsuran sepeda motor, soal rencana rehab rumah dan biaya anak-anak kuliah. Mereka adalah ornag-orang yang bisa jadi tak pernah bisa memikirkan pekerjaannya dengan tenang karena soal kesejahteraan. Ya, siapa tahu, karena kita memang tak pernah bertanya tentang hal-hal semacam itu. (cn01)
(PrieGS/)
Untuk mencegah tingkat kecelakaan seperti ini tak cukup hanya dengan menyeret si masinis menjadi tersangka. Tak cukup cuma dengan gerakan pengunduran diri para direksi. Ada penyebab lain yang jauh lebih serius yang sampai saat ini masih lupa diapresiasi.
Jika diamati berbagai kecelakaan itu tidak disebabkan oleh keteledoran para direksi, oleh persoalan manajemen atau oleh keterbelakangan teknologi. Setidaknya sepur di Indonesia telah dilengkapi dengan standar pengaman yang dipakai oleh semua kereta api di dunia. Setiap lokomotof telah dilengkapi dengan deadman pedal, di setiap jalur telah disediakan sistem pensinyalan. Memang, di beberapa negara, pedal itu tak lagi berbentuk pedal melainkan berbentuk lingkaran (kedua) di dalam lingkar kemudi. Tapi hampir tak pernah terdengar bahwa perbedaan pedal dan lingkaran itu begitu gawat hingga harus menyebabkan kereta gampang bertabrakan. Kecelakaan itu lebih sering terjadi karena masinis lalai atau penjaga lintasan ngantuk.
Masalahnya kenapa para masinis itu begitu gampang lalai dan para penjaga begitu mudah ngantuk. Mari berangkat dari pertanyaan mendasar: berapa mereka dibayar?
Kepada para pelayan hotel, para room boy, para satpam dan pelayan restoran kita cuma menuntut keramahan. Jika kita tengah repot parkir, satpam harus sigap mencarikan lokasi, harus siap melayani dengan kepatuhan seorang ajudan. Jika ia gagal memainkan peran ini, bahwa yang ia peragakan tak lebih dari ekspresi seorang tukang pukul, akan kita layangkan surat makian pada perusahaan sebagai lembaga amatiran.
Kepada para pelayan restoran kita cukup menjentikan jari untuk membuat mereka berlarian. Mereka harus tersenyum dengan muka terang, harus menyuguhkan tampang malaikat yang damai dan tenteram. Sedikit saja mereka bermuka masam dan berbuat kesalahan, cukup untuk membuat kita murka dan menganggap restoran ini sebagai warung murahan.
Kepada para resepsionis dan operator telepon, kita hanya tahu bahwa mereka harus selalu siaga dalam posisi, harus bersuara semerdu peri. Jika kita sedang bertelpon, mereka harus menyambut kita sebagai juragan. Jika mereka gagal berlaku sopan, tempat kerja mereka akan kita anggap sebagai kantor pekerja jalanan.
Masih ada banyak lagi jenis profesi yang besar penghargaanya tidak sepadan dengan kebesaran fungsinya. Sehebat-hebat kereta api Indonesia membenahi manajemennya, memajukan teknologinya, nasib mereka toh tergantung masinisnya juga. Para pengusaha travel dan biro-biro perjalanan boleh memodernisir sistemnya, mempermewah fasiltas armadanya, tapi nasib mereka tergantung sopir juga.
Padahal kita tak pernah bertanya kelalaian oleh sebab apa yang biasa melanda para masisnis dan sopir-sopir itu? Bisa jadi mereka tidak mengantuk tapi sedang gundah lantaran berpikir soal angsuran sepeda motor, soal rencana rehab rumah dan biaya anak-anak kuliah. Mereka adalah ornag-orang yang bisa jadi tak pernah bisa memikirkan pekerjaannya dengan tenang karena soal kesejahteraan. Ya, siapa tahu, karena kita memang tak pernah bertanya tentang hal-hal semacam itu. (cn01)
(PrieGS/)
Kamis, September 18, 2008
Selamat Berpuasa

"Selamat Menjalankan Ibadah Puasa bagi kawan-kawan yang melaksanakannya"
Mari sejenak penjarakan hawa nafsu dan kembali kita mencoba merenungi segala yang ada di sekitar.
