Senin, September 14, 2009

Belajar dari Kecerdasan Malaysia

Masih mengingat Amy Search yang melambung gara-gara “Isabella”? Atau masih pula mengingat betapa jadi meriahnya dunia musik kita gara-gara masuknya penyanyi Negeri Jiran, Siti Nurhaliza, dengan lagunya “Betapa Kucinta Padamu” dulu itu?
Boleh dibilang itu adalah invasi Malaysia ke tanah kita. Invasi yang tak membahayakan, karena apa sih yang bisa membahayakan dari sebuah karya seni itu?
Dan lagi, invasi itu hanya dilakukan oleh segelintir musikus saja. Puncaknya? Ya hanya Siti Nurhaliza itu saja. Invasi yang terbatas, sehingga industri musik kita pun tak pantas panas.

Namun beda dengan apa yang dialami oleh negara tetangga kita itu. Ternyata tanpa pernah kita sadari bersama-sama, para musikus kita sudah mengancam industri musik mereka. Beberapa waktu lalu, ada selentingan menguar bahwa pemerintah Malaysia akan membatasi masuknya musik-musik Indonesia ke wilayah mereka. Hal ini bisa terjadi berdasar pada kenyataan yang memang mengenaskan, bahwa produksi musik lokal mereka turun dari tahun ke tahun gara-gara invasi musikus kita. Bila di tahun 1996 keuntungan pasar musik lokal bisa mencapai 945 milliar (dalam rupiah), tahun 2008 ini hanya mencapai 180 milliar saja.

Pemusik lokal tak digemari di sana. Publik Malaysia lebih memilih untuk mendengarkan lagu-lagu kita, seperti Radja, Ratu, Dewa, atau Peterpan. Musik asal Indonesia mendominasi radio juga televisi Malaysia. Bahkan prosentase yang ada, musik Indonesia mengambil jatah hingga 75 % di sana.

Pemerintah berencana membatasi dan mencekal, dan persatuan radio swasta mereka pun resah. Bagaimana tak resah? Bila hanya lagu-lagu Indonesia saja yang laku di sana?

Proses pencekalan sebenarnya sudah terjadi sangat lama. Apapun yang asalnya dari Indonesia, dalam hal ini tentu saja menyoal karya seni, akan terkena cekal bila terlalu mendominasi. Pada 5 Desember 2007 pementasan barongan pernah kena cekal, tak diperbolehkan lagi unjuk gigi di event-event resmi. Lantas di jalur musik, Ratu dan Sheila on 7 pun pernah dilarang masuk lagi kesana. Alasannya? Sheila on 7 dan Ratu dianggap tak santun karena menggunakan kata-kata yang seronok untuk judul hit singlenya.

Cekal demi cekal terus berlanjut. Gejolak pun tentu saja ada. Di berbagai bilik chat, komentar pedas melayang menyayangkan keputusan pemerintah Malaysia.

Terus bagaimana dengan musisi kita? Mereka ternyata tak terlalu terusik. Rossa yang lagu-lagunya laku keras di sana memang menyayangkan. Namun D’Massive, band yang tengah naik daun dan dielu-elukan publik Malaysia menanggapi semuanya dengan santai.

“Kita sih santai saja. Tanggal 17-19 Oktober nanti kita juga mau konser di situ kok,” ujar Rian sang vokalis saat ditemui di Blok M Plaza, Jakarta Selatan, Rabu (10/9) malam.

Begitu pula dengan Ebiet G. Ade.“Saya pikir penyanyi kita tidak dirugikan dengan adanya pembatasan itu, sebab selama ini mereka ke sana juga hanya sebagai sambilan saja, omzetnya tentu saja lebih besar yang di dalam negeri.” begitu jelasnya.

Bila proses pembatasan masuknya musik Indonesia akhirnya memang jadi dilaksanakan, Malaysia memang terkesan tak adil. Toh kita sendiri juga tak pernah membatasi masuknya karya seni mereka ke Tanah Air. Bahkan Siti Nurhaliza pun malah dielu-elukan dengan gegap gempita di sini.

Menyikapinya, bolehlah kita jadi menghujat, namun akan lebih baik lagi bila kita juga jadi bercermin. Belajar dari sikap pemerintah Malaysia itu, yang sebenarnya hanya mencoba untuk melindungi seni dalam negerinya sendiri, hanya terlalu mencintai budaya ciptaan sendiri saja. Bila kita bisa bersikap sama, tapi tentu saja dengan implementasi yang lebih cerdas ketimbang membetot paksa telinga masyarakat seperti yang dilakukan oleh Malaysia itu, mungkin saja kebudayaan-kebudayaan serta pulau-pulau kita tak lagi akan terampas di masa yang akan datang.

