JUDUL di atas bukan gambaran pemandangan di sebuah kamp penyiksaan melainkan cukup terjadi di rumah Apriyani, di Cibeber Bekasi. Di rumah itulah, selama dua bulan, ia dikabarkan menganiaya pembantunya, Haryanti, wanita asal Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.
Selama itulah, setiap kesalahan kecil, berarti bencana bagi Haryanti. Bencana itu bisa berupa pukulan balok kayu, jambakan dan sayatan pisau. Puncaknya adalah ketika kepala pembantu itu digunduli dan pahanya diseterika. Oya, dalam aksi aniaya itu, Apriyanti tidak sendiri. Ia juga dibantu anak lelakinya yang mulai pintar menghantamkan balok kayu ke tubuh sang pembantu. Bantuan ini termasuk luar biasa mengingat si anak baru duduk di kelas 1 SD.
Cerita di atas setidaknya membuktikan dua hal. Pertama, betapa praktek perbudakan belum selesai di Indonesia. Kedua, betapa masih serius hambatan usaha pemberdayaan dan penyadaran perempuan.
Soal perbudakan itu, kita memang pernah sangat sukses mengadopsi kebiasan kaum feodal, meski kita cuma feodal gadungan. Di masa lalu, siapapun kita, meskipun bukan priyayi beneran, sepanjang telah bisa mengangkat pembantu, akan langsung mendapat sebutan bendara. Para pembantu itu, berapapun kita bayar, ia datang kepada kita tak lebih untuk ngenger, untuk suwita atau mengabdi. Maka status mereka adalah abdi. Bagi seorang abdi, jangankan bicara soal bayaran tinggi, diizinkan untuk mengabdi pun sudah merupakan anugerah. Maka kekuasaan bendara pada abdinya nyaris mutlak. Kalau perlu boleh main sayat dan main seterika seperti yang terjadi di Bekasi itu.
Sekarang soal pemberdayaan dan penyadaran perempuan itu. Betapa lambat usaha ke arah ini berjalan. Ketika biro-biro jasa mendidik para pekerja, rasanya mereka cuma mengajari bagaimana cara merawat bayi, mencuci dan menyeterika. Mereka tidak diajari, misalnya, agar segera lapor polisi jika dianiaya, agar secepatnya menunjuk pengacara jika hak-haknya terganggu. Tips mengatasi majikan sadis adalah kurikulum yang tak pernah ditanamkan di benak mereka.
Kesadaran atas persoalan-persoalan hukum praktis, kesadaran atas hak-hak profesi, seperti sengaja dijauhkan dari mereka. Betapa mereka sengaja didesain sebagai mesin. Tak pernah diyakinkan bahwa mereka bukan jongos, melainkan para profesional.
Maka orang-orang ini harus berani pasang harga, kalau perlu menolak sebutan pembantu yang meremehkan itu. Bahwa menanak nasi dan merawat bayi harus dianggap sama susahnya dengan membangun jembatan layang dan gedung-gedung tinggi. Orang yang menganggap pekerjaan pembantu sebagai murahan, biarkan menangani pekerjaan itu sendiri. Biarlah Michael Jackson menyeterika bajunya sendiri. Biarlah para pejabat, pengusaha, tauke, insinyur, dokter... ngepel lantai mereka sendiri.
Ya, kaum wanita, baik yang tengah menjadi pembantu maupun para ibu rumah tangga, sebaiknya segera menyadari hal ini. Jika suami Anda adalah orang yang gemar main pukul dan menganiaya, laporklan saja ke polisi. Jika status perkawinanmu digantung, jika dia menyiksamu dengan cara enggan menceraikanmu, tunjuk pengacara untuk membelamu. Buktikan bahwa engkau bukan pihak yang gampang diremehkan dan disakiti. Tapi betapa banyak para wanita yang memilih menahan deritanya secara sembunyi-sembunyi.
Nasihat ini bukan untuk mengajarimu menjadi wanita kurangajar, melainkan sekadar untuk mengingatkan bahwa engkau tak selemah yang engkau duga. Tahukah engkau kenapa Haryanti sampai bisa diseterika dan digebuki bahkan oleh anak SD? Salah satunya ialah karena ia tak pernah memberikan perlawanan apa-apa. Ia selama ini lebih percaya bahwa dirinya adalah abdi yang bahkan kepalanya boleh begitu saja digunduli. (cn01)
(PrieGS/)
Jumat, November 28, 2008
Disayat, Digunduli, Diseterika
terkait:girl power,ibu,ibu-ibu,pembantu,pengabdian,perempuan,wanita
| Tanggapan: |
Minggu, November 23, 2008
Guru Memukul, Murid Meludah
Ada murid datang telambat, ada guru memberi sanksi, si murid membangkang, sang guru berang, murid lalu meludah dan guru memukul. Kira-kira semacam itulah adegan yang berlangsung di sebuah sekolah di Purbalingga, Jawa Tengah. Adegan itu berakhir dengan demo ratusan siswa untuk si guru, permintaan untuk mundur dan ucapan maaf.
Detail adegannya sendiri masih sulit dilacak karena: "Saya tidak memukul cuma meletakkan kepalan di tubuh dan menekannya," kata si guru. "Anak saya meludah ke samping, ke tanah tidak mengenai wajah dan tubuh guru," kata orang tua murid. Tapi apapun faktanya, memukul atau cuma menekan, kepalan tangan guru itu tetaplah ada. Apapun dalihnya, meludah ke wajah atau ke tanah, ludah itu telah pula melompat dari tempatnya.
Guru dengan kepalan tangan, dengan modus kekerasan, memang cara yang tak lagi cocok untuk zaman. Tapi murid meludah, ke wajah atau ke tanah, adalah pembangkangan yang mencengangkan. Karena baik wajah atau tanah, ludah itu tetaplah sampai ke hati, ke harga diri. Bukan cuma hati seorang guru di Purbalingga, tapi hati dunia pendidikan Indonesia.
Tulisan ini tak ingin masuk secara rinci dan memberi justifikasi pada kasus pemukulan dan peludahan yang sangat kasuistik itu. Tapi mari membayangkan tentang suatu keadaan ketika guru tak lagi memiliki kedaulatan. Di sekolah ia cuma akan menjadi orang upahan yang bekerja sebatas menyampaikan bahan pelajaran. Ia bukan lagi pengajar tapi cuma sebatas tukang. Predikat pengajar itu sungguh beban berat karena ia tak boleh lagi mengajar anak-anak yang kurangajar.
Kurangajar ini sungguh keadaan yang tidak sederhana karena ia tak cuma menggambarkan kekurangan ajar di otak tapi juga di hati. Padahal sejak guru cuma sebagai orang upahan, ia tak bertanggungjawab lagi pada mutu hati murid-muridnya. Sebabnya jelas, kualitas hati yang akan tercermin dalam mutu akhlak dan kelakuan, sama sekali tidak terdapat dalam buku pelajaran.
Maka jika guru masih dibebani tanggungjawab untuk memperbaiki otak dan hati, semua pihak harus bersepakat bahwa guru harus dikembalikan pada kelasnya sebagai pengajar yang berhak mengajar anak-anak kekurangan ajar. Semua pihak juga harus bersepakat bahwa yang dimaksud pelajaran bukan cuma soal buku, tapi juga soal kelakukan.