Mari sejenak penjarakan hawa nafsu dan kembali kita mencoba merenungi segala yang ada di sekitar.
photo credit :
http://www.flickr.com/photos/flyzipper/73088090/
http://www.flickr.com/photos/flyzipper/73088090/
Selasa, September 16, 2008
Sandal Buruk Rupa
Adalah menyenangkan bahwa siapapun kita, ternyata memiliki naluri berbuat baik. Saya pun terpaksa sering memuji diri sendiri jika naluri semacam itu muncul. Tersedia cukup sarana untuk menyalurkan hasrat ini, lebih-lebih di negeri seperti Indonesia. Di jalan-jalan, di balik riuh kota besar, di gang-gang kompleks perumahan, selalu saja tersedia hal-hal yang nyaris musykil. Bagaimana mungkin di zaman mall ini, zaman tempat duit tiga juta perak hanya untuk belanja selembar tiket pertunjukan, masih bisa ditemui tukang reparasi payung, penjahit kasur bekas dan tukang timbangan keliling. Jasa yang disebut terakhir ini malah lebih sulit lagi dicerna. Bagaimana mungkin ketika di mana-mana orang sedang gandrung dengan tips menjadi cepat kaya, di mana-mana orang tengah tidak sabar untuk meraih kemerdekaan finansial, masih ada saja orang berbisnis menenteng timbangan dan berharap masih ada orang mau mengecek berat badannya.
Orang-orang semacam itu sungguh merangsang naluri kebaikan hati. Saya sendiri selalu merasakan gairah hebat untuk segera menyalurkan hasrat kedermawanan ini jika melihat mereka berkelebat. Jika ada pengumpul botol lewat, setengah mati saya mencari botol bekas di sekujur ceruk rumah untuk saya berikan begitu saja. Jika ada penadah koran datang, semua tumpukan koran saya usung dan saya biarkan dia menawar sesukanya. Ketika dia hendak membayar, duit itu akan saya kembalikan lagi kepadanya. Melihat orang-orang itu takjub oleh kedermawaan saya, membungkuk dalam-dalam dengan rasa hormat yang nyata, sungguh mendatangkan sensasi kebahagiaan yang hebat. Indah, karena telah membuat orang lain bahagia. Haru, demi melihat ada jenis kehidupan yang begitu payah mutunya.
Dorongan kedermawanan semacam itulah yang muncul ketika belum lama ini saya melihat tukang sol sepatu melintas di depan rumah. Memandangi wajahnya yang lelah, sepedanya yang tua, properti kerjanya yang seadanya, ditambah membayangkan berapakah hasil kerja seperti ini dalam sehari, atau masih adakah orang yang punya kebiasaan mendaur ulang sepatu, sungguh merupakan kengerian tersendiri.
Maka dorongan untuk segera berbuat mulia langsung mengepul di sekujur kepala. Tukang sol ini harus memperoleh rezeki secepatnya. Berapapun harga yang ia minta akan saya iyakan saja. Kalau perlu, jika ia nanti me-mark up tarif, saya akan pura-pura tak tahu. Jika hasil upah ditambah hasil mark up itu pun masih terhitung rendah, saya telah bersiap memberikan uang kembalian sebagai hadiah.
Tapi sudahlah, bahkan dalam berbuat baik pun seseorang harus tenang dan bersahaja. Tak boleh tampak terlalu baik apalagi ambisius semacam ini. Maka keputusan saya pun akhirnya sekadar menjalin jual beli secara wajar. Kebetulan toh saya punya sandal kesayangan yang bermasalah. Sandal ini enak dipakai, modelnya cocok dibawa kemana saja. Persoalannya ialah betapa buruk mutu jahitannya, betapa licin alasnya. Bukan cuma sekali sandal ini hampir membuat saya celaka. Maka kepada tukang sol inilah saya mengadu. Membayangkan bahwa sandal keramat ini akan jadi awet, adalah kebahagiaan pertama. Membayangkan sandal yang awet serta aman, adalah kebahagiaan kedua. Membayangkan wajah tukang sol ini bahagia adalah kebahagiaan ketiga.
