AKHIR-AKHIR ini, kotaku sering mendapat kunjungan pejabat tinggi. Aneka spanduk dibentangkan, baliho, poster dan ucapan selamat datang bertebaran, petugas keamaaan ramai berdiri di pinggir-pinggir jalan. Di lapangan, panggung besar didirikan. Pidato dan hiburan dipertontonkan. Ramai itu, pasti. Tapi yang lebih pasti, kunjungan semacam itu pasti menghabiskan banyak uang.
Apakah arti kunjungan itu bagi rakyat sepertiku? Tak banyak, setidaknya untuk saat ini. Karena aku lebih membutuhkan perbaikan-perbaikan katimbang kunjungan-kunjungan. Diperbaiki tanpa dikunjungi jauh lebih menarik katimbang dikunjungi tanpa diperbaiki. Lagipula kunjungan semacam itu tak aku setujui dari berberapa segi.
Pertama, tentu soal biaya tadi. Karena aku mendengar sebelumnya, seorang pejabat tinggi lain yang berkata tentang betapa gede utang Indonesia. ''Rp 1.300 trilyun,'' katanya. Rp 700 trilyun di antaranya habis untuk membayar krisis, dibagi untuk menambal ambruknya dunia perbankan, rusaknya sektor keuangan dan utang PLN yang mencapai Rp 50 Trilyun. Tapi apapun rinciannya, ongkos krisis sebesar itu benar-benar telah membuat negara ini bangkrut. Maka kunjung-mengunjungi dengan panggung besar, upacara besar dan ritual-ritual mahal, tentu bukan cuma kegiatan kontra-produktif, tapi juga menghina deritaku, rakyat yang tengah menanggung krisis ini.
Kedua, kunjungan-kunjungan itu selalu membuat sibuk daerahku. Jujur saja, ketenanganku menjadi sangat terganggu. Aku jadi melihat keramaian yang menakutkan. Jalan-jalan macet dan para petugas kemanaan tiba-tiba menjadi tampak tegang dan garang. Jika aku seorang yang bermobil, aku terpaksa harus rela berhenti untuk memberi iring-iringan petinggi itu jalan. Jika aku bermotor, aku cuma bisa menahan pengap dan guyuran asap kendaraan. Jika aku penumpang angkutan, keadaanku akan lebih buruk lagi. Panas berdesakan. Dari keadaan yang menyiksa ini, aku hanya bisa menatap konvoi sang petinggi dengan cemburu dan iri.
Ketiga, aku sering melihat, kunjungan itu malah membuat sumber nafkah sebagian saudaraku terganggu. Karena watak kunjungan selalu membutuhkan kebersihan, ketertiban dan keamanan, tiga hal yang mestinya belum kita miliki dalam kualitas yang sesungguhnya. Maka segera disiapkanlah keadaan aman, tertib, dan bersih itu dalam semalam. Kemakamuran instan pun dicangkok hanya demi sebuah kunjungan. Isi kenyataan kita kemas dalam kardus, untuk kembali digelar setelah sang petinggi pergi.
Kenapa kita tak mengajari diri kita untuk kuat, kuat ditatap pemimpinnya seperti apa adanya. Kenapa kita tidak juga mengajari pemimpin itu kuat, kuat untuk menatap kita seperti apa adanya. Berbahaya sekali jika hubungan rakyat dan pemimpinnya adalah hubungan saling menipu. Siapa sebetulnya yang memulai, rakyat yang memang gemar menipu atau pemimpin yang gemar ditipu.
Keempat, kunjungan-kunjungan itu membingunkanku tentang beda petinggi negara dan petinggi golongan. Maka bendera-bendera yang berkibaran itu bisa menganggu mutu kepemilikanku atas pemimpinku. Sebagai rakyat, aku sungguh egois dan emoh dimadu!
Kelima, aku ingin mencitai pemimpinku dengan caraku sendiri. Kunjungan-kunjungan itu, setidaknya untuk saat ini, mengancam merusak selera cintaku. Pemimpin yang boros, yang tidak peka suasana hati, yang lebih suka berpikir tentang golongannya, sungguh bukan tipe pemimpin idolaku.