Jika kesepakatan ini disetujui, proses belajar-mengajar baru bisa dimulai. Proses itu harus didahului oleh penyerahan kedaulatan dari rumah ke sekolah, dari orang tua ke guru anak-anaknya. Kedaulatan itulah yang membuat guru percaya bahwa murid-murid itu bulan cuma seorang siswa tapi juga anak-anaknya. Jika ia pintar guru ikut bahagia, jika salah guru boleh menegurnya, jika nakal guru boleh menghukumnya.
Kedaulatan ini harus tidak saling diciderai. Bentuk hukuman guru terhadap murid harus dipandang sebagai hukuman orang tua terhadap anaknya, bukan hukuman dari orang upahan kepada orang yang mengupahnya. Meski murid bersekolah dengan membayar, bayaran itu bukan tanda pembelian karena sekolah juga bukan warung tempat para guru berjualan.
Tapi kasus ludah di Purbalingga itu makin mengindikasikan bahwa kedaulatan guru terancam runtuh. Sekolah bukan lagi sebuah rumah tempat murid menganggap guru-guru mereka sebagai orang tua. Sejak sekolah mulai menjadi industri, sejak pendidikan mulai menjadi bahan komoditi, hubungan guru-murid telah berubah menjadi semacam jual beli. Maka betapapun nakalnya si murid, ia tetap harus dipandang sebagai pihak yang punya duit, sebagai majikan. Industri telah mengubah perilaku sekolah-sekolah kita dan memakan guru sebagai korban pertamanya. Maka jika guru kedapatan menjewer kuping murid, kepadanya sudah dituduhkan melakukan tindak aniaya. Ya, hubungan rumah dan sekolah telah berkembang ke arah untuk tidak saling percaya. (03)
(PrieGS/)
Detail adegannya sendiri masih sulit dilacak karena: "Saya tidak memukul cuma meletakkan kepalan di tubuh dan menekannya," kata si guru. "Anak saya meludah ke samping, ke tanah tidak mengenai wajah dan tubuh guru," kata orang tua murid. Tapi apapun faktanya, memukul atau cuma menekan, kepalan tangan guru itu tetaplah ada. Apapun dalihnya, meludah ke wajah atau ke tanah, ludah itu telah pula melompat dari tempatnya.
Guru dengan kepalan tangan, dengan modus kekerasan, memang cara yang tak lagi cocok untuk zaman. Tapi murid meludah, ke wajah atau ke tanah, adalah pembangkangan yang mencengangkan. Karena baik wajah atau tanah, ludah itu tetaplah sampai ke hati, ke harga diri. Bukan cuma hati seorang guru di Purbalingga, tapi hati dunia pendidikan Indonesia.
Tulisan ini tak ingin masuk secara rinci dan memberi justifikasi pada kasus pemukulan dan peludahan yang sangat kasuistik itu. Tapi mari membayangkan tentang suatu keadaan ketika guru tak lagi memiliki kedaulatan. Di sekolah ia cuma akan menjadi orang upahan yang bekerja sebatas menyampaikan bahan pelajaran. Ia bukan lagi pengajar tapi cuma sebatas tukang. Predikat pengajar itu sungguh beban berat karena ia tak boleh lagi mengajar anak-anak yang kurangajar.
Kurangajar ini sungguh keadaan yang tidak sederhana karena ia tak cuma menggambarkan kekurangan ajar di otak tapi juga di hati. Padahal sejak guru cuma sebagai orang upahan, ia tak bertanggungjawab lagi pada mutu hati murid-muridnya. Sebabnya jelas, kualitas hati yang akan tercermin dalam mutu akhlak dan kelakuan, sama sekali tidak terdapat dalam buku pelajaran.
Maka jika guru masih dibebani tanggungjawab untuk memperbaiki otak dan hati, semua pihak harus bersepakat bahwa guru harus dikembalikan pada kelasnya sebagai pengajar yang berhak mengajar anak-anak kekurangan ajar. Semua pihak juga harus bersepakat bahwa yang dimaksud pelajaran bukan cuma soal buku, tapi juga soal kelakukan.
Jika kesepakatan ini disetujui, proses belajar-mengajar baru bisa dimulai. Proses itu harus didahului oleh penyerahan kedaulatan dari rumah ke sekolah, dari orang tua ke guru anak-anaknya. Kedaulatan itulah yang membuat guru percaya bahwa murid-murid itu bulan cuma seorang siswa tapi juga anak-anaknya. Jika ia pintar guru ikut bahagia, jika salah guru boleh menegurnya, jika nakal guru boleh menghukumnya.
Kedaulatan ini harus tidak saling diciderai. Bentuk hukuman guru terhadap murid harus dipandang sebagai hukuman orang tua terhadap anaknya, bukan hukuman dari orang upahan kepada orang yang mengupahnya. Meski murid bersekolah dengan membayar, bayaran itu bukan tanda pembelian karena sekolah juga bukan warung tempat para guru berjualan.
Tapi kasus ludah di Purbalingga itu makin mengindikasikan bahwa kedaulatan guru terancam runtuh. Sekolah bukan lagi sebuah rumah tempat murid menganggap guru-guru mereka sebagai orang tua. Sejak sekolah mulai menjadi industri, sejak pendidikan mulai menjadi bahan komoditi, hubungan guru-murid telah berubah menjadi semacam jual beli. Maka betapapun nakalnya si murid, ia tetap harus dipandang sebagai pihak yang punya duit, sebagai majikan. Industri telah mengubah perilaku sekolah-sekolah kita dan memakan guru sebagai korban pertamanya. Maka jika guru kedapatan menjewer kuping murid, kepadanya sudah dituduhkan melakukan tindak aniaya. Ya, hubungan rumah dan sekolah telah berkembang ke arah untuk tidak saling percaya. (03)
(PrieGS/)
terkait:guru,murid,pendidikan
| Tanggapan: |
Senin, November 17, 2008
Kenangan yang Tak Ingin Saya Kenang
Ada di dalam hidup ini kejadian yang tak ingin saya kenang karena seluruhnya cuma berisi soal yang memalukan. Saya amat gemar menulis surat cinta di zaman sekolah. Dan ketika surat-surat itu saya baca ulang bertahun kemudian, hasilnya adalah aib berkepanjangan. Membayangkan surat-surat ini dibaca orang bisa membuat saya mati berdiri. Akhirnya gunungan surat itu saya sobek-sobek menjadi serpihan, saya bakar agar lenyap jadi asap. Sekarang baru saya sadari, betapa tidak perlu tindakan itu. Betapa ingin saya berani memungut kembali satu-persatu kenangan itu, betapapun ia bikin malu. Karena hidup yang sekarang, pasti tidak disusun cuma berdasarkan kebenaran dan kemuliaan. Di antaranya, ia pasti disusun juga dengan kebodohan, aib dan kekeliruan.Maka kedudukan aib dan kesalahan itu, sesungguhnya setara dengan kebenaran dan keberhasilan. Ia sama-sama menjadi batu penyangga hidup saya. Jadi ia tak perlu diruntuhkan. Maka di hari-hari ini, saya kembali asyik mengenang aib itu satu persatu, walau untuk itu saya harus memompa seluruh keberanian. Saya di hari ini, adalah saya yang bisa mengeluhkan gaya anak-anak sekolah yang naik motor setara orang kesurupan. Tapi di masa lalu, gaya itu pula yang saya peragakan. Malu rasanya naik motor pelan. Jika malam, lampu harus dimatikan biar tambah seram. Semakin gelap, semakin kencang, semakin bikin kaget orang, semakin girang perasaan. Jika menikung harus dengan kemiringan penuh. Malah jika belum nyebur got, rasanya belum seorang jagoan.