Pendek kata semua hasil berakhir memuaskan. Tarif oke, keawetan oke, keamanan oke! Tiga kebahagiaan dan tiga oke, bayangkan! Hanya satu saja yang tidak oke dan ini betul-betul hasil yang tak pernah saya duga. Sandal kesayangan ini memang menjadi sangat kuat, sangat tidak licin tapi sekaligus menjadi sangat buruk rupa. Cara tukang sol ini menguatkan jahitannya betul-betul menggila. Semua sisi dihantamnya. Alas sandal yang licin ia ganjal sedemikian rupa hingga menyerupai bakiak purba. Daya cengkeramnya memang jadi dahsyat. ''Kalau rem cakram, kalau ban radial,'' katanya bangga.
Demi melihat sandal keramat ini menjelma si buruk rupa, saya kalap dan meradang sejadi-jadinya. ''Sampean memperbaiki satu hal tapi merusak hal lainnya,'' kata saya murka. ''Saya ini orang terpandang, tokoh masyarakat. Saya memang butuh sandal yang kuat tapi sekaligus cocok dengan ketokohan saya. Padahal sandal ini hanya cocok untuk penggali pasir!''
Selanjutnya, dengan tubuh gemetar oleh kemarahan, saya berkotbah di hadapan orang ini dengan teori kepuasan pelanggan, tentang pentingnya berkomunikasi, dan tips menjadi tukang sol yang sukses. Tapi semua ini tidak juga meredakan kemarahan setiap kali saya menoleh ke sandal buruk rupa. Sebuah kemarahan yang sengit hingga mengubur niat saya semula yakni ingin membuat tukang sol itu bahagia. Tidak, saya ternyata adalah seorang penipu. Tujuan saya sebenarnya adalah membahagiakan diri sendiri dengan kedok orang lain.
(PrieGS/)
Orang-orang semacam itu sungguh merangsang naluri kebaikan hati. Saya sendiri selalu merasakan gairah hebat untuk segera menyalurkan hasrat kedermawanan ini jika melihat mereka berkelebat. Jika ada pengumpul botol lewat, setengah mati saya mencari botol bekas di sekujur ceruk rumah untuk saya berikan begitu saja. Jika ada penadah koran datang, semua tumpukan koran saya usung dan saya biarkan dia menawar sesukanya. Ketika dia hendak membayar, duit itu akan saya kembalikan lagi kepadanya. Melihat orang-orang itu takjub oleh kedermawaan saya, membungkuk dalam-dalam dengan rasa hormat yang nyata, sungguh mendatangkan sensasi kebahagiaan yang hebat. Indah, karena telah membuat orang lain bahagia. Haru, demi melihat ada jenis kehidupan yang begitu payah mutunya.
Dorongan kedermawanan semacam itulah yang muncul ketika belum lama ini saya melihat tukang sol sepatu melintas di depan rumah. Memandangi wajahnya yang lelah, sepedanya yang tua, properti kerjanya yang seadanya, ditambah membayangkan berapakah hasil kerja seperti ini dalam sehari, atau masih adakah orang yang punya kebiasaan mendaur ulang sepatu, sungguh merupakan kengerian tersendiri.
Maka dorongan untuk segera berbuat mulia langsung mengepul di sekujur kepala. Tukang sol ini harus memperoleh rezeki secepatnya. Berapapun harga yang ia minta akan saya iyakan saja. Kalau perlu, jika ia nanti me-mark up tarif, saya akan pura-pura tak tahu. Jika hasil upah ditambah hasil mark up itu pun masih terhitung rendah, saya telah bersiap memberikan uang kembalian sebagai hadiah.