Maka, meskipun pemimpinku jauh, meskipun daerahku tak pernah dikunjungi, jika pemimpin itu terhindar dari watak-watak tadi, sungguh akan aku cintai. Gambarnya akan kupajang di dinding-dinding rumah dengan rasa hormat yang sesungguhnya. Aku percaya, untuk jatuh cinta, rakyat dan pemimpinnya tak perlu berdekatan. Karena kabaikan akan tetap terasa walau kita saling berjauhan. (03)
(PrieGS/)
Minggu, Mei 24, 2009
Bahasa dan Kelakuan Kita
KETIKA Taufik Hidayat memutuskan mundur dari PBSI, salah seorang pengurus organisasi itu berkata: ''Kita kehilangan pemain potensial.'' Benarkah pemain sekaliber Taufik cuma berderajat sebagai pemain potensial? Lalu apa beda Taufik dengan pemain kampung pemula? Bagaimana sebetulnya wartawan, komentator, pengurus PBSI, atau kita semua, pemakai bahasa di negeri ini harus membahasakan kemampuan Taufik dengan kata yang memadai?
Tabiat kita dalam berbahasa sering demikian aneh. Tabiat sebagai peragu dan plin-plan misalnya, akan tercermin dalam gaya ungkapan semacam ini: "Panggung pertunjukkan itu 'cukup megah'."
Tidak ada keraguan lagi jika kata "megah" pasti menggambarkan kebesaran, ketinggian, sangat lebar, sangat panjang. Untuk itulah ia mendapat sebutan megah. Ia pasti ukuran yang melebihi batas kewajaran. Jadi kata "cukup" itu sulit diterima nalar jika dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang lebih dari cukup. Kalau ia cuma cukup megah, berarti ia tidak megah lagi. Jadi bagaimana ya dan tidak dipaksa bersatu?
Tapi begitulah hobi kita. Maka dalam kehidupan sehari-hari, sikap kita cenderung tidak jelas. Gemar betul kita mengatakan cukup besar, cukup bijaksana, cukup cantik, cukup galak. Kenapa kita tidak bisa berterus terang mengatakan bahwa dia cantik, besar, galak, bijaksana.
Sedang ungkpan Taufik sebagai "pemain potensial" menggambarkan dua kemungkinan watak: sebagai pencemburu dan sebagai si pelit. Dua kebiasaan ini sangat berbahaya bagi kebahagiaan orang lain. Ia akan membuat orang merasa tak dihargai sebagaimana mestinya. Tidak ada anjuran untuk melebih-lebihkan kemampuan seseorang, tapi juga tak perlu mengkorup kehebatan seseorang.
Ada lagi gaya yang mecerminkan watak yang suka melebih-lebihkan kenyataan. Sekarang ini gampang sekali kita menyebut pengajian biasa sebagai akbar, tablik biasa sebagai akbar. Kata akbar yang biasanya dekat dengan Tuhan, telah dipindah ke manusia. Jadi ada manusia menyembah Tuhan sambil membesar-besarkan dirinya sendiri. Begitu juga ketika kita harus menyebut pemain film sebagai bintang. Wah, bintang yang tinggi itupun masih dianggap kurang tinggi. Ia masih harus ditambah dengan maha-bintang. Lagi-lagi sebutan yang sering dipakai untuk Tuhan sekarang cuma menjadi milik para pemain film. Sinetron pun tak mau ketinggalan. Apapun mutunya, ia boleh menambahkan kata mega di depannya.
Sedang watak kita sebagai bangsa yang bertele-tele dan sok mulia muncul dalam gaya berikut: untuk menyebut kata pembantu misalnya, kita harus repot-repot menggantinya sebagai pramuwisma, pelacur sebagai tunasusila. Kata bui yang pendek, padat dan praktis harus dipanjangkan sebagai penjara. Penjara ini pun masih kurang panjang karena diubah menjadi lembaga permasyarakatan.
