Di email saya datang pengumuman, karena keaktivannya email ini memenangi lotere sebesar 500 ribu pound. Email itu diundi secara acak dari jutaan email dan cuma memunculkan lima pemenang dengan saya sebagai salah satunya. Panitia, yang mengaku Microsoft Team yang berkedudukan di London, meminta seluruh data saya untuk diverifikasi dan dibuatkan sertifikat kemenangan.
Sertifikat ini oleh sebuah perusahan jasa kurir akan diantar dengan dua pilihan waktu: kilat atau biasa, sudah tentu dengan harga yang berbeda. Kenapa ongkos kirim untuk selembar kertas yang membutuhkan biaya ratusan dollar. Karena: "Jangan diukur berdasarkan berat objektifnya, tetapi dari berat 'berat dimensional'," kata panitia.
Terjemahan bebasnya mungkin: sebuah benda yang dimensinya tidak cuma kertas, tetapi juga kertas seharga 500 ribu pound. Karenannya mengirim cuma ratusan dolar untuk kemenangan sebanyak itu, apalah artinya. Tak lupa, panitia mengingatkan agar saya segera memenuhi tenggat pembayaran. Singkat waktunya, tak lebih dari dua hari. Jika tidak hadiah itu akan diberikan kepada peserta lain.
Saya sungguh melayani suarat ini dengan serius, karena saya melihat surat mereka juga serius. Saya mengirim seluruh data yang mereka minta. Begitu data terkirim, datang lagi jawaban mereka lengkap dengan gambar sertifikat kemenangan dengan nama saya. Saya sertakan juga bakan nomor HP saya sebagai bukti kesungguhan saya, sebagai balasan atas kesungguhan mereka. "Jangan segan-segan mengontak kami, jika Anda membutuhkan pertanyaan," pinta mereka. "Terima kasih. Juga jangan sungkan-sungkan menghubungi saya kapanpun Anda mau," jawab saya.
Jangankan panitia yang akan memberi saya hadiah, bahkan pendengar siaran saya, pembaca buku-buku saya, hampir semuanya dengan mudah saya beri nomor pribadi. Saya balas SMS mereka satu persatu sekuat saya. Saya jawab seluruh pertanyaan mereka jika saya bisa. Kadang melelahkan, tetapi saya bahagia melakukannya. Di antara para penanya yang sebagian besar adalah para pelajar dan mahasiswa itu, kelak pasti akan ada yang menjadi para pemimpin, orang-orang penting dan berkah bagi sesama. Ini semacam latihan tugas pelayanan, yang ketika saya kuat melakukan ternyata mendatangkan kegembiraan.
Jika anak-anak muda itupun saya layani, apalagi pihak yang akan memberi 500 ribu pound pada saya. Jumlah ini besar sekali. Saya bisa membangun rumah plus naik haji. Maka kepada mereka saya berlaku sebaik-baiknya. Tidak cuma saya balas surat-suratnya, tetapi juga saya katakana siapa saya secara panjang lebar. Bahwa saya ini seniman yang juga pernah duduk sebagai bendahara koperasi di RT saya. Kalau ada waktu mampirlah, toh alamat saya juga jelas. Bahwa anak saya yang bungsu sedang ulang tahun dan baru saja jadi siswa teladan di sekolahnya. Saya katakan bahwa meskipun uang hadiah itu amat besar untuk ukuran keluarga kami, tetapi kami tetaplah keluarga sederhana.
Kami sudah merasa cukup dengan yang ada, karena meskipun keadaan sedang dianggap susah, toh harga-harga sayur di depan rumah tetap murah. Lagipula kebutuhan kami juga itu-itu saja. Kesukaan kami sehari-hari masih seperti biasa: sayur sawi, sambal terasi, tempe goreng dan ikan asin. Maka lepas dari rasa bahagia kami karena akan mendapatkan 500 ribu pound, saya katakan kepada Panitia Microsoft Team, bahwa uang itu terlalu besar dan kami takut jika ia malah akan mengubah kesehatan mental kami. Maka dengan segenap permintaan maaf, saya meminta panitia untuk mengurus hadiah saya itu dan dengan tulus ikhlas saya meminta mereka agar sudi menyumbangkan saja seluruhnya kepada keluarga Bill Gates, sang pendiri Microsoft yang barangkali lebih membutuhkan.
Tapi surat saya yang terakhir ini tak lagi ada balasan. Padahal saya masih menunggu.
(/)