Tapi sudahlah, bahkan dalam berbuat baik pun seseorang harus tenang dan bersahaja. Tak boleh tampak terlalu baik apalagi ambisius semacam ini. Maka keputusan saya pun akhirnya sekadar menjalin jual beli secara wajar. Kebetulan toh saya punya sandal kesayangan yang bermasalah. Sandal ini enak dipakai, modelnya cocok dibawa kemana saja. Persoalannya ialah betapa buruk mutu jahitannya, betapa licin alasnya. Bukan cuma sekali sandal ini hampir membuat saya celaka. Maka kepada tukang sol inilah saya mengadu. Membayangkan bahwa sandal keramat ini akan jadi awet, adalah kebahagiaan pertama. Membayangkan sandal yang awet serta aman, adalah kebahagiaan kedua. Membayangkan wajah tukang sol ini bahagia adalah kebahagiaan ketiga.
Pendek kata semua hasil berakhir memuaskan. Tarif oke, keawetan oke, keamanan oke! Tiga kebahagiaan dan tiga oke, bayangkan! Hanya satu saja yang tidak oke dan ini betul-betul hasil yang tak pernah saya duga. Sandal kesayangan ini memang menjadi sangat kuat, sangat tidak licin tapi sekaligus menjadi sangat buruk rupa. Cara tukang sol ini menguatkan jahitannya betul-betul menggila. Semua sisi dihantamnya. Alas sandal yang licin ia ganjal sedemikian rupa hingga menyerupai bakiak purba. Daya cengkeramnya memang jadi dahsyat. ''Kalau rem cakram, kalau ban radial,'' katanya bangga.
Demi melihat sandal keramat ini menjelma si buruk rupa, saya kalap dan meradang sejadi-jadinya. ''Sampean memperbaiki satu hal tapi merusak hal lainnya,'' kata saya murka. ''Saya ini orang terpandang, tokoh masyarakat. Saya memang butuh sandal yang kuat tapi sekaligus cocok dengan ketokohan saya. Padahal sandal ini hanya cocok untuk penggali pasir!''
Selanjutnya, dengan tubuh gemetar oleh kemarahan, saya berkotbah di hadapan orang ini dengan teori kepuasan pelanggan, tentang pentingnya berkomunikasi, dan tips menjadi tukang sol yang sukses. Tapi semua ini tidak juga meredakan kemarahan setiap kali saya menoleh ke sandal buruk rupa. Sebuah kemarahan yang sengit hingga mengubur niat saya semula yakni ingin membuat tukang sol itu bahagia. Tidak, saya ternyata adalah seorang penipu. Tujuan saya sebenarnya adalah membahagiakan diri sendiri dengan kedok orang lain.
(PrieGS/)
Selasa, September 09, 2008
Bekerja Demi Bekerja
Bukan kita bekerja untuk uang tapi uanglah yang bekerja untuk kita. (Robert T Kiyosaki)
Kalimat itu saudaraku, saya kutip dari buku seorang yang buku-bukunya mengguncang banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk kita, di Indonesia. Orang ini setidaknya punya empat buku yang sangat menghasut, yang ia sebut sebagai serial Rich Dad. Kenapa? Karena semua buku itu memang bermula dari buku pertamanya yang sekarang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa: Rich Dad Poor Dad.
Sungguh buku yang menggugah sekaligus menakutkan. Karena betapa gelar doktor dan profesor, kehebatan inelegensi, ketinggian gelar akademis, tak lebih dari sekadar prestasi kelas pekarja. Di buku ini, mereka cuma akan jatuh menjadi the poor dad, bapak yang miskin, yang hidup cuma dari duit gaji, tua dengan dana pensiun, dan masih harus digelayuti aneka pajak pula. Siapapun kita, sepanjang cuma bisa hidup dari bayaran, tetaplah masuk kasta terendah dari empat kasta yang ada.
Berbeda dengan bapak yang lain lagi, the rich dad itu. Sekolahnya tak perlu tinggi, kalau perlu boleh putus sekolah, tapi sepanjang mereka memiliki naluri berinvestasi, naluri mencetak uang, mereka akan menjadi manusia yang tidak cuma kaya, tapi harus disebut ultra kaya. Mereka akan menjadi seperti Bill Gates pendiri Microsoft, Henry Ford pendiri Ford Motor Company, Thomas Edison pendiri General Electric, Ted Turner pendiri CNN, Michael Dell pendiri Dell Computer.