Betul-betul pemborosan energi dan suku kata. Tapi lebih penting dari itu semua, kita gemar betul menutupi keburukan kelakuan ini dengan berlindung di bawah keindahan kata-kata. "Jika kelakuan buruk, minimal kita masih punya kata bagus untuk menutupinya," begitu kira-kira argumentasi kita. Buktinya gampang saja, apakah sikap kita pada pembantu, pada pelacur dan para brohmocorah telah sebagus kata-kata kita?
Untuk naluri hipokrit dan tak tahu diri bisa digambarkan lewat kebiasaan pidato-pidato resmi yang biasanya panjang, bertele-tele tapi miskin bobotnya. Padahal pidato itu hanya berperan sebagai pembuka saja. Sebagai pembuka, jahatlah kiranya jika ia harus berlama-lama. Tapi sudah begitu lama, di akhir sambutan masih juga ia sempat berkata: tidak bijaksana kiranya jika saya harus berpanjang kata...!
Lewat bahasa, sering demikian jelas mutu kelakuan kita. (03)
(PrieGS/)
Tabiat kita dalam berbahasa sering demikian aneh. Tabiat sebagai peragu dan plin-plan misalnya, akan tercermin dalam gaya ungkapan semacam ini: "Panggung pertunjukkan itu 'cukup megah'."
Tidak ada keraguan lagi jika kata "megah" pasti menggambarkan kebesaran, ketinggian, sangat lebar, sangat panjang. Untuk itulah ia mendapat sebutan megah. Ia pasti ukuran yang melebihi batas kewajaran. Jadi kata "cukup" itu sulit diterima nalar jika dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang lebih dari cukup. Kalau ia cuma cukup megah, berarti ia tidak megah lagi. Jadi bagaimana ya dan tidak dipaksa bersatu?
Tapi begitulah hobi kita. Maka dalam kehidupan sehari-hari, sikap kita cenderung tidak jelas. Gemar betul kita mengatakan cukup besar, cukup bijaksana, cukup cantik, cukup galak. Kenapa kita tidak bisa berterus terang mengatakan bahwa dia cantik, besar, galak, bijaksana.
Sedang ungkpan Taufik sebagai "pemain potensial" menggambarkan dua kemungkinan watak: sebagai pencemburu dan sebagai si pelit. Dua kebiasaan ini sangat berbahaya bagi kebahagiaan orang lain. Ia akan membuat orang merasa tak dihargai sebagaimana mestinya. Tidak ada anjuran untuk melebih-lebihkan kemampuan seseorang, tapi juga tak perlu mengkorup kehebatan seseorang.
Ada lagi gaya yang mecerminkan watak yang suka melebih-lebihkan kenyataan. Sekarang ini gampang sekali kita menyebut pengajian biasa sebagai akbar, tablik biasa sebagai akbar. Kata akbar yang biasanya dekat dengan Tuhan, telah dipindah ke manusia. Jadi ada manusia menyembah Tuhan sambil membesar-besarkan dirinya sendiri. Begitu juga ketika kita harus menyebut pemain film sebagai bintang. Wah, bintang yang tinggi itupun masih dianggap kurang tinggi. Ia masih harus ditambah dengan maha-bintang. Lagi-lagi sebutan yang sering dipakai untuk Tuhan sekarang cuma menjadi milik para pemain film. Sinetron pun tak mau ketinggalan. Apapun mutunya, ia boleh menambahkan kata mega di depannya.
Sedang watak kita sebagai bangsa yang bertele-tele dan sok mulia muncul dalam gaya berikut: untuk menyebut kata pembantu misalnya, kita harus repot-repot menggantinya sebagai pramuwisma, pelacur sebagai tunasusila. Kata bui yang pendek, padat dan praktis harus dipanjangkan sebagai penjara. Penjara ini pun masih kurang panjang karena diubah menjadi lembaga permasyarakatan.
Betul-betul pemborosan energi dan suku kata. Tapi lebih penting dari itu semua, kita gemar betul menutupi keburukan kelakuan ini dengan berlindung di bawah keindahan kata-kata. "Jika kelakuan buruk, minimal kita masih punya kata bagus untuk menutupinya," begitu kira-kira argumentasi kita. Buktinya gampang saja, apakah sikap kita pada pembantu, pada pelacur dan para brohmocorah telah sebagus kata-kata kita?