Kamis, September 03, 2009

Gelandangan yang Bangun Siang

Manusia Indonesia perlu belajar tidur pada gelandangan yang pernah saya lihat di suatu hari ini. Hari telah berangkat siang, tapi gelandangan itu, laki-laki, bisa tidur nyaman di trotoar jalan. Seperti mati, tak peduli panas yang menyengat, tak cemas bahaya dan abai pada gangguan pejalan kaki.

Diramalkan, wabah sulit tidur atau insomnia akan makin melanda manusia Indonesia. Bensin baru saja turun puluhan rupiah tapi mendadak bisa naik lagi ratusan rupiah. Bagi bensin, penurunannya, meski besar, sering tak berarti apa-apa. Ia tak otomatis sanggup menurunkan harga-harga. Apalagi jika penurunan itu kecil saja. Bagi bensin, kenaikannya, meski kecil, hebat sekali pengaruhnya karena harga-harga akan langsung menggila. Apalagi jika kenaikan itu besar jumlahnya. Maka betapa mahal ongkos mental masyarakat Indonesia jika setiap kali cuma dikocok demikian rupa.

Sementara bensin belum usai membuat huru-hara, di jalan-jalan, angkutan kota ramai-ramai berunjuk rasa lantaran omprengan liar merajelala. Jalan raya makin menjadi modus berbagai kejahatan, pemalakan, kecelakaan, kemacetan...

Pada saat yang sama pula tersiar kabar tentang aparat sibuk menembaki sesamanya. Perang antarkesatuan menjadi barang biasa. Begitu berat tugas aparat saat ini. Selain masih terus menghadapi gelombang kerusuhan dan demonstrasi mereka juga harus berperang melawan diri sendiri.

Prajurit rendah sibuk gelisah mengatasi kemiskinan yang melilitnya. Sementara di atasnya, ada jenderal yang terang-terangan mengaku sudah lama kaya karena ''saya pernah menjabat di mana-mana,'' katanya.

Kabar yang lain menyebut tentang betapa tidak gampang sekarang ini mempercayai manusia. Terbukti di sebuah pemerintah kota perlu mengetes air kencing ratusan pejabatnya, ee barangkali ada bau narkoba.

Tes semacam ini sungguh keterlaluan ditilik dari beberapa segi. Pertama betapa tak cukup sekarang ini mempercayai pejabat cuma lewat kebesaran kantornya, lewat jenis jabatannya, prestasi kerjanya, tingah lakunya, keadaan keluarganya, nilai ijasahnya, sejarah mesa kecilnya...

Meski sudah panjang fakta seseorang kita kumpulkan, toh tak juga membuat kita gampang percaya hingga kita masih membutuhkan air kencingnya. Jika semua itu pun belum cukup, kita bisa mengobrak-abrik seluruh organ tubuh seseorang baru kita bisa mempercayai mereka.

Daftar ini pun belum lagi diperkeruh dengan maraknya isu suap di kalangan anggota dewan. Tentang betapa keren jas mereka, betapa besar sabetannya, mobil mewahnya. Belum pula tentang tentang satgas partai yang menggeruduk sebuah hotel, memecahi kaca mobil dan menganiaya anggota partainya sendiri. Belum lagi ditambah dengan rencana sebuah kabupatan yang hendak menggelar pentas poco-poco akbar dengan ratusan ribu penari. Anak-anak sekolah di desa-desa, guru, lurah, camat, pegawai negari semua dikerahkan untuk proyek ambisius ini.

Mereka akan menari di sepanjang jalan yang ditutup sementara. Mereka akan berduyun-duyun, harus berseragam, harus tidak boleh telat... demi tujuan mulia: masuk Museum Rekor Indonesia.

Pendek kata, akan makin banyak persoalan yang membuat manusia Indonesia akan makin susah tidur. Dalam keadaan semacam ini, maka kualitas tidur gelandangan di atas adalah sesuatu yang bikin iri. Tidur seperti mati, seperti bayi. Dan hanya orang-orang yang punya sedikit beban dan persoalan saja bisa tidur sehebat ini. Tapi alangkah celaka jika untuk bisa tidur nyenyak, manusia Indonesia harus lebih dulu menjadi gelandangan.

(PrieGS/)