Merekalah orang yang telah hidup di kasta tertinggi, yakni manusia investasi, seorang investor. Dengan uangnya yang tak terhitung, pekerjaan orang ini melulu cuma berinvestasi. Keuntungan dari satu ivestasi akan melahirkan investasi lainnya. Terus, terus dan terus, sampai rangkaian investasi itu menjalar menjadi gurita raksasa sampai orang ini tak sanggup lagi menampung tumpukan uangnya apalagi menghafal nama-nama karyawannya.
Dengan kedudukannya itu, mereka bisa pensiun kapan saja, pergi ke belahan dunia manapun. Jika mereka mengerjakan sesuatu, bukan karena mereka ''harus'' mengerjakan, tapi karena mereka ''ingin'' mengerjakan sesuatu itu. Ada memang perbedaan besar antara yang ''harus'' dan yang ''ingin''.
Dan betapa menyenangkan tinggal di kasta itu. Betapa malang jika kita akhirnya cuma bisa berada di kelas pekerja sampai mati, menjadi tukang sampai akhir hayat. Buku ini dengan sangat meyakinkan meggoda kita, betapa menjadi kaya adalah urusan mudah, betapa pindah kasta adalah soal sederhana. Sungguh buku yang memberi semangat yang menggugah, pemberi kesadaran yang mencerahkan, sekaligus menyodorkan impian yang memabukkan.
Yang aku takutkan saudaraku, jika dari buku semacam ini kita cuma sanggup mengambil mimpi sambil melupakan semangat dan pencerahan itu. Karena soal bakat mimpi, tak perlu kita ragukan, kita adalah jagonya. Berapa banyak orang kaya kita yang benar-benar berasal dari semangat investasinya? Orang semacam itu bukannya tak ada, tapi jangan-jangan tak banyak jumlahnya.
Banyaknya pejabat dan konglomerat bermasalah membuktikan kepada kita betapa banyak kekayaan yang diperoleh dari tipu daya dagang dan penyelewengan kekuasaan. Orang kaya semacam itu adalah borjuis palsu. Mereka tak pernah bisa kaya dengan cara benar-benar bekerja tapi cukup menerabas dan menipu. Dan itulah kelakuan para pemimpi yang mencari kekayaan justru dengan cara berangkat tidur, untuk kemudian berharap ada timbunan harta ketika ia terjaga.
Maka saudaraku, semangat menjadi kaya itulah yang membuat tampang kita sering bisa menjadi aneh secara tiba-tiba. Dari seorang yang peragu dan rendah diri, kita bisa seketika menjadi klimis berdasi dan percaya diri. Begitu usai mendatangi seminar leadership, self improvement atau pengembangan pribadi, kita sudah bisa keluar bak pendekar Musashi. Dengan pedang di tangan, kita merasa telah siap membabat nasib sial.
Padahal watak nasib itu sering serupa angkasa raya, menyerupai ruang kosong yang sabetan pedang tak akan berarti apa-apa karena cuma ketemu ruang hampa.
Maka sebetulnya, Robert T Kiyosaki mestinya tak cukup hanya punya dua bapak, bapak miskin dan bapak kaya itu, tapi juga butuh jenis bapak satu lagi. Bapak yang mengingatkan kita tentang adanya tipe manusia yang bekerja tidak demi untuk uang uang atau untuk apapun, tapi demi bekerja itu sendiri. Dan orang semacam itu membingungkan kita karena entah terletak di kasta yang mana! (03)
(PrieGS/)
Kalimat itu saudaraku, saya kutip dari buku seorang yang buku-bukunya mengguncang banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk kita, di Indonesia. Orang ini setidaknya punya empat buku yang sangat menghasut, yang ia sebut sebagai serial Rich Dad. Kenapa? Karena semua buku itu memang bermula dari buku pertamanya yang sekarang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa: Rich Dad Poor Dad.