Untuk naluri hipokrit dan tak tahu diri bisa digambarkan lewat kebiasaan pidato-pidato resmi yang biasanya panjang, bertele-tele tapi miskin bobotnya. Padahal pidato itu hanya berperan sebagai pembuka saja. Sebagai pembuka, jahatlah kiranya jika ia harus berlama-lama. Tapi sudah begitu lama, di akhir sambutan masih juga ia sempat berkata: tidak bijaksana kiranya jika saya harus berpanjang kata...!
Lewat bahasa, sering demikian jelas mutu kelakuan kita. (03)
(PrieGS/)
Rabu, Mei 20, 2009
Dua Jam Sebelum Keberangkatan
Sebelum atlet berlaga, harus melakukan peregangan. Sebelum kendaraan diberangkatkan, mesin harus dipanaskan. Sebelum menulis sajak, penyair harus duduk dan terdiam. Maka sebelum berangkat kerja, manusia juga butuh kesiapan. Pemanasan mutlak hukumnya bagi sebuah pergerakan. Tetapi saya curiga, tidak semua kita yang hendak bekerja, berangkat dengan kesiapan. Maka kerja yang tidak siap itulah sumber aneka persoalan.
Hanya karena soal sederhana, seorang pekerja yang tidak siap, akan mudah terbakar kemarahan. Kalau ia seorang atasan: bawahan terlambat akan terasa sebagai hinaan. Dering telepon akan serasa gelegar petir dan klakson di jalan akan terasa seperti bentakan.
Jika ia seorang bawahan, maka ia akan tegang cuma deru mobil atasan. Ketika atasan memanggil ke ruangan, ia seperti hendak masuk arena uji nyali. Ketika atasan ia lihat untuk pertama kali, ia seperti melihat penampakan.
Cuma karena ketidaksiapan yang soal-soal sederhana menjadi begitu beratnya. Maka jika ingin kuat, bersiaplah! Begitulah cara saya menasihati diri sendiri. Nasihat ini butuh ditegaskan berulang-ulang, karena saya tahu benar siapa diri saya ini. Saya pasti bukan orang pemberani. Maka untuk berani saya pasti butuh kesiapan. Saya bukan orang yang selalu jujur. Maka untuk jujur, saya butuh latihan. Saya bukan orang ramah, maka agar bisa ramah, saya butuh kegembiraan. Berangkat setelah siap, itulah kata kuncinya. Kesiapan akan membuat kegembiraan. Dan kegembiraan akan mengalirkan bermacam-macam kekuatan. Kuat ramah, kuat jujur, kuat derma.
Sulit sekali untuk ramah jika hati kita tidak gembira. Sulit sekali berbuat jujur kalau hidup ini penuh persoalan. Sulit sekali kita berderma kalau hati sedang tidak rela meskipun sedang banyak uang di kantong kita. Kesiapan akan mudah memantik kegembiraan, kegembiraan mudah melahirkan kekuatan.
Dan kesiapan itu, sepanjang pengalaman saya, cuma butuh cara-cara sederhana, misalnya cukup dengan menyediakan waktu minimal dua jam sebelum keberangkatan. Karena setelah bangun tidur, untuk tenang, seseorang butuh terdiam, demi mengembalikan kesadaran, menata nafas dan pikiran, baru mengerjakan lain-lain persoalan. Mandi dengan tenang, minum kopi dengan tenang, dan maka pagi dengan tenang. Bahkan makan minum yang kehilangan ketenangan, cuma setara dengan memasukkan barang ke dalam keranjang.
Jika jarak antara tidur dan kerja itu cuma sekejap saja, saya tak bisa membayangkan mutu keberangkatan seperti apa yang ia dapatkan. Itulah kerja yang dibekali dengan mandi yang buru-buru, makan yang buru-buru, di jalan yang buru-buru dan semua soal yang berwatak buru-buru. Sepanjang yang saya tahu, tidak ada hasil bermutu dari sebuah proses yang buru-buru. Bahkan di jalanan pun, jika kita buru-buru, tak ada yang nikmat dari sebuah perjalanan kecuali siksaan.