Di satu sisi, hidup saya sebenarnya sudah mulai berprestasi. Sejak SMA saya telah mulai bisa membiayai diri lewat honor kartun yang mulai ramai dimuat di media massa. Begitu menjadi mahasiswa pemula, saya sudah bisa membeli motor meskipun manula. Bangga sekali rasanya punya motor pertama, walau karena umurnya, ia mulai tak tahan cuaca, Jika hujan tiba, ngadat mesinnya. Tetapi prestasi di satu sisi ini, cuma kekeliruan di sisi yang lain. Sejak punya motor saya mulai dijauhi teman-teman karena dianggap lebih sibuk mengurus motor katimbang mengurus mereka. ''Ia tak pernah lagi mudah dicari di rumah,'' kata teman yang kecewa. Mereka benar. Saya memang jadi jarang di rumah, karena harus ke bengkel melulu!
Tetapi apapun alasannya, prestasi itu, jika belum matang waktu, memang cuma seperti taplak meja. Jika ia ditarik kemari, ia akan bolong di sana. Motor tua itu saya jual untuk ganti yang baru. Lebih keren dan kencang lajunya. Ini prestasi lagi. Tetapi prestasi baru selalu diikuti oleh kesalahan yang baru, itulah anugerah yang saya sebut sebagai belum matang waktu itu. Bakat ngebut saya mendapat dukungan penuh dari motor baru ini termasuk munculnya sikap lupa diri sebagai bakat baru. Meksipun belum punya SIM, tetapi ke manapun, saya berani pergi. Maka ketika suatu kali saya terjaring operasi, saya panik sekali sehingga memutuskan tindakan yang tak habis saya mengerti hingga di hari ini: yakni melarikan diri.
Tapi sekencang-kencang saya berlari, saya pasti bukan penjahat tangguh melainkan sekadar mahasiswa ingusan yang kurang tahu menakar diri. Maka cuma dalam satu sentakan gas, polisi yang mengejar itu telah berhasil mencengkeram krah saya. Tak ada pilihan lain kecuali berhenti. Polisi ini marah sekali. Tak ada lagi negosiasi apapun. Telak sudah dosa-dosa saya. Tanpa SIM, kabur pula. Motor itu ditahan dan saya harus pulang jalan kaki.
Apa perasaan saya waktu itu? Terhina dan merasa sangat terzalimi. Perasaan inilah yang ingin saya kenang, karena betapa berbahaya sebetulnya kerancuan berpikir ini. Padahal lihatlah daftar kesalahan saya itu: ngebut adalah kesalahan pertama, tanpa SIM adalah kesalahan kedua, kabur adalah kesalahan ketiga. Jadi sempurna. Beruntung cuma motor saya yang ditahan, bukan saya yang harus menghuni tahanan. Tetapi orang yang lagi beruntung inilah justru orang yang merasa dizalimi lalu menggunakan seluruh koneksi untuk membela diri. Kenangan buruk ini adalah pelajaran yang amat saya ingat betapa persoalan terbesar saya sebagai manusia yang paling pertama adalah kemampuan melihat kesalahan diri sendiri!
(Prie GS/CN05)
Rabu, November 12, 2008
Sukses Emosional Saya
Saya memiliki teman yang cuma dengan melihatnya saja telah membuat saya menjadi lelah. Teman ini jika hendak berangkat pergi paling terlihat terburu-buru tetapi jika telah tiba di tujuan ingin buru-buru kembali. Padahal tidak ada sesuatu yang genting. Tidak pula ia ditunggu seseorang, tidak pula dia dikejar waktu. Yang selama ini mengejarnya tak lebih dari perasaanya sendiri. Tetapi begitulah sebetulnya perasaan kita pada umumnya, tak terkecuali saya. Selalu ada watak buru-buru meskipun tidak ada yang memburu.
Perasaan seperti ini, jika tidak dikendalikan akan sangat melelahkan. Dan saya kenyang menderita kelelahan oleh sebab yang entah itu. Akhirnya saya segera menyapa kecerdasan emosional saya untuk datang membantu. Ini sebuah kecerdasan yang tidak istimewa karena setiap dari kita memilikinya. Kecerdasan ini sanggup meringankan seluruh beban persoalan karena setiap beban ternyata bisa ditafsir ulang.
Hari itu, misalnya, saya tidak menyangka jika kepergian kami ke sebuah keramaian cuma akan berakhir di kekacuan. Sopir kami, seorang yang telah kami anggap keluarga sendiri, kami biarkan mencari tempat parkir semaunya, karena dengan handphone, kami bisa berkoordinasi kapan saja. Sikap gampangan ini ternyata berbahaya karena kami lupa menghitung, bahwa handpohne yang dibawa Pak Sopir, ternyata cuma menyisakan sedikit baterai saja. Maka tepat ketika kami berpisah itulah, baterai itu ada di titik akhirnya. Dan seterusnya, hubungan kami berdua gelap total. Kami seperti pesawat terbang tanpa radar. Sesungguhnya dekat tapi tak saling melihat.
Maka ketika kami sudah rampung beracara, keadaan menjadi tidak bermutu. Kami menunggu seseorang yang tidak sadar ditunggu. Jika dibiarkan sama-sama menunggu, sampai kiamat tiba pun semua akan tetap berada di tempat itu. Meskipun kami masih berada di kota kami sindiri, tempat itu terlalu luas untuk kami telusuri. Ada ribuan mobil berserakan. Baru melihatnya saja kami sudah pening kepala, apalagi jika harus menelusurinya satu persatu. Tetapi jika sama sekali tidak berusaha, keadaan pasti akan tambah buruk belaka. Jadilah kami semua bergiliran mencari di mana gerangan Pak Sopir kami. Semua telah mendapat giliran, tetapi gaya parkir sopir kami seperti sengaja memilih di dasar bumi.
Selanjutnya kami cuma bisa lelah dan gemetaran karena terlalu banyak mencari dan berjalan. Setelah lewat sekian jam harus menjalani ketidak pastian, jebol juga kesabaran kami. Muka istri sudah mengekerut sedemikian rupa. Anak-anak sudah pucat dan kehilangan kata-kata dan saya sendiri hampir meledak dalam kemarahan demi melihat waktu terbuang percuma. Tetapi sebelum semuanya berjalan lebih buruk saya menoleh pada kecerdasan emosional saya itu. Itulah kecerdasan yang amat pintar memanipulasi keadaan dengan sudut pandang baru. Inilah uji cobanya.