Sungguh buku yang menggugah sekaligus menakutkan. Karena betapa gelar doktor dan profesor, kehebatan inelegensi, ketinggian gelar akademis, tak lebih dari sekadar prestasi kelas pekarja. Di buku ini, mereka cuma akan jatuh menjadi the poor dad, bapak yang miskin, yang hidup cuma dari duit gaji, tua dengan dana pensiun, dan masih harus digelayuti aneka pajak pula. Siapapun kita, sepanjang cuma bisa hidup dari bayaran, tetaplah masuk kasta terendah dari empat kasta yang ada.
Berbeda dengan bapak yang lain lagi, the rich dad itu. Sekolahnya tak perlu tinggi, kalau perlu boleh putus sekolah, tapi sepanjang mereka memiliki naluri berinvestasi, naluri mencetak uang, mereka akan menjadi manusia yang tidak cuma kaya, tapi harus disebut ultra kaya. Mereka akan menjadi seperti Bill Gates pendiri Microsoft, Henry Ford pendiri Ford Motor Company, Thomas Edison pendiri General Electric, Ted Turner pendiri CNN, Michael Dell pendiri Dell Computer.
Merekalah orang yang telah hidup di kasta tertinggi, yakni manusia investasi, seorang investor. Dengan uangnya yang tak terhitung, pekerjaan orang ini melulu cuma berinvestasi. Keuntungan dari satu ivestasi akan melahirkan investasi lainnya. Terus, terus dan terus, sampai rangkaian investasi itu menjalar menjadi gurita raksasa sampai orang ini tak sanggup lagi menampung tumpukan uangnya apalagi menghafal nama-nama karyawannya.
Dengan kedudukannya itu, mereka bisa pensiun kapan saja, pergi ke belahan dunia manapun. Jika mereka mengerjakan sesuatu, bukan karena mereka ''harus'' mengerjakan, tapi karena mereka ''ingin'' mengerjakan sesuatu itu. Ada memang perbedaan besar antara yang ''harus'' dan yang ''ingin''.
Dan betapa menyenangkan tinggal di kasta itu. Betapa malang jika kita akhirnya cuma bisa berada di kelas pekerja sampai mati, menjadi tukang sampai akhir hayat. Buku ini dengan sangat meyakinkan meggoda kita, betapa menjadi kaya adalah urusan mudah, betapa pindah kasta adalah soal sederhana. Sungguh buku yang memberi semangat yang menggugah, pemberi kesadaran yang mencerahkan, sekaligus menyodorkan impian yang memabukkan.
Yang aku takutkan saudaraku, jika dari buku semacam ini kita cuma sanggup mengambil mimpi sambil melupakan semangat dan pencerahan itu. Karena soal bakat mimpi, tak perlu kita ragukan, kita adalah jagonya. Berapa banyak orang kaya kita yang benar-benar berasal dari semangat investasinya? Orang semacam itu bukannya tak ada, tapi jangan-jangan tak banyak jumlahnya.
Banyaknya pejabat dan konglomerat bermasalah membuktikan kepada kita betapa banyak kekayaan yang diperoleh dari tipu daya dagang dan penyelewengan kekuasaan. Orang kaya semacam itu adalah borjuis palsu. Mereka tak pernah bisa kaya dengan cara benar-benar bekerja tapi cukup menerabas dan menipu. Dan itulah kelakuan para pemimpi yang mencari kekayaan justru dengan cara berangkat tidur, untuk kemudian berharap ada timbunan harta ketika ia terjaga.
Maka saudaraku, semangat menjadi kaya itulah yang membuat tampang kita sering bisa menjadi aneh secara tiba-tiba. Dari seorang yang peragu dan rendah diri, kita bisa seketika menjadi klimis berdasi dan percaya diri. Begitu usai mendatangi seminar leadership, self improvement atau pengembangan pribadi, kita sudah bisa keluar bak pendekar Musashi. Dengan pedang di tangan, kita merasa telah siap membabat nasib sial.
Padahal watak nasib itu sering serupa angkasa raya, menyerupai ruang kosong yang sabetan pedang tak akan berarti apa-apa karena cuma ketemu ruang hampa.