Seluruh obyek di jalanan cuma seperti hambatan. Jika ada orang yang terlalu pelan, ia tampak seperti menggoda. Jika ada orang menyalip sembarangan ia seperti menantang. Dan siapapun yang sedang menghalangi jalan ia sah untuk disingkirkan. Seluruh isi jagat raya ini sepertinya tengah keliru cuma karena kita sedang buru-buru. Ada banyak mutu hidup yang kita pertaruhkan, cuma karena sebuah ketidaksiapan. Dan membangun kesiapan itu ternyata sederhana: cukup dimulai dengan kebiasaan bangun setidaknya dua jam sebelum keberangkatan. (Prie GS)
(Prie GS/)
Hanya karena soal sederhana, seorang pekerja yang tidak siap, akan mudah terbakar kemarahan. Kalau ia seorang atasan: bawahan terlambat akan terasa sebagai hinaan. Dering telepon akan serasa gelegar petir dan klakson di jalan akan terasa seperti bentakan.
Jika ia seorang bawahan, maka ia akan tegang cuma deru mobil atasan. Ketika atasan memanggil ke ruangan, ia seperti hendak masuk arena uji nyali. Ketika atasan ia lihat untuk pertama kali, ia seperti melihat penampakan.
Cuma karena ketidaksiapan yang soal-soal sederhana menjadi begitu beratnya. Maka jika ingin kuat, bersiaplah! Begitulah cara saya menasihati diri sendiri. Nasihat ini butuh ditegaskan berulang-ulang, karena saya tahu benar siapa diri saya ini. Saya pasti bukan orang pemberani. Maka untuk berani saya pasti butuh kesiapan. Saya bukan orang yang selalu jujur. Maka untuk jujur, saya butuh latihan. Saya bukan orang ramah, maka agar bisa ramah, saya butuh kegembiraan. Berangkat setelah siap, itulah kata kuncinya. Kesiapan akan membuat kegembiraan. Dan kegembiraan akan mengalirkan bermacam-macam kekuatan. Kuat ramah, kuat jujur, kuat derma.
Sulit sekali untuk ramah jika hati kita tidak gembira. Sulit sekali berbuat jujur kalau hidup ini penuh persoalan. Sulit sekali kita berderma kalau hati sedang tidak rela meskipun sedang banyak uang di kantong kita. Kesiapan akan mudah memantik kegembiraan, kegembiraan mudah melahirkan kekuatan.
Dan kesiapan itu, sepanjang pengalaman saya, cuma butuh cara-cara sederhana, misalnya cukup dengan menyediakan waktu minimal dua jam sebelum keberangkatan. Karena setelah bangun tidur, untuk tenang, seseorang butuh terdiam, demi mengembalikan kesadaran, menata nafas dan pikiran, baru mengerjakan lain-lain persoalan. Mandi dengan tenang, minum kopi dengan tenang, dan maka pagi dengan tenang. Bahkan makan minum yang kehilangan ketenangan, cuma setara dengan memasukkan barang ke dalam keranjang.
Jika jarak antara tidur dan kerja itu cuma sekejap saja, saya tak bisa membayangkan mutu keberangkatan seperti apa yang ia dapatkan. Itulah kerja yang dibekali dengan mandi yang buru-buru, makan yang buru-buru, di jalan yang buru-buru dan semua soal yang berwatak buru-buru. Sepanjang yang saya tahu, tidak ada hasil bermutu dari sebuah proses yang buru-buru. Bahkan di jalanan pun, jika kita buru-buru, tak ada yang nikmat dari sebuah perjalanan kecuali siksaan.