Saya mulai dari mengumpulkan anak-anak saya yang telah loyo itu. Pertama saya meminta mereka membayangkan jika seandainya kejadian ini tidak berlangsung di kota sendiri, melainkan di luar negeri, tempat yang bukan cuma jauh tetapi juga asing. Permintaan ini langsung menumbuhkan sorot mata yang berbeda dari mereka. Meskipun mereka telah lelah dan marah, tetapi mereka toh tidak terlalu jauh dari rumah. Jika mau, soal ini selesai cukup dengan cara naik taksi. Saya melihat energi mereka muncul kembali dan itulah saat untuk meneruskan permainan ini. Saya meminta mereka membayangkan soal lanjutannya, yakni seandainya mereka bukan cuma jauh tapi juga sendiri, tanpa teman, tanpa orang tua dan harus menghadapi kesulitannya seorang diri. Saya meminta mereka menyusun skenario, sekaligus memprakteknnya.
Hasilnya ajaib, anak-anak saya itu segera berembuk, menghubungi petugas keamanan, menyisir lokasi dan melakukan pencarian sambil membayangkan sebagai detektif yang harus memecahkan misteri. Tak sia-sia, sopir kami ketemu juga dalam keadaan yang sama parahnya: nafasnya memburu, sibuk berputar kesana-kemari dan akhirnya bertabrakan di sebuah lokasi.
Akhirnya kami pulang dengan perasaan gembira. Anak-anak bangga dengan keberhasilannya sebagai detektif, orang tua ini gembira demi melihat anak-anaknya lulus ujian dan sopir kami juga gembira karena kembali menemukan majikan!
(Prie GS/CN09)
Sabtu, November 08, 2008
The Pianist in The Shopping Mall
SESUATU yang sampai kepadamu, bertugas membawa pesan untukmu. Begitu juga dengan buku Paulo Coelho ini. Seorang teman memberikan buku ini kepadaku, dalam edisi bahasa Inggris, Like The Flowing River, karena menurutnya: ''Mirip gaya tulisanmu.''
Wah, aku dimirip-miripkan Paulo Coelho penulis The Alchemist yang dahsyat itu? Inilah penulis penerima Chrstal Award itu, buku-bukunya telah diterjemahkan dalam 62 bahasa dan The Alchemist telah terjual tak kurang dari 75 juta kopi di seluruh dunia. Dan penulis inilah yang dikatakan mirip dengan gayaku? Hehehe… biar saja. Siapa tahu benar.
Karena setelah saya teliti, oo bisa dimengerti. Buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan pendeknya, semacam refleksi. Sedang aku juga punya kolom di tabloid tempatku bekerja, yang kemudian disiarkan di sebuah radio, namanya juga refleksi. Eh siapa tahu, Paulo Coelho diam-diam adalah pembaca tabloidku dan juga pendengar siaran radioku. Jadi kami memang saling mempengaruhi.
Walau spekulasi yang keterlaluan ini harus segera diakhiri. Karena buku ini memang hendak datang sebagai guru, seperti Coelho yang memang layak jadi guruku. Salah satu bagiannya, berisi tulisan yang judulnya aku kutip sebagai judul tulisan ini The Pianist in The Shopping Mall. Ia tentang pianis dari Georgia, negara yang hingga kolom ini aku tulis masih tercabik-cabik konflik itu.
Pianis yang paripurna teknisnya, memainkan musik-musik tinggi setara orang bergembira saja. Tetapi karena nasib, ia tidak tampil di gedung opera, melainkan sekadar main di mall, dengan tanpa seorang pun tergerak menontonnya. Tetapi pianis ini, meskipun tanpa penonton, memainkan pianonya dengan jiwa penuh-seluruh.
Tak seorangpun? Ternyata tidak. Karena setidaknya ada dua orang yang menontonnya, yakni ya Paulo Coelho sendiri bersama sahabatnya, yang kebetulan seorang pemain biola terkemua di dunia. Atau jika pun dua orang ini terpaksa tak ada, pianis ini akan tetap menggila, karena ia bermain cukup dengan jiwanya. Dan jika permainan itu telah di jiwa, Tuhan sendiri yang akan menjadi penontonnya. Begitulah kira-kira petuah bagian ini. Bukan cuma petuah itu benar yang ingin aku garis bawahi, melainkan karena aku tak menyangka jika suatu hari, nasibku, akan serupa dengan pianis itu.
Hari itu aku diundang bicara di sebuah mall, di tengah lalu-lalang orang belanja, dan tak seorang pun memperhatikanku. Bahkan ketika MC memintaku naik ke panggung yang bertepuk tangan untukku adalah aku sendiri. Mestinya aku benar-benar butuh seorang untuk bisa kutatap, kuajak bicara tepat di depanku.
Tetapi malang, kursi-kursi yang mestintya ditata di depan pangungku pun gagal di hadirkan karena gudangnya terkunci. Bahkan kursi saja gagal dihadirkan apalagi manusia. Maka satu-satunya mata yang bisa aku pelototi adalah moderatorku sendiri. Ke manapun matanya lari, aku ikuti. Tak kubiarkan dia untuk melihat apapun kecuali mataku. Aku khawatir pandangan matanya akan tertumpuk pada kekosongan, padahal setidaknya masih ada mataku di depan matanya.
Biarlah kami ramai bicara bedua tanpa peduli apakah orang-orang itu mendengar kami atau tidak. Karena setidaknya masih ada seorang moderator di depanku. Jika dia kehabisan pertanyaan pun, akulah yang ganti akan bertanya kepadanya. Jika ia mulai kelihatan lesu, akulah yang akan menggembirakan hatinya. Aku akan ganti menjadi penanya bagi penanyaku itu.
Atau kalau terpaksa, jika moderatorku ini benar-benar menyerah dan memutuskan pergi, misalnya, aku sudah menyiapkan tekatku. Aku akan bicara dengan kursi bekas tempat duduknya. Aku akan bermonolog dengan benda-benda yang ada. Aku sudah bertekat untuk menjadi sibuk dan asyik dengan diriku sendiri, seperti pianis itu bersibuk dengan permainannya. Dan ketika diskusi ini bubar, aku baru tersadar, bahwa setidaknya ada beberapa orang yang sejak awal berdiri di sana untuk menontonku. Tak peduli berapapun jumlahnya, ternyata selalu ada yang mendengar suaraku.
(Prie GS/CN05)
Kamis, November 06, 2008
Parkir Depan Rumah
SETIAP Jumat, saya memiliki ritual khusus. Bukan cuma berupa salat Jumat berjamaah ke masjid depan rumah, tetapi juga menyiapkan tempat parkir khusus di depan rumah. Untuk siapa? Untuk siapa saja sebetulnya, bagi siapa yang kebih dulu mengambilnya. Siapa yang lebih dulu, itulah rezekimu, begitulah prinsipnya. Tetapi anehnya, sudah sekian lama, saya merasa tempat persis di depan rumah itu, seperti cuma untuk mobil yang itu saja. Mestinya ini tidak adil. Tetapi begitulah kenyataannya.