Maka sebetulnya, Robert T Kiyosaki mestinya tak cukup hanya punya dua bapak, bapak miskin dan bapak kaya itu, tapi juga butuh jenis bapak satu lagi. Bapak yang mengingatkan kita tentang adanya tipe manusia yang bekerja tidak demi untuk uang uang atau untuk apapun, tapi demi bekerja itu sendiri. Dan orang semacam itu membingungkan kita karena entah terletak di kasta yang mana! (03)
(PrieGS/)
Minggu, September 07, 2008
Goresan di Pintu Mobil
Seorang kawan kedapatan begitu marah demi melihat pintu belakang mobilnya tergores paku. "Itu pekerjaan pengamen yang tak kuberi duit," katanya dengan rahang mengeras dan mata menyala. Maka sejak itu ia punya pekerjaan baru: memburu si pengamen di segenap perempatan lampu merah.
Goresan itu benar-benar membuat batinnya terganggu. Karena mobil itu telah menjadi bagian hidupnya. Kebersihannya adalah seni, kemilaunya adalah jiwa. Jika hujan, ia lebih menyukai bermotor atau bertaksi. Jika becek menghadang, ia pilih putar haluan. Katimbang mobilnya, ia lebih merelakan tubuhnya untuk tertimpa angin dan hujan. Maka goresan paku itu benar-benar musibah yang menyulut api kemarahannya.
Di rumah ia menjadi demikian peka. Canda anak-anaknya hanyalah berarti keributan. Pembantu yang bergerak lambat berarti pembangkangan, kemesraan istri malah mendatangkan kebosanan. Hidup si kawan ini tiba-tiba menjadi begitu malang. Ia merasa segalanya menjadi sangat tidak ramah. Jalanan cuma menjadi semakin tidak aman. Makin padat, gaduh, penuh pengemis dan pengamen yang menurutnya tak lebih dari para pencoleng belaka. Telah setiap kali ia menyediakan segepok uang receh, bukan untuk berderma, tapi sekadar untuk melunakkan hati para pencoleng itu agar tidak berbuat kerusakan. Maka benarlah dugaannya, karena sekali saja luput memberi, paku itu langsung beraksi.
Maka setiap menatap uang receh di dalam mobilnya, ia hanya melihat simbol gangguan yang menekan. Setiap hari ia terpaksa harus memberi uang-uang receh itu untuk sesuatu yang sangat dia benci. "Ini bukan soal nilai duit, ini soal prinsip," katanya setiap kali. Tapi astaga, jika ia ngotot mempertahankan prinsip itu, dengan cepat ia merasakan akibat yang begitu mengerikan. Padahal kehujanan saja mobil itu tak kurelakan, apalagi harus di beleret paku, lagi pula sepanjang itu! Ooo remuk jiwaku!
Maka jadilah ia terpaksa melanggar prinsipnya sendiri. Setiap saat ia terpaksa memberikan uang-uang recehnya dengan kemarahan membara di seluruh dada. Sekeping receh yang lepas dari tangannya, adalah berarti satu pukulan keras bagi harga dirinya. "Akhirnya hidupku cuam didikte oleh sekadar pengamen dan para pemalak jalanan. Ada sekian lampu merah. Satu lampu merah kulewati sekian kali sehari. Sekali lewat sekali uang receh. Padahal ada berkali-kali uang receh dalam sehari. Padahal satu uang receh berarti satu pukulan batin. Padahal berapa pukulan yang harus kutanggung dalam seminggu, sebulan, setahun. Padahal aku harus selalu melewati lampu-lampu merah itu bertahun-tahun, atau malah bisa jadi sepanjang hidupku. Berarti selama itu pula teror ini akan menggerogoti umurku,'' katanya dengan nafas memburu.