Seluruh obyek di jalanan cuma seperti hambatan. Jika ada orang yang terlalu pelan, ia tampak seperti menggoda. Jika ada orang menyalip sembarangan ia seperti menantang. Dan siapapun yang sedang menghalangi jalan ia sah untuk disingkirkan. Seluruh isi jagat raya ini sepertinya tengah keliru cuma karena kita sedang buru-buru. Ada banyak mutu hidup yang kita pertaruhkan, cuma karena sebuah ketidaksiapan. Dan membangun kesiapan itu ternyata sederhana: cukup dimulai dengan kebiasaan bangun setidaknya dua jam sebelum keberangkatan. (Prie GS)
(Prie GS/)
Senin, Mei 04, 2009
Orang Kalah
Saya pernah menjadi orang kalah. Bukan kekalahan besar, tetapi sekadar kekalahan dalam lomba vocal group di sekolah. Tapi karena main gitar masih menjadi sisi penting hidup saya, maka seluruh dunia ini rasanya tak ada yang lebih penting dari gitar. Jadi cukup hanya dengan kalah lomba vocal saya merasa dunia otomatis runtuh. Butuh berhari-hari bagi saya untuk berani keluar kamar kos dengan tenang. Rambut saya cukur pelontos, kuku jari saya potongi dan dua hari saya membolos. Untuk apa semua ini? Untuk marah dan protes pada keadaan.
Sementara keadaan yang saya protes itu ternyata tak menggubris protes saya. Matahari tetap muncul dan tenggelam seperti biasa. Hanya karena saya sedang sedih misalnya, matahari juga tidak otomatis mengucapkan belasungkawa, untuk mau sejenak terbit terbalik muncul dari barat dan tenggelam di timur. Ketika ini benar-benar terjadi tentu saya akan merasa gembira dan ditemani. Saat seluruh penduduk dunia kaget, mereka pasti bertanya-tanya, ada apa ini? "Ooo ini ada orang yang tinggal di sebuah kampung di ujung kota Semarang sana, namanya Prie GS sedang murung karena kalah lomba vocal group!"
Betapa senang kalau hal itu benar-benar terjadi. Tapi nyatanya tidak. Tak peduli apakah saya memangkas rambut atau sekalian memotong kepala karena kekalahan itu bakul-bakul di pasar tetap berjualan seperti biasa. Mereka sama sekali tidak pernah tahu kekalahan saya. Jangankan cuma kalah lomba, sekalipun vocal group itu tidak pernah ada di dunia, apa peduli mereka.
Pendek kata, sebetulnya tidak ada yang peduli dengan urusan kita, termasuk kekalahan, kemarahan, kejengkelan, kedengkian kita, kecuali diri kita sendiri. Kita terlalu serius pada urusan diri sendiri sementara orang lain juga pasti terlalu sibuk dengan urusan mereka. Maka menyangka bahwa mereka sibuk mengurus urusan kita termasuk kekalahan kita adalah sebuah kekeliruan. Tetapi keliru prasangka itulah yang diteruskan hingga hari ini.
Jika sebuah partai kalah, atau seorang caleg gagal misalnya, langit memang terasa runtuh. Tapi langit yang runtuh itu pasti cuma langit mereka. Langit yang asli masih baik-baik saja. Mereka merasa orang di seluruh dunia tengah menyorakinya. Padahal tidak. Jangankan untuk menyoraki, untuk menghafal nama-nama mereka saja warga dunia ini tak punya waktu. Tapi karena mereka menyangka kita semua ini tengah gembira melihat si kalah itu kecewa dan malu, tergeraklah si kekalahan itu untuk menyalahkan daftar pemilih bermasalah, mengobrak-abrik Kantor KPU sampai hendak memboikot hasil pemilu.
Padahal yang menyoraki kekalahan itu tidak ada. Kalau pun ada jumlahnya paling sedikit saja. Penyorak terbesar pasti diri kita sendiri. Untuk itulah kenapa kita butuh menyalahkan dunia seisinya untuk sakit hati atas kekalahan ini.
Ketika saya kalah lomba itu, tak pernah terlintas sekalipun di pikiran saya untuk menyalahkan diri sendiri, untuk mengakui kemenangan lawan dan untuk menghargai keputusan dewan juri. Ketika saya sedang kalah itu yang muncul adalah tudingan yang seluruhnya mengarah ke pihak lain. Itu juri pasti kena suap, itu si pemenang pasti cuma beruntung, atau itu penontonnya pasti goblok semua. Sama sekali tak peanh saya pikir bahwa kekalahan saya itu karena mutu permainan gitar saya yang jelek dan lagu saya yang buruk mutunya.