Anehnya tidak cuma saya. Kami sekeluarga, istri dan anak-anak juga memiliki perasaan yang sama. Jika hari Jumat dan jam salat Jumat tiba, di tempat itu, seperti hanya boleh ditempati mobil itu. Jika ia datang tepat waktu, kami lega, karena memang begitulah harapan kami semua. Tetapi jika ada orang lain lebih dulu menempatinya, rasanya kami jadi tidak rela. Sepanjang mungkin, kami akan bernegosiasi, agar pengambil tempat itu mau bergeser agak kemari, kalau perlu menutup gerbang rumah kami juga tak mengapa, sepanjang mobil yang biasa itu nanti akan ada di sana.
Jika kebetulan kami luput mengawasi dan ada jamaah lain yang menempati, karena betapapun itu jalan umum, seperti ada kecemasan di hati kami. Mobil yang biasa itu nanti pasti akan kecewa. Dan ia bisa berputar-putar mencari tempat kosong, tempat yang tidak biasa, dan ini pasti membuat gundah hatinya. Jika begitu keadaanya, kami lalu cuma biasa menatap mobil itu tidak cuma dengan rasa bersalah, tetapi juga rasa sedih. Seolah-olah kami lalai pada kewajiban dan alpa menjaga kebaikan.
Tetapi omong-omong, siapa sebetulnya pemilik mobil itu hingga begitu besar kedudukannya di hati kami. Ia bukan polisi, bukan tentara, bukan pejabat tinggi, dan bukan pula saudara kami. Ia tak lebih dari orang tua biasa, salah satu dari jamaah masjid kami. Ia tetangga, tetapi jauh dan kami juga tidak terlalu dekat secara pribadi. Tetapi yang sedang berlangsung ini memang bukan soal priabdi, melainkan soal bahwa tokoh ini adalah sesepuh di wilayah kami. Ia menjadi sesepuh bukan karena usianya yang sudah sepuh, tetapi lebih karena kebaikannya yang terkenal.
Setiap anak-anak yang bertemu menyapanya seolah ia adalah kakek mereka. Kepada mereka ia sering membagi-bagikan uang ala kadarnya, tetapi pasti bukan besarnya uang itu gara-garanya, melainkan lebih pada bahwa anak-anak itu merasa istimewa kalau sudah mendapat uang darinya. Di jalan saya pernah menaruh iba pada seoang seorang tetangga yang berat bawaannya. Saya yang saat itu bersepeda motor tergerak membantu.
Tapi karena begitu ribet bawaan orang ini sehingga penolong dan yang ditolong malah sama-sama bingungnya. Kami sibuk mencari cara seperti apakah agar bawaan itu lengkap dengan pemiliknya bisa terangkut secara bersama-sama. Lama kami mengatur posisi tapi hingga sejauh itu tak ada posisi yang memadai. Barang-barang itu menyita hampir seluruh jok yang ada, keadaannya menjadi serba sulit. Jika kami mendahulukan barang, maka manusianya tak terangkut dan itu tidak mungkin. Jika kami mendahulukan manusia, sang barang harus ditinggalkan dan itu juga mustahil.
Ketika situasi nyaris deadlock, melintaslah mobil Pak Tua itu dan dengan kebaikan hatinya seluruh persoalan ini selesai. Dialah yang mengambil alih seluruh kerepotan ini dengans segera. Ia pula yang mengantar tetangga itu hingga ke rumahnya yang terletak jauh melewati rumahnya sendiri. Pengambil alihan beban itu mengesankan saya untuk waktu yang lama. Gambaran kebaikan orang tua ini, tidak duma tergambar lewat kedekatanya dengan anak-anak, tetapi juga langsung bersentuhan dengan hidup saya sendiri.
Setiap saat ia parkir di depan rumah itu, ia pasti melihat bahwa ada tanaman sirih di pagar rumah. Maka suatu kali, sambil parkir ia membuka pintu sambil mengirim satu lagi jenis sirih langka untuk pelangkap sirih di rumah kami. Ketika suatu saat, kami sekeluarga masuk rumah makan langganan, orang tua ini sudah ada di sana bersama keluarganya pula. Tanpa diduga, kami ternyata penggemar rumah makan yang sama. Ia datang lebih dulu karenanya juga pulang lebih dulu. Tetapi baru kami tahu kemudian bahwa sambil pulang ia telah membayar seluruh tagihan kami.
Sekali lagi, ini bukan persoalan pribadi mentang-mentang sudah ditrakir makan dan diberi sirih langka. Ini soal seorang tua yang dicintai warga karena kebaikannya yang kebaikan itu kebetulan pernah singgah dalam hidup saya. Maka inilah hasilnya, barang siapa memiliki energi cinta, bahkan tempat untuk pakir mobilnya pun ada yang selalu menjaga.
(Prie GS/CN05)
Rabu, November 05, 2008
Ketika Aku Sedang Tidak Setuju
Di kotaku makin sering berdiri aneka mal. Di antaranya ada yang berlokasi di sebuah tempat yang aku tidak setuju. Tetapi karena mal itu tetap berdiri di situ tanpa peduli aku menolak atau setuju maka aku pun menyalurkan kemarahan dengan caraku sendiri.
Untuk mendemo Pemerintah aku tak punya massa. Untuk menginvestigasi adakah pemberian izin itu adalah penyimpangan, aku tak cukup keahlian. Akhirnya jalan terakhir aku tempuh, aku berencama menolak mal ini cukup di dalam hati. Jika kemarahan ini kulebarkan ia terbatas pada daerah kekuasaanku: yakni keluargaku. Aku melarang anak dan istriku belanja di tempat itu.
Seperti biasa, jika pemimpin keluarga sedang punya kuasa, yang lain menuruti. Aku tak perlu meminta persetujuan dan aku juga tak mau tahu apakah mereka rela atau terpaksa. Ternyata ada di dalam diriku ini naluri totaliter. Jika ada pangkat di pundakku dan hidup di zaman lalu, aku pasti juga berbakat menjadi seorang fasis: pihak yang memaksakan kehendak bukan karena mutunya melainkan karena pangkat dan bedilnya.
Maka berjalanlah larangan itu. Ketika mal ini dibuka dan pengunjung begitu meluap aku bukan tidak mengerti istriku yang menggoda. Ia menyebut-nyebut jumlah barang yang begitu banyak ragamnya dan begitu murah harganya dan cuma di mal itu berada. Rampung mengintimidasi dengan gayanya sendiri, ia juga meminjam dukungan dari anak-anaknya. Dan entah bagaimana caranya, anak-anak ini juga mulai termakan hasutan. Tetapi strategi ibu-anak ini keliru. Karena semakin mereka menyebut nama mal kesukaannya itu hanya makin menerbitkan kemarahanku.
"Inilah susahnya masyarakat yang lugu. Terhadap barang yang keliru pun begitu mudah tertipu," kataku dengan marah. Dan selanjutnya, di depan keluargaku aku bekrotbah. Bahwa langkahku ini adalah strategi kebudayaan yang serius. Strategi yang memakai kekuatan rakyat tertinggi derajatnya yakni boikot. Rakyat memang tidak punya hak mengubah undang-undang, tidak bisa menolak keputusan yang keliru. Tetapi rakyat masih memiliki kekuatan untuk menolak. Itulah boikot namanya. Televisi akan mati jika tidak ditonton, barang akan tidak laku jika tidak dibeli, koran akan bangkrut jika tidak dibaca. Boikot adalah perlawanan yang tak tertandingi jika ia dipercayai.