Ya, demikian gampang ternyata hidup si kawan ini, atau bisa jadi kita semua, terganggu. Hanya karena goresan kecil di mobil, burung piaraan mati, atau buah di pekarangan dipetik orang, kita bisa melupakan tawa anak-anak dan kesabaran seorang istri. Canda mereka malah berarti kebisingan, dan kelucuan mereka malah menimbulkan kejengkelan. Hanya karena segores paku, seseorang bisa begitu menganggap sial hidupnya dan menganggap para pemulung, pengemis dan pengamen jalanan adalah orang-orang yang begitu berkuasa. Inilah hebatnya kekuatan gangguan: bahkan seseorang yang punya kekuatan naik mobil pun bisa demikian iri pada orang yang cuma kuat mengamen dan menggores. (03)
(PrieGS/)
Goresan itu benar-benar membuat batinnya terganggu. Karena mobil itu telah menjadi bagian hidupnya. Kebersihannya adalah seni, kemilaunya adalah jiwa. Jika hujan, ia lebih menyukai bermotor atau bertaksi. Jika becek menghadang, ia pilih putar haluan. Katimbang mobilnya, ia lebih merelakan tubuhnya untuk tertimpa angin dan hujan. Maka goresan paku itu benar-benar musibah yang menyulut api kemarahannya.
Di rumah ia menjadi demikian peka. Canda anak-anaknya hanyalah berarti keributan. Pembantu yang bergerak lambat berarti pembangkangan, kemesraan istri malah mendatangkan kebosanan. Hidup si kawan ini tiba-tiba menjadi begitu malang. Ia merasa segalanya menjadi sangat tidak ramah. Jalanan cuma menjadi semakin tidak aman. Makin padat, gaduh, penuh pengemis dan pengamen yang menurutnya tak lebih dari para pencoleng belaka. Telah setiap kali ia menyediakan segepok uang receh, bukan untuk berderma, tapi sekadar untuk melunakkan hati para pencoleng itu agar tidak berbuat kerusakan. Maka benarlah dugaannya, karena sekali saja luput memberi, paku itu langsung beraksi.
Maka setiap menatap uang receh di dalam mobilnya, ia hanya melihat simbol gangguan yang menekan. Setiap hari ia terpaksa harus memberi uang-uang receh itu untuk sesuatu yang sangat dia benci. "Ini bukan soal nilai duit, ini soal prinsip," katanya setiap kali. Tapi astaga, jika ia ngotot mempertahankan prinsip itu, dengan cepat ia merasakan akibat yang begitu mengerikan. Padahal kehujanan saja mobil itu tak kurelakan, apalagi harus di beleret paku, lagi pula sepanjang itu! Ooo remuk jiwaku!
Maka jadilah ia terpaksa melanggar prinsipnya sendiri. Setiap saat ia terpaksa memberikan uang-uang recehnya dengan kemarahan membara di seluruh dada. Sekeping receh yang lepas dari tangannya, adalah berarti satu pukulan keras bagi harga dirinya. "Akhirnya hidupku cuam didikte oleh sekadar pengamen dan para pemalak jalanan. Ada sekian lampu merah. Satu lampu merah kulewati sekian kali sehari. Sekali lewat sekali uang receh. Padahal ada berkali-kali uang receh dalam sehari. Padahal satu uang receh berarti satu pukulan batin. Padahal berapa pukulan yang harus kutanggung dalam seminggu, sebulan, setahun. Padahal aku harus selalu melewati lampu-lampu merah itu bertahun-tahun, atau malah bisa jadi sepanjang hidupku. Berarti selama itu pula teror ini akan menggerogoti umurku,'' katanya dengan nafas memburu.
Ya, demikian gampang ternyata hidup si kawan ini, atau bisa jadi kita semua, terganggu. Hanya karena goresan kecil di mobil, burung piaraan mati, atau buah di pekarangan dipetik orang, kita bisa melupakan tawa anak-anak dan kesabaran seorang istri. Canda mereka malah berarti kebisingan, dan kelucuan mereka malah menimbulkan kejengkelan. Hanya karena segores paku, seseorang bisa begitu menganggap sial hidupnya dan menganggap para pemulung, pengemis dan pengamen jalanan adalah orang-orang yang begitu berkuasa. Inilah hebatnya kekuatan gangguan: bahkan seseorang yang punya kekuatan naik mobil pun bisa demikian iri pada orang yang cuma kuat mengamen dan menggores. (03)
(PrieGS/)
Langgan:
Entri (Atom)