Jika partai saya kalah dan saya adalah caleg gagal, sulit untuk menghentikan sumber kekalahan itu cukup di satu soal saja: yakni karena saya memang benar-benar tak disukai massa. Menjadi kalah adalah saatnya untuk mengada-ada. Namanya juga mengada-ada, ia pasti mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
(Prie GS/)
Sementara keadaan yang saya protes itu ternyata tak menggubris protes saya. Matahari tetap muncul dan tenggelam seperti biasa. Hanya karena saya sedang sedih misalnya, matahari juga tidak otomatis mengucapkan belasungkawa, untuk mau sejenak terbit terbalik muncul dari barat dan tenggelam di timur. Ketika ini benar-benar terjadi tentu saya akan merasa gembira dan ditemani. Saat seluruh penduduk dunia kaget, mereka pasti bertanya-tanya, ada apa ini? "Ooo ini ada orang yang tinggal di sebuah kampung di ujung kota Semarang sana, namanya Prie GS sedang murung karena kalah lomba vocal group!"
Betapa senang kalau hal itu benar-benar terjadi. Tapi nyatanya tidak. Tak peduli apakah saya memangkas rambut atau sekalian memotong kepala karena kekalahan itu bakul-bakul di pasar tetap berjualan seperti biasa. Mereka sama sekali tidak pernah tahu kekalahan saya. Jangankan cuma kalah lomba, sekalipun vocal group itu tidak pernah ada di dunia, apa peduli mereka.
Pendek kata, sebetulnya tidak ada yang peduli dengan urusan kita, termasuk kekalahan, kemarahan, kejengkelan, kedengkian kita, kecuali diri kita sendiri. Kita terlalu serius pada urusan diri sendiri sementara orang lain juga pasti terlalu sibuk dengan urusan mereka. Maka menyangka bahwa mereka sibuk mengurus urusan kita termasuk kekalahan kita adalah sebuah kekeliruan. Tetapi keliru prasangka itulah yang diteruskan hingga hari ini.
Jika sebuah partai kalah, atau seorang caleg gagal misalnya, langit memang terasa runtuh. Tapi langit yang runtuh itu pasti cuma langit mereka. Langit yang asli masih baik-baik saja. Mereka merasa orang di seluruh dunia tengah menyorakinya. Padahal tidak. Jangankan untuk menyoraki, untuk menghafal nama-nama mereka saja warga dunia ini tak punya waktu. Tapi karena mereka menyangka kita semua ini tengah gembira melihat si kalah itu kecewa dan malu, tergeraklah si kekalahan itu untuk menyalahkan daftar pemilih bermasalah, mengobrak-abrik Kantor KPU sampai hendak memboikot hasil pemilu.
Padahal yang menyoraki kekalahan itu tidak ada. Kalau pun ada jumlahnya paling sedikit saja. Penyorak terbesar pasti diri kita sendiri. Untuk itulah kenapa kita butuh menyalahkan dunia seisinya untuk sakit hati atas kekalahan ini.
Ketika saya kalah lomba itu, tak pernah terlintas sekalipun di pikiran saya untuk menyalahkan diri sendiri, untuk mengakui kemenangan lawan dan untuk menghargai keputusan dewan juri. Ketika saya sedang kalah itu yang muncul adalah tudingan yang seluruhnya mengarah ke pihak lain. Itu juri pasti kena suap, itu si pemenang pasti cuma beruntung, atau itu penontonnya pasti goblok semua. Sama sekali tak peanh saya pikir bahwa kekalahan saya itu karena mutu permainan gitar saya yang jelek dan lagu saya yang buruk mutunya.
Jika partai saya kalah dan saya adalah caleg gagal, sulit untuk menghentikan sumber kekalahan itu cukup di satu soal saja: yakni karena saya memang benar-benar tak disukai massa. Menjadi kalah adalah saatnya untuk mengada-ada. Namanya juga mengada-ada, ia pasti mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
(Prie GS/)
Langgan:
Entri (Atom)