Tetapi sejak mal ini dibuka, rasaku sudah mulai curiga. Karena dari seluruh penduduk kota, rasanya cuma aku sendiri yang menolak datang ke tempat ini. Tadinya aku marah sekali. Apakah orang-orang itu tidak tahu betapa kelirunya lokasi mal ini. Ia tidak cuma akan memperkeruh tata-kota, melainkan juga akan membunuh para pedagang kecil. Mal sebesar itu hanya layak ada di pinggiran dan tidak dijejalkan di tengah kota yang makin mengonsentrasi kemacetan. Apakah orang-orang itu tidak merasa apa yang aku rasakan? Jeritku dalam hati.
Tetapi karena aku sendirian, lama-lama aku bingung sendiri. Adakah semua ini karena orang-orang itu yang tak tidak mengerti atau karena gaya berpikirku yang sulit diikuti. Lama sekali teka-teki ini gagal aku pecahkan hingga soal-soal yang kusangka idelogis ini ternyata selesai oleh jawaban yang remeh saja. Yakni soal DVD yang lama aku rindukan tetapi tidak pernah berhasil aku miliki. Di internet ia kujelajahi, setiap aku pergi ia kucari, di mana ada penjual aku datangi, seluruh perangkat pergaulan aku kerahkan, tetapi hasilnya sia-sia. Sekian lama aku mencari dan putus asa itulah hasil akhirnya, jika tidak seorang kawan lama tiba-tiba memberi barang tercinta ini begitu saja di suatu kali.
Mataku terbelalak saking gembiranya. Aku anggap teman ini malaikat penemu barang-barang langka. "Langka gimana orang di mal itu banyak sekali, murah lagi!" katanya ringan. Aku terdiam. Kegembiraan yang meluap-luap itu segera kusembunyikan. Di rumah, keinginanku untuk segera menonton DVD ini tak tertahankan. Tetapi sambil menonton terbayang wajah mal yang aku benci itu dengan perasan yang belum rampung kuterjemahkan. Tetapi inilah yang agaknya yang tak bisa kusembunyikan: bahwa membenci pun butuh berhati-hati karena kebaikan ternyata ada di mana-mana bahkan termasuk di dalam diri pihak yang kubenci.
(Prie GS/)
Senin, November 03, 2008
Hujan di Balik Jendela
Diam-diam saya sering mengamati perilaku putri saya saat hujan tiba. Jika kami sedang dalam perjalanan, sambil bersama misalnya, itulah saat ia langsung terdiam, memandangi jendela, berlama-lama, tegak lurus di kejauhan. Saya pernah mencoba menggoda dan ia marah luar biasa. Sejak itu saya percaya pada tebakan saya: anak ini pasti sedang menikmati situasinya. Mudah saja saya menebak karena saya sendiri mengalami perasaan yang sama. Bedanya anak ini sekarang menikmati dari jendela mobil pribadi, sementara bapaknya dulu cukup dari jendela kereta murahan dan bus-bus omprengan, yang semua terasa sebagai kemewahan.Seperti anak ini, dari balik jendela, saya juga terbiasa memandang jauh. Seluruh tulisan yang bekelabat saya baca dalam hati, seluruh pemandangan, sawah gunung, awan-awan, titik air, pepohoanan, saya rekam, saya simpan dalam ingatan dan saya semayamkan dalam hati, hingga hari ini. Seluruh film yang saya tonton, seluruh musik yang saya dengar, seluruh konser yang saya lihat, sulit menandingi rekaman keindahan di dalam hati saya ini. Jika kenangan itu kembali saya munculkan, tubuh saya seperti mengambang di lautan awan dan jiwa saya mekar ke horizon terjauh, ke kaki langit nun di sana yang saya tak paham batas-batasnya. Saya seperti mengikuti jagat saya yang secara teori memang melar terus saban hari menuju ke jarak terperi.
Apalagi saat itu, sejak kelas dua SD, saya mulai jatuh cinta dengan gadis tercantik di kampung saya. Ia satu-satunya gadis yang kecantikannya telah menggemparkan seluruh desa, yang popularitasnya telah melebar ke desa-desa tetangga. Siang malam saya mabuk dibuatnya. Dan di setiap perjalanan itu, apalagi ketika hujan tiba, wajahnya berpendaran di seluruh titik air. Ke manapun mata saya memandang, jatuhnya ke wajahnya juga. Inilah periode jatuh cinta paling luar biasa dalam hidup karena seluruhnya cuma birisi keindahan. Inlah periode platonik itu, yakni tahapan cinta ketika ia belum berurusan dengan pertengkaran, dengan bayar SPP anak, mencuci ompol dan harus tegang menghadapi kenaikan harga-harga.
Itulah periode ketika imajinasi manusia melayang dengan kemerdekaan penuh. Dan itulah tradisi yang mengubah sejarah dan peradaban manusia. Hampir tidak ada pengetahuan yang tidak dilahirkan dari imajinasi. Dari sains hingga ketuhanan. Ketika melihat apel Jatuh Newton menemukan gravitasi, saat Ibrahim melihat bulan dan matahari tenggelam ia mulai menemukan Tuhan yang lebih tinggi. Karena itulah saya mulai mengerti pernyataan Einstein bahwa imajinasi jauh lebih penting ketimbang ilmu pengetahuan.
Maka saat melihat anak saya sedang menatap hujan itu, saya ingin memberi ruang yang terbuka untuk kemerdekaannya. Biarlah ia lakukan penjelajahan yang keindahannya hanya dia sendiri yang tahu. Tabungan keindahan itu nyaris tak terhingga, dan cuma imajinasi yang sanggup mengakomodasi. Kata-kata terlalu muda untuk menjelaskan seluruh kerumitannya.
Melihat putri saya terdiam, saya juga ikut terdiam, tetapi benak kami pasti penuh dan sedang bersama-sama dalam penjelajahan. Satu titik air di benaknya, pasti akan berpendaran ke seluruh jiwanya. Satu kelebat pohon, akan memantulkan ribuan bayangan. Segumpal awan pasti akan mengembang menjadi kasur busa seluas jagat raya. Dan itulah ekstase artisitik itu. Mabuk keindahan tanpa harus didongkrak oleh pil-pil perangsang. Saya pernah berbincang dengan mantan penembak jitu. Jika ia sedang ingin membidik kepala lawan, ia akan menenggak pil tertentu. Makin penuh hati seseorang dengan dendam dan kebencian, makin agresif pil ini mengambil peran. "Dan kepala lawan, akan tampak sebesar bukit," katanya.
