Sabtu, Januari 17, 2009

Periode Gelap

Ada di dalam hidup ini sebuah etape gelap, sebuah tahapan yang saya tidak mengerti bahkan sekadar kepantasan diri sendiri. Di zaman SMA, saya pernah ditegur teman sekelas agar saat di panggung dan memetik gitar, tidak terlalu bergaya. ''Yang wajar saja,'' katanya.

Saya marah sekali pada teguran itu. Bukan karena kata-kata itu menyinggung perasaan, tetapi lebih pada bahwa ia ternyata menyatakan kebenaran. Saat itu belum musim dokumentasi video. Tapi agaknya saya tak memerlukan memutar rekaman diri sendiri untuk membuktikan kebenaran pernyataan teman ini.

Ternyata saya memang salah sangka. Apa yang saya anggap sebagai aksi itu ternyata adalah pemandangan yang memancing rasa iba. Padahal pentas musik itu sama sekali tak layak dinikmati kecuali oleh para pemainnya sendiri. Asyik cuma kepada diri sendiri inilah yang membuat saya bisa menderita penyakit norak tanpa terasa. Itulah periode gelap artistik.

Tetapi kegelapan itu ternyata tidak cuma soal artistik tetapi juga bisa gelap perilaku. Secara artitisk mungkin saya membaik dari waktru ke waktu. Kini saya memang telah terbiasa tampil di depan publik sebagai pembicara. Dari waktu ke waktu, rasanya makin mudah saja saya melakukan pekerjaan ini. Sering malah begitu mudahnya sehingga yang semula sekadar percaya diri bisa berubah menjadi keangkuhan tanpa terasa. Kepada pembicara yang saya anggap buruk mutu misalnya saya jadi tergoda untuk jumawa dan kepada pembicara yang sama pintarnya ia saya tatap dengan curiga, sementara kepada pihak yang lebih hebat langsung memunculkan kebencian saya.

Kegelapan perilaku itu amat berbahaya, karena bisa menuntun saya tersesat hingga demikian jauhnya. Inilah dunia yang penuh salah sangka kepada diri sendiri tepat untuk sola-soal yang begitu mendasar. Saya pernah menyangka bahwa apa yang saya kerjakan ini adalah kebaikan tanpa pamrih sehingga meletup-letuplah perasaan ini dengan segenap kebesaran.

Risikonya begitu kena kritik sedikit saja, langsung gelap pandangan saya. Cuma kritik saja telah membuat luka apalagi jika ada pihak yang jelas-jelas mencela. Langit benar-benar terasa hendak runtuh. Aduh, ada apa ini, semakin merasa banyak berbuat baik, kok malah semakin mudah membuat saya menderita! Pasti ada yang keliru dari kebaikan yang sedang saya kerjakan ini. Jangan-jangan saya kembalii salah sangka untuk kali berikutnya; menyangka yang saya kerjakan ini adalah perbuatan baik, padahal bisa jadi ia hanya pemenuhan ego semata.

Sering pula saya merasa sebagai pihak yang berprestasi. Semakin tinggi perasaan ini, semakin mudah saya merasa dihargai rendah. Jika saya pemain bola, saya akan menganggap pelatih yang menempatkan pemain sekualitas saya di bangku cadangan adalah pelatih gila. Jika saya karyawan kantor, fasilitas saya yang terima lalu terasa sangat tidak sepadan dengan apa yang telah saya berikan pada perusahaan. Jika saya pengusaha, saya merasa telah memberikan yang terbaik untuk negara. Telah membuka lapangan kerja dan mengentaskan banyak pengangguran. Ada banyak nyawa tergantung pada usaha saya. Maka kelewatan jika cuma mengemplang pajak sekali saja koran-koran begitu bersemangat menulis berita. Ini tidak adil.

Jadi agak aneh, semakin banyak jasa, semakin banyak memberi pertolongan kepada banyak manusia, malah semakin merasa mudah terluka. Ini pasti ada yang keliru. Dan sumber kekeliruan itu pasti berasal dari sebuah kegelapan yang mengaburkan pandangan untuk kemudian melahirkan tafsir yang macam-macam. Untuk itulah kenapa seseorang menyangka jemuran sebagai hantu, cuma gara-gara ia ada di kegelapan. Begitu berbahaya keadaan gelap itu karena hidup menjadi penuh purbasangka.

(Prie GS/cn09)