Tetapi pil-pil semacam ini sungguh tidak diperlukan jika tujuannya cuma untuk mendatangkan kegembiraan. Keindahan dan kegembiraan adalah sesuatu yang sederhana. Untuk datang, ia cukup diberi ruang dan dimerdekakan. Bantulah siapa saja mulai dari anak-anak Anda, anggota keluarga tetangga dan siapa saja yang membutuhkan untuk memiliki ruang-ruang itu. Maka akan banyak sekali jiwa di sekitar Anda yang akan menjadi sehat dan gembira.
(Prie GS/)
| Tanggapan: |
Mencintai Pembajak
Begitu patah hati penyanyi ini kepada pembajakan sehinga ia memutuskan tidak membuat album lagi. Ini sungguh patah hati yang terlambat. Karena sejak awal ia harus paham betapa negerinya ini penuh pembajak. Maka semestinya, sudah sejak awal pula ia tidak perlu memutuskan menjadi penyanyi.
Kenapa ada jenis patah hati, ketakutan, kejengkelan dan kemarahan yang terlambat? Karena kemarahan pun punya syarat. Sebelum syarat itu terpenuhi, perasaan marah itu juga belum menampakkan diri. Di antara syarat itu, salah satunya ialah popularitas.
Popularitas membuat manusia merasa berhak punya harga. Harga inipun dari jenis yang ia tetapkan sendiri. Karenanya, ketika yang ia dapatkan tidak sepadan dengan ia bayangkan, ia merasa menjadi korban keadaan. Banyak soal kemudian dia persalahkan, salah satunya adalah pembajakan. Padahal sebelum seseorang itu populer, ia mentepakan syarat yang rendah saja kepada dirinya sendiri. Jika ia menyanyi, lagunya akan ia perdengarkan kepada siapa saja secara cuma-cuma. Rekamannya sekadar ia berikan gratis kepada siapa yang mau menerima.
Sebelum populer banyak orang rela mengorbankan diri, tetapi setelahnya, mudah sekali ia merasa menjadi korban nasib. Padahal pengorbanan itulah yang mendatangkan popularitasnya di hari ini. Orang mendengar lagu-lagunya pasti lebih karena orang itu menyukai, bukan karena kuat membeli. Jika cuma pihak yang bisa membeli saja yang boleh mendengar, maka jumlah pendengar semacam itu pasti sedikit sekali. Lalu tidak akan ada penyanyi yang layak disebut legenda hidup, fenomena, superstar, mega bintang dan seterusnya, jika cuma bergantung pada pembeli asli.
Jumlah orang yang meyukai dan berdaya beli sekaligus mau membeli, sangat terbatas. Sementara jumlah orang yang menyukai, berdaya beli tetapi enggan membeli, lebih banyak lagi. Dan jumlah yang menyukai, tak berdaya beli tapi sebetulnya mau membeli, lebih banyak lagi. Sedang jumlah yang menyukai, tak berdaya beli, sekaligus enggan membeli, pasti yang terbanyak. Jadi kodrat sebuah barang seni itu khas: jumlah penggemarnya, selalu lebih banyak ketimbang jumlah pembeli. Karenanya seniman tak perlu cengeng soal ini. Tak perlu meratap ketika engkau menggemariku, tetapi kenapa engkau tidak membeliku.
Golongan kedua dan seterusnya itulah yang besar jumlahnya sekaligus besar jasanya dalam menempatkan seseorang sebagai legenda hidup, fenomena, megastar atau apapun sebutannya. Merekalah yang rela berduyun-duyun mendatangi konser, membentuk fans club, meminta tanda tangan, berteriak histeris, nyelonong tanpa karcis dan jika perlu dengan senang hati melakukan tawuran.
Jika syarat menjadi suporter bola selalu harus berdaya beli, lapangan bola tidak akan segegap gempita ini. Pertandingan bola menjadi penuh drama pasti bukan karena selalu uang sebagai modalanya, melainkan juga cukup dengan nekat saja. Itulah sejarah lahirnya bonek. Inilah orang yang berani naik kereta tanpa karcis, jajan tidak bayar dan jika kecewa bisa mengamuk sedemikian rupa. Ini sungguh sebuah kontribusi yang luar biasa dalam mengesankan sepak bola sebagai permainan mahal hingga pemainnya layak dibayar tinggi. Jika tak percaya lihatlah partai yang kena hukuman itu, yang bertanding tanpa boleh ditoton itu. Gol boleh terjadi setiap kali, tapi tanpa sorak-sorai, tanpak kembang api, betapa ia akan mati.
Jajan tidak bayar tetaplah kejahatan. Tetapi biarlah itu menjadi urusan polisi. Sepak bola tak harus berhenti cuma karena para bonek terus lahir tidap hari. Pembajakan tetaplah kejahatan tetapi tak berarti penyanyi harus menjadi bisu dan lupa menyanyi. Jika hukuman kepada para pembajak belum menentramkan hati, tenteramkanlah diri sendiri dengan cara seperti ini:
Jumlah terbesar pemuja karya seni itu adalah para pengemar, bukan pembeli. Tetapi karena pemuja itulah karya seni berharga tinggi. Jadi lepas dari kekeliruannya, jasa mereka besar sekali. Lalu bagaimana mungkin kepada pihak yang berjasa, seseorang malah bisa patah hati.
(Prie GS/)
Minggu, November 02, 2008
Tiga Hari untuk Limabelas Menit
Belum lama ini saya diundang bicara di luar pulau dengan dua kali penerbangan. Artinya perjalanan itu jauh sekali untuk ukuran cuma untuk bicara beberapa jam saja? Beberapa jam? Tidak. Karena jatuhnya malah cuma beberapa menit, tepatnya lima belas menit. Untuk waktu sesingkat itu saya butuh menghabiskan waktu tiga hari meninggalkan anak istri.
Bagaimana ini mungkin? Mungkin, karena inilah yang terjadi. Intinya adalah acara buka puasa bersama. Untuk mendengar ceramah saya, ada serangkaian acara pembuka. Pertama acara waktu molor, kedua musik pembuka, ketiga mengaji, keempat sambutan, kelima sambutan, keenam sambutan, ketujuh pembagian bingkisan, kedelapan foto bersama, kesembilan ceramah saya. Begitu saya naik panggung, bedug magrib tiba!
Ini bukan soal apakah saya kecewa atau bahagia. Kecewa, karena ada pembicara yang tidak kebagian waktu berbicara. Ini mestinya kesakitan profesional. Sudut pandang kecewa ini boleh saja saya pakai. Tetapi jika sudut itu saya geser, beda lagi persoalannya. Ia langsung menjadi sudut bahagia. Bagaimanapun, berbicara di depan publik bukanlah urusan mudah. Jika gagal, seminggu sakitnya masih terasa. Maka terhindar dari kesakitan tetapkah sebuah keberuntungan. Seperti petinju, tanpa bertanding, saya sudah mengantoni sabuk juara. Memang tidak memuaskan. Tapi menjadi juara, tetaplah juga keberuntungan. Sudut ini juga boleh saya pakai. Tetapi kedua-keduanya, malah batal saya pakai. Ada sudut pandang ketiga yang malah menggoda saya. Yakni menikmati saja seluruh perintah alam itu seperti apa maunya.
Dan inilah hasilnya: malah ada sesuatu yang menakjubkan saya di balik tradisi molor waktu itu. Sungguh, untuk punya kebiasaan ini, membutuhkan sikap mental yang seragam manusia seluruh Negara, karena molor waktu nyaris merata di sekujur negara. Ini sungguh tidak mudah. Sukses mengajari semua pihak untuk memiliki kebiasaan yang sama, adalah sukses yang mencengangkan. Ini sebetulnya keberhasilan besar kebudayaan yang dibentuk sekian lama, melewati mata rantai sosial yang rumit, untuk akhirnya sukses mengeram ke benak kita secara bersama-sama.
Saya belum tertarik bicara soal apakah molor waktu ini baik atau buruk, saya sedang bicara soal sistem sosial yang demikian berhasilnya membentuk watak bersama. Jika sistem sekuat ini dipakai ke arah yang sebaliknya, hasilnya tentu akan sama baiknya. Artinya, ada sistem yang demikian canggih sehingga membuat hasilnya selalu pasti: pasti molor waktu. Jika kecanggihan serupa dipakai untuk sebaliknya, hasilnya pasti juga sebaliknya: pasti tepat waktu. Perkara sistem itu sekarang masih dipakai untuk budaya molor waktu, ini soal teknis saja. Jika mau, ini soal pembalikan fokus saja. Jika seluruh benak kita dibalik, saya kira hasilnya juga akan terbalik.
Mendadak, sambil menunggu ceramah kehabisan waktu itu, saya menjadi semakin mencintai Negeri saya ini. Karena melihat Indonesia dengan rasa iba, sungguh membuat banyak persoalan terasa berbeda sama sekali. Di sebuah negeri molor waktu, adalah keliru jika mentang-mentang saya pembicara, lalu ingin bicara tepat waktu. Di sebuah negeri susah, adalah keliru jika kita ingin bergembira, sendirian pula. Di sebuah negeri penuh motor kreditan, keliru jika Anda gagah bermobil mewah, dan takut tergores pula. Mereka, yang sering kita sebut sebagai gangguan itu, adalah bagian dari hidup kita. Dan jangan-jangan seluruh persoalan itu, kita pula yang ikut menjadi penyebabnya. Sungguh tidak adil, menjadi seorang penyebab tanpa mau menanggung akibat. Maka seluruh dari persoalan hidup di Indonesia ini tak layak dikeluhkan karena ada unsur kita di dalamnya. Ia harus dihadapi, digembirai. Maka tak peduli seberapapun sempit waktu ceramah saya, saya melakukannya dengan gembira. Naik panggung, membuka cuma untuk menutup lalu makan bersama. Wuaaa… senangnya!
(Prie GS/)
Sabtu, November 01, 2008
Memindah Beban Pikiran
PERSOALAN sungguh serupa barang, jika kita tak ingin ia ada di tempatnya, cukup dipindahkan. Beban persoalan itulah yang belum lama ini saya pindah dari benak anak lelaki saya yang kehilangan tayangan kesukaannya. Tayangan itu diputar tepat ketika TV berlangganan kami dicabut izin siarnya karena sebuah persoalan.
Sementara tayangan itu baru akan diputar esok hari kesedihan anak saya sudah mulai di hari ini. Saya tahu perasaan pihak yang kecewa. Ia bisa terlihat remeh bagi pihak lain, tetapi tidak bagi yang menderita. Saya pernah menjadi anak-anak. Saat kami hendak pindah rumah misalnya, soal yang paling saya sedihkan adalah berpisah dengan teman-teman sepermainan dan layang-layang kesayangan. Saya menangis di setiap kesempatan. Hari ketika perpindahan itu tiba benar-benar menjadi hari yang menakutkan. Ketika orang-orang tahu apa yang saya tangisi ini ''hanya'' sekadar teman dan layang-layang, saya menjadi pusat cemoohan. Sakit sekali tetapi tak ada pihak yang mau mengerti.
Maka begitu saya melihat anak saya terluka karena kehilangan acara kesayangannya saya memutuskan untuk tidak menganggap soal ini sebagai sederhana. Di seluruh dunia, tak ada yang lebih penting dari acara televisinya. Tetapi untuk menyetujui bahwa sebuah acara televisi jauh lebih penting dari dunia seisinya, jelas sebuah kekeliruan. Saya tahu kekecewaan anak saya, tetapi saya juga tahu bahwa kekecewaan semacam itu tak perlu. Tetapi menyamakan persepsi kepala saya dan anak saya pasti tidak mudah.
Termudah adalah membentaknya. Tetapi sejarah telah membuktikan, bahwa cara termudah adalah sekaligus cara yang berbahaya. Anak-anak yang menurut karena bentakan, yang patuh karena ketakutan, adalah anak yang cuma memendam kemarahan diam-diam. Kemarahan itu akan terbakar jika waktunya tiba. Dan jika waktu itu baru datang tepat ketika orang tua sudah jompo sementara anak sedang gagah-gagahnya, itulah musibah terbesar dalam hidup. Saat itulah anak yang marah itu akan menunjukkan dengan amat jelas hasil bentakan yang ia terima selama ini.
Menjadi tua dan jompo sambil menjadi objek bentak-bentakan anak, jelas bukan masa tua yang saya ingini. Karenanya biarlah anak tahu, bahwa bapaknya lebih suka mengajaknya berdiskusi katimbang membentaknya. Pertama saya pahami kekecewan itu untuk kemudian ia saya ajak untuk memahami kenyataan di sekitarnya. Saya minta ibunya mendekat dan saya sarankan ia memandanginya. Kebetulan saya tahu kegemaran anak ini. Begitu dekat ibunya ia pasti akan segera menyambar begitu saja teteknya. Dan itulah kesempatan saya untuk membuat bandingan: ''Jika harus memilih, mana yang kamu kau pilih, acara televisi itu atau tetek ibumu?''
Dalam waktu singkat anak ini mengeri maksud saya. Ia segera berguling-guling memeluk ibunya. Dan saya katakan, ia tak cuma punya ibu, tetapi juga bapak yang hebat, ya saya ini. Terbukti gabungan antara bapak dan ibunya menghasilkan dia sebagai anak kami. Ia juga punya kakak perempuan yang menyayangi. Untuk memberi bukti saya panggil putri saya untuk memeluk adiknya. Jika seluruh bukti ini kurang, saya masih siap mengajaknya untuk membuka pintu. Kebetulan hari sedang hujan deras dan petir sedang merajalela. Saya minta anak-anak langsung melihat hujan dan betapa menjadi berharga menikmati kehangatan rumah. Saya meminta anak ini untuk memandangi rumahnya. Jika ini belum cukup saya meminta dia untuk meneliti seluruh mainannya. Banyak sekali jumlahnya dan seluruh barang itu, pada eranya, adalah barang-barang kesayangan.
Belum semua barang habis saya pertontonkan, tapi anak ini telah melupakan acara televisinya. Anak saya memang baru kelas empat SD. Tetapi di otaknya pasti telah tertanam kemampuan untuk membandingkan. Kemampuan itulah yang membuat anak-anak tak perlu dibentak untuk memahami keberuntungan!
(Prie GS/CN05)
Langgan:
Entri (Atom